Rabu, 20 Januari 2021

Tito: Pengusaha Nonpribumi dan Muslim Perlu Berkolaborasi

Tito: Pengusaha Nonpribumi dan Muslim Perlu Berkolaborasi

Jakarta, Swamedium.com – Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian melontarkan wacana perlunya kolaborasi antara para konglomerat Indonesia dengan pengusaha pribumi muslim. Kolaborasi itu diyakininya bakal menghilangkan dikotomi antara pebgusaha nonpribumi versus pengusaha muslim akibat kesenjangan ekonomi.

Banner Iklan Swamedium

Hal itu disampaikan Tito ketika menyampaikan orasi ilmiah dalam acara pelantikan pengurus Badan Koordinasi HMI Sumatera Bagian Selatan di Gedung Keratun Kompleks Pemerintah Provinsi Lampung, Bandar Lampung, Jum’at (7/4/2017) malam.

Menurut Tito, munculnya gagasan tersebut dilatarbelakangi hasil diskusi antara dia dengan para tokoh MUI seperti Din Syamsudin, Didin Hafidudin, dan Zaitun Rasmin.

Kondisi objektf Indonesia saat ini, menurut Tito, memerlukan sokongan investasi dari sektor swasta dalam negeri maupun penanaman modal asing. Hal itu mutlak diperlukan karena untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen tidak cukup hanya mengandalkan APBN.

Berdasarkan catatan majalah Forbes, lanjut dia, 100 orang terkaya di Indonesia atau yang sering disebut konglomerat itu sebagian besar adalah warga keturunan Tionghoa. Kontribusi mereka dalam bentuk investasi dalam negeri harus diberi ruang agar mereka tidak mengarahkan modalnya ke luar negeri.

Namun demikian, untuk mewujudkan pembangunan ekonomi yang berkeadilan, perlu mengakomodir kepentingan para pemegang kapital tersebut sekaligus menguntungkan masyarakat lokal, rakyat kecil, ekonomi kerakyatan dan terutama masyarakat yang dominan muslim.

“Duit konglomerat jangan dibawa ke luar negeri, investasikan saja di dalam negeri tapi untungnya jangan dimakan sendiri, kalau bisa mesti berkolaborasi dengan pengusaha muslim,” kata Tito.

Dikotomi
Kolaborasi tersebut, kata Tito, sekaligus bisa menghapus persepsi adanya dikotomi antara pengusaha nonpribumi versus pengusaha muslim. Gagasan soal perlunya dialog antara konglomerat dan pengusaha muslim tesebut kemudian disampaikan Tito kepada Presiden Jokowi dan mendapat respon yang positif.

“Presiden bilang itu ide bagus dan berencana akan mengumpulkan mereka. Saya masih nunggu jawaban dari Pak Din. Beliau saya minta mengumpulkan tokoh-tokoh pengusaha muslim, kira-kira bentuknya seperti apa. Kemaren saya bilang juga ke Pak Bachtiar Nasir coba ini dipikirkan, jangan demo aja, kita harus cari jalan keluar ini,” kata Tito.

Pada kesempatan itu, Tito menekankan pentingnya menjaga stabilitas politik dan kamanan untuk menopang terwujudnya pertumbuhan ekonomi yang stabil di atas 5 persen. Dia kembali mengutip laporan Price Waterhouse Coopers (PWC) baru-baru ini yang memprediksi Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi nomor 5 di dunia pada tahun 2030 dan akan menjadi nomor 4 pada tahun 2050 di bawah China, India, dan Amerika Serikat. (Baca: Ini Laporan PWC Soal Ranking Negara Terkuat Dunia 2050)

Selain Kapolri, acara Pelantikan Badko HMI Sumbagsel ini juga dihadiri sejumlah tokoh antara lain Gubernur Lampung Ridho Ficardo, Kabaharkam Komjen Pol Putut Eko Bayuseno, Kadiv Humas Irjen Pol Boy Rafli Amar, Kapolda Lampung Irjen Sudjarno, mantan anggota DPR RI Bursah Zarnubi, praktisi hukum Ari Yusuf Amir, Ketum PB HMI Mulyadi Tamsir dan sejumlah senior HMI Lampung. Hadir juga alumni HMI yang berasal dari pemerintahan di Lampung seperti Wakil Gubernur Lampung Bachtiar Basri dan Bupati Tulang Bawang Barat Umar Ahma. (*)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita