Jumat, 14 Mei 2021

Pengusaha Muslim Ajak Umat Islam Lakukan Jihad Ekonomi

Pengusaha Muslim Ajak Umat Islam Lakukan Jihad Ekonomi

Foto: Obrolan Aktual Seputar Kebangsaan (Oase Bangsa) diadakan Radio Suara Muslim Network di Hotel Mirama, Surabaya, Rabu (12/4). (Yetty/swamedium)

Surabaya, Swamedium.com – Radio Suara Muslim Network 93,8 FM Surabaya mengadakan Obrolan Aktual Seputar Kebangsaan (Oase Bangsa) yang dihadiri oleh mayoritas Pengusaha Muslim di Surabaya.

Banner Iklan Swamedium

Obrolan tersebut berlangsung sangat cair dan membaur antara pengisi acara dengan peserta yang hadir dalam acara yang bertajuk “Jihad Ekonomi”. Acara diselenggarakan di Hotel Mercure Grand Mirama, Surabaya, Rabu (12/4).

Pemimpin Gerakan Beli Indonesia yang juga pengusaha Dr. Heppy Trenggono, mengatakan
berawal dari sebuah momentum besar yang terjadi di Indonesia yaitu “Aksi Bela Islam 212”, telah membangkitkan ghirah umat Islam untuk berjihad.

“Jihad yang dimaksud adalah jihad ekonomi. Namun, apakah umat Islam sudah melakukannya secara keseluruhan dan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari- hari?,” tanya dia.

Menurutnya, hal ini belum disadari oleh seluruh masyarakat, bahwasannya kita sebagai umat Islam tentu saja bisa bangkit dengan menumbuhkan perekonomian umat dengan cara membeli produk- produk milik muslim serta tidak bergantung dengan produk- produk kaum non muslim.

“Jika ini tidak ditumbuhkan maka, akan menjadi permasalahan yang luar biasa,” tandasnya.

Foto: Obrolan Aktual Seputar Kebangsaan (Oase Bangsa) dengan tema “Jihad Ekonomi”. (Yetty/swamedium)

Heppy menduga, permasalahan yang terjadi di Indonesia seringkali dipicu oleh beberapa hal, satu diantaranya yaitu faktor dari multikultur dan berbagai karakter yang ada pada masyarakat yang beragam.

“Hal inilah yang seringkali menjadi tantangan buat para pemimpin untuk bisa menyatukan masyarakat untuk saling bersinergi dalam hal perekonomian bangsa. Itu kenapa, umat Islam diminta untuk bangkit dan jihad dalam bidang ekonomi,’ tukas dia.

Selama ini kita ketahui, bahwa semua perekonomian yang ada di Indonesia hampir dikuasai oleh kaum non muslim.

“Dengan diiming- iming berbagai produk yang murah dan berkualitas, maka tanpa kita sadari ini akan semakin memperkaya kaum non muslim dalam menguasai Indonesia. Sehingga menimbulkan ketergantungan umat muslim untuk menggunakan produk- produk yang seharusnya bisa kita ciptakan sendiri,” ungkap Heppy.

“Kalau hari ini umat Islam miskin, itu dikarenakan tidak memiliki mental kaya dan tidak membangun mental kaya”, imbuhnya.

Dr. Heppy Trenggono juga menuturkan, “Indonesia akan berubah jika shadaqah datang dari seorang presiden yang bertaqwa. Sebagaimana presiden pertama Soekarno pernah berpesan, Mandat masyarakat kepada saya hanya satu yaitu character buliding.”

Inilah alasannya, mengapa jihad ekonomi harus dilakukan karena mengingat pentingnya membangun karakter kaya dari umat muslim.

“Apa sih karakter kaya itu? Karakter kaya adalah dengan membiasakan diri kita dan anak- anak kita untuk berjualan sejak dini agar bisa menjadi pengusaha.” ujar Heppy.

Dia juga menambahkan, “Jangan sampai kita menunggu momentum, dan terjadinya penistaan agama, baru ada kebangkitan.”

“Ternyata saya bisa merasakan sendiri dampak dari kebangkitan umat ini, awal peluncuran roti Maidah saya pesimis akan ada yang membeli, namun tidak disangka bahwa ternyata pesanan roti Maidah sangat membludak dan banyak peminatnya terutama umat Muslim saat ini.”, ujar salah satu peserta.

Dr. Heppy Trenggono mengatakan, kebangkitan ekonomi umat Islam bisa diwujudkan dengan gerakan ideologis atau membeli produk sendiri. Karena pada dasarnya prinsip- prinsip yang harus ditekankan pada jihad ekonomi ini adalah dengan menggunakan produk- produk umat Islam, mengurangi produk impor tetapi dengan tidak mengesampingkan harga yang relatif lebih murah agar bisa bersaing dengan produk- produk kafir dengan begitu akan lebih mudah dijangkau oleh masyarakat menengah ke bawah. (yty/jurnalis warga)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita