Minggu, 25 Juli 2021

Utang Negara Saat Ini Sangat Mengkhawatirkan

Utang Negara Saat Ini Sangat Mengkhawatirkan

Foto: Ilustrasi utang negara. (ist)

Jakarta, Swamedium.com — Semangat membangun infrastruktur dan program kesejahteraan rakyat yang sedang digalakan pemerintah nantinya akan menghadapi berbagai macam masalah.

Banner Iklan Swamedium

Sebab, pemasukan dari target amnesti pajak meleset juga utang pemerintah masih tinggi hal itu bisa mengguncang keuangan negara.

Penegasan tersebut disampaikan Anggota Komisi XI DPR RI Heri Gunawan dalam rilisnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (12/4).

“Jika stabililitas fiskal ditempuh lewat utang, maka itu sama saja tidak menyehatkan fiskal. Cara-cara berutang melahirkan ancaman guncangan keuangan,” ujarnya.

Dirinya mengimbau, Pemerintah harus tegas menerapkan sistem kriteria proyek yang boleh dibiayai oleh hutang. Agar kita mampu mengembalikan beban hutang berserta bunga dan cicilan hutang.

Saat ini, beban pembayaran bunga utang telah mencapai Rp 221,2 triliun pada tahun 2017. Sementara target pendapatan yang terlalu tinggi dan kurang diyakini ketercapaiannya bisa menimbulkan risiko defisit yang melebar.

Di sisi lain, penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang kredibel tidak bisa lewat penerbitan Surat Berharga Negara (SBN).

Gemuknya SBN untuk membiayai defisit semakin memberi ancaman baru. Kontribusi SBN terhadap total pembiayaan utang, sambung Heri, rata-rata mencapai 101,8 persen per tahun dan terhadap total pembiayaan anggaran mencapai 103,3 persen per tahun (APBN 2017). Kecanduan yang berlebih terhadap SBN sudah pasti akan meningkatkan risiko fiskal.

Apalagi kepemilikan SBN oleh asing per September mencapai 39,2 persen. Anggota F-Gerindra ini, mengkhawatirkan risiko ancaman pembalikan dana secara tiba-tiba dan dalam jumlah besar yang berdampak sistemik.

“Pemerintah harus tetap konsisten dan fokus untuk proyek-proyek strategis nasional. Idealnya anggaran tidak lagi berbasis fungsi atau money follow function. Namun, berorientasi pada program yang memberi manfaat langsung atau money follow program,” tutur dia.

Menurut Heri, pemerintah harus menghadirkan solusi atas jeratan defisit anggaran yang kini makin menganga lewat kebijakan fiskal yang kredibel.

“Ironisnya, dalam kurun lima tahun terakhir, realisasi defisit anggaran cenderung meningkat. Penyebabnya, rata-rata realisasi belanja tumbuh di kisaran 5 persen, sementara realisasi pendapatan negara hanya tumbuh kisaran 3 persen,” keluhnya. (JM)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita