Selasa, 29 September 2020

Mahasiswi Indonesia Menerima Perlakuan Tak Menyenangkan di Roma Italia

Mahasiswi Indonesia Menerima Perlakuan Tak Menyenangkan di Roma Italia

Jakarta, Swamedium.com — Seorang mahasiswi asal Indonesia, Aghnia Adzkia
mengalami peristiwa yang tidak mengenakkan saat pergi berlibur ke Roma, Italia.

Perlakuan petugas bandara Ciampino, Roma, Italia ketika akan kembali ke London, di mana dirinya menjalani kuliah, membuatnya merasa tidak nyaman. Para petugas di bandara memaksa dirinya untuk melepas jilbab yang dikenakannya.

Eks jurnalis CNN Indonesia yang kini menempuh studi master Digital Journalism di Goldsmiths, University of London menolak permintaan petugas bandara. Menurutnya tidak ada aturan yang menyebutkan seseorang untuk diperiksa dengan membuka penutup kepala.

Namun pada saat bersamaan, dia melihat dua biarawati melenggang tanpa diperiksa. Berikut curahan hati Aghnia Adzkia yang ditulis dalam akun facebook miliknya, Jumat (14/4),

“SAYA HIJABER MUSLIM, BUKAN SEORANG TERORIS!

Saya sangat terkejut mengalami bagaimana petugas keamanan bandara Italia di Roma Ciampino memperlakukan saya dengan angkuh, meminta saya melepaskan jilbab sebagai pemeriksaan keamanan saat saya akan melakukan penerbangan ke London pada Minggu.

“Kenapa saya harus melepas jilbab?” tanya saya. Mereka menjawab untuk alasan keamanan. Akan tetapi saya tidak siap untuk memercayai mereka kecuali mereka memperlihatkan undang-undang atau memperlihatkan dokumen legal kepada saya sebagai bukti berkas itu memberikan otoritas pada mereka untuk melihat apa yang berada di balik jilbab saya. Untuk memastikan, mereka meminta saya mengikuti seorang wanita ke sebuah kamar khusus untuk melihat jilbab saya. Tetapi bagi saya, ini bukan sekadar saya ingin memperlihatkan kepala/rambut saya atau tidak (meskipun di depan seorang wanita). Ini di luar itu: Itu soal martabat manusia dan hak-haknya. Untuk alasan apa hingga mereka meminta saya melepas jilbab saya?

Saya memperdebatkan itu dengan petugas keamanan wanita atas aturan itu dan dia memperlihatkan saya sebuah tulisan berbahasa Italia di mana saya tidak memahaminya. Alih-alih menerjemahkannya untuk saya, dia tetap memaksa saya agar pergi ke ruangan khusus untuk pemeriksaan. Saya minta petugas keamanan untuk memperlihatkannya pada teman Italia saya agar membacakannya, karena saya lebih percaya dia. Petugas itu menolak dan meminta rekannya untuk menyeret saya dari petugas. Sata tidak punya satu menit pun untuk menghubungi teman saya untuk menerjemahkan berkas itu.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.