Selasa, 26 Januari 2021

Dinilai Politik Uang, Djarot ‘Bedah Rumah’ Warga Cilincing Di Masa Tenang

Dinilai Politik Uang, Djarot ‘Bedah Rumah’ Warga Cilincing Di Masa Tenang

Foto: bedah rumah oleh Pemprov DKI yang dinilai bentuk dari politik uang pilkada DKI. (Dipo/swamedium)

Jakarta, Swamedium.com – Di masa tenang menjelang pilkada DKI putaran kedua pada 19 April lusa, kubu petahana masih saja melakukan aktifitas untuk mendapatkan simpati warga termasuk membedah rumah (renovasi rumah) warga di kawasan Cilincing, Jakarta Utara, Senin (17/4).

Banner Iklan Swamedium

Wakil Gubernur DKI Djarot Saiful Hidayat yang juga Calon Wakil Gubernur DKI yang berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok meresmikan pembangunan bedah rumah warga di RW 003 kelurahan Cilincing, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara.

Dalam sambutannya, Djarot mengklaim program bedah rumah tersebut sebagai realisasi janji Jokowi ketikda Pilkada DKI 2012 lalu.

“Ini sebagai realisasi dari program Pak Jokowi yang berjanji membangun kampung deret pada Pilkada 2012. Inilah bukti dari janji kampung deret itu,” ujar Djarot dalam sambutannya.

Calon Wakil Gubernur DKI yang kembali aktif kemarin usai cuti kampanye, mengatakan ada 83 unit rumah yang dibedah pada hari ini di wilayah Cilincing, Jakarta Utara.

Berdasarkan pantuan swamedium.com, sudah ada 11 unit rumah yang sedang dalam tahap pengerjaan, dan baru 1 unit yang sudah selesai dibedah oleh pekerja yang berseragam baju oranye.

Sementara di tempat terpisah, Senator Jakarta Fahira Idris berpendapat program bedah rumah semestinya dapat ditunda setelah pemungutan suara 19 April nanti.

“Jika Pak Ahok dan Djarot bijak, program ini bisa ditunda setelah 19 April atau setelah proses pemungutan suara selesai untuk menghindari konflik kepentingan, walau program ini dilakukan keduanya sudah aktif kembali sebagai kepala daerah,” ujarnya saat dihubungi swamedium.com.

Wakil Ketua Komite II DPD RI itu juga mengatakan, publik tidak akan bisa menilai hal ini tidak ada kaitannya dengan pilkada DKI.

“Apapun argumennya, sangat susah bagi kita dan bagi warga Jakarta untuk tidak mengaitkan dimulainya program ini dengan status keduanya sebagai calon gubernur dan wakil gubernur, apalagi momen nya bertepatan dengan masa tenang,” kata Fahira.

Dirinya pun menegaskan, bahwa masa tenang seharusnya warga bisa dibebaskan dari segala hal yang bisa mengarahkan mereka untuk memilih calon tertentu.

“Masa tenang itu harusnya warga dibebaskan dari segala macam kegiatan yang mempersuasi mereka untuk memilih calon tertentu. Jadi memang potensi konflik kepentingan dari peluncuran program bedah rumah ini pada masa tenang sangat besar,” pungkasnya. (dip)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita