Senin, 18 Januari 2021

Membangun Optimisme, Ditengah Brutalitas Politik Sembako

Membangun Optimisme, Ditengah Brutalitas Politik Sembako

Oleh Bambang Widjojanto*

Banner Iklan Swamedium

Jakarta, Swamedium.com — Jakarta nyaris “luluh lantak”, “bertekuk lutut”, dihina-dinakan akal budi dan nuraninya.

Petahana diduga melakukan politik sembako yang berbalut dengan politik uang, disertai fitnah berjubah perilaku manipulatif dan disertai masifnya sinyalemen yang mempertanyakan netralitas kekuasaan, “menyerbu” seantero Jakarta, dilakukan secara “brutal”, bertubi-tubi, tanpa jeda dan mengoyak-ngoyak jagad labirin Kota Betawi.

Politisasi sembako yang diduga dilakukan petahana dan jaringan sindikasinya, terjadi begitu “kasat mata”, “telanjang” dan nyaris tanpa malu, membuat kita menjadi pilu, sembari “misu-misu” dan berkeluh. Serendah inikah kualitas demokrasi yang hendak diperjuangkan?.

Apakah segala kebusukan harus dilakukan untuk mencapai kemenangan semu?. Seolah, kemenangan hanya ditentukan oleh “kuasa kebejatan” tanpa campur tangan “kuasa langit” yang padanya segala ridha, rahmat dan hidayah berasal dari NYA.

Hingga malam hari kemarin, dihampir seluruh walikota hingga ke pelosok kampung, hari-hari tenang, tiba-tiba, berubah drastis dan “bergejolak” karena ada festival bagi-bagi sosial sembako. Publik mahfum, siapa pelakunya?.

Siapa yang kini berkuasa dan ditopang para pemodal yang punya dana “tidak terbatas” dan bisa membeli apa saja dan siapa saja, apalagi jika hanya sekedar sembako murahan?. Pendeknya, rakyat kecil, khususnya kaum perempuan, lebih-lebih yang sudah lansia, hendak “ditipu” dan “dilucuti” kesadarannya.

Mereka, rakyat kecil itu, terus menerus menjadi miskin dan sebagiannya, bahkan, “dimiskinkan”, justru sangat memerlukan lapangan kerja yang bersifat permanen, bukan sekedar “gula-gula”, seperti sembako murahan.

Kita justru kian sadar, festival sembako murahan itu, justru menjelaskan watak asli dari pelaku dan kekuasaan yang berpihak pada “kuasa kegelapan” Karena menghargai para pemilih dan warga Jakarta, hanya selevel sembako murahan.

Yang mengerikan dan sangat menguatirkan, ada indikasi sangat kuat, pihak yang menjadi bagian dari kekuasaan, berafiliasi dan bahkan bersekutu dengan petahana menggunakan fasilitas dinasnya dan sebagian wewenangnya.

Netralitas aparat keamanan dan sebagian penyelenggara pemilukada digugat publik. Apakah fakta, bagi-bagi sembako, ternyata, justru “dikawal” aparat, kian tak terbantahkan? Ada juga, rumah dinas Anggota Dewan yang merupakan fasilitas negara, justru dipakai untuk menimbun sembako. Sudah dilaporkan oleh Tim Paslon 3 tetapi belum ada respon cepat untuk menindaklanjutinya.

Bayangkan saja, penguasa seolah “menyembunyikan” hasil dari fatwa MA soal tuntutan publik, petahana diberhentikannya karena sudah menjadi terdakwa. Sementara itu, Menkopulhukam, tiba-tiba saja membuat pernyataan dan berkomentar soal otoritas dari hasil survei. Atau, ada “Maklumat” yang bisa dipersepsi ”menebar” ketakutan bagi publik yang akan ikut berpartisipasi mengawasi proses pilkada DKI.

Itu semua, disinyalir sebagai bentuk “keberpihakan” kekuasaan dan aparat pada paslon tertentu. Padahal, ada tugas utamanya, nampaknya, justru ditelantarkan.

Kini, pilihan kita, orang yang semoga terus dijaga “kewarasannya” makin terbatas tapi justru bisa menjadi lebih fokus untuk menjemput optimisme. Ladang amal itu membentang begitu luas, bak “sajadah panjang” dan “gempuran” gelombang tanpa henti dari lautan.

Siapa yang berikhtiar lebih banyak demi untuk kemaslahatan yang berpijak pada keyakinan atas “kuasa langitan” yang senantiasa memberikan “rahmat” sesuai prasangka para hambanya, Insya Allah akan dimudahkan dalam menjemput harapannya.
Lalu, apa yang harus dilakukan?

Kesatu, optimalkan keterlibatanmu dalam mengawal seluruh proses pemilukada yang demokratis, serta jurdil. Ada 150.000 Suket yang “tidak jelas”, serta TPS yang potensial manipulatif karena minimnya control public dan tiadanya transparansi yang optimal;

Kedua, segera lakukan pencatatan, dokumentasikan, foto dan videokan sebagai jenis kecurangan. Dapatkan bukti awal, “interograsi dan tangkap” pelaku kejahatan untuk diserahkan pada petugas yang berwenang; serta kawal prosesnya untuk memastikan netralitas petugas;

Ketiga, Kirimkan seluruh hasil pengawasanmu dengan berbagai informasi dan dokumen pendukung pada Tim yang telah ditunjuk. Bantu dan dukung mereka;

Lebih dari itu, jangan memancing keributan, terus berdoa dan berserah diri, ikhtiarkan semuanya sebagai bagian dari upaya melawan brutalitas dengan menegakan optimsme untuk menjemput harapan. (*)

*Penulis adalah Mantan Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Pejuang anti korupsi, praktisi hukum, dan tim pemenangan Anies-Sandi.

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita