Selasa, 29 September 2020

Menkeu: Setiap Bayi Lahir di Indonesia Menanggung Utang Rp13 Juta

Menkeu: Setiap Bayi Lahir di Indonesia Menanggung Utang Rp13 Juta

Foto: Ilustrasi utang negara. (ist)

Jakarta, Swamedium.com – Utang negara yang semakin menumpuk bukan isapan jempol. Dengan jumlah rasio utang mencapai 27 persen dari Produk Domestik Bruto (Gross Domestic Product/GDP) yang sekitar Rp13 ribu triliun, maka setiap bayi yang baru lahir di Indonesia sudah memiliki utang sebesar US$997 per kepala atau sekitar Rp13 juta.

Hal tersebut dikatakan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat memberikan kuliah umum di Kampus Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), Tangerang Selatan.

“Rasio utang kita memang cukup tinggi. Kalau dihitung itu dari hampir 260 juta penduduk, kira-kira utang kita US$997 per kepala,” kata Sri Mulyani sebagaimana dikutip Detik.com.

Sri yang juga mantan Direktur Bank Dunia ini mengingatkan bahaya realisasi penerimaan negara yang lebih kecil dibandingkan kebutuhan duit belanja pemerintah dalam postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Dia menjelaskan bahwa penerimaan negara tahun ini yang dipatok Rp1.750 triliun, lebih kecil ketimbang pagu belanja pemerintah yang mencapai Rp2.020 triliun. Kondisi tersebut menyebabkan negara harus berutang Rp270 triliun untuk menutupi defisit tersebut yang secara tidak langsung dibebankan kepada setiap warga negara Indonesia dari sejak lahir.

Dengan jumlah rasio utang Indonesia sebesar 27 persen dari PDB sekitar Rp13 ribu triliun, maka setiap masyarakat di Indonesia memiliki utang sebesar US$997 per kepala atau sekitar Rp13 juta. Meski rasio terbilang tinggi, Sri Mulyani memastikan angka tersebut masih lebih rendah dibanding dengan tanggungan utang yang menjadi beban warga Amerika Serikat atau Jepang.

“Di Amerika Serikat, setiap kepala menanggung utang US$62 ribu. Sedangkan di Jepang sebesar US$85 ribu per kepala,” terang Sri Mulyani.

Tidak Membebani

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia berpendapat, tanggungan utang Rp13 juta yang harus dipikul setiap warga negara Indonesia tidak terlalu memberatkan. Sebab menurutnya populasi Indonesia merupakan golongan produktif dengan usia kurang dari 30 tahun.

Saat ini, kata Sri Mulyani, pemerintah terus berusaha untuk bisa menekan utang yang terlalu besar melalui peningkatan penerimaan pajak.

“Di Jepang itu US$85 ribu per kepala dan jangan lupa kalau Jepang itu adalah populasinya yang aging, orangnya yang sepuh, sudah tua. Mereka masih punya utang US$85 ribu per orang tetapi hidupnya tinggal beberapa tahun ke depan,” katanya.

Menurut Pengamat Ekonomi Politik Ikhsanurdin Noorsy, potret ekonomi Indonesia yang memprihatinkan, karena negara yang kaya sumber daya alam, tetapi rakyaytnya malah miskin dan utang menumpuk ini terjadi karena yang menikmati kekayaan kita justru negara lain.

“Kalau saja negeri ini dikelola dengan benar, kita kaya raya. Kekayaan kita berlimpah,” tuturnya di iDPR baru-baru ini. (*/maida)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.