Rabu, 20 Januari 2021

Setelah 70 Tahun Lebih Merdeka, Kita Menuju Negara Gagal

Setelah 70 Tahun Lebih Merdeka, Kita Menuju Negara Gagal

Oleh: Prabowo Subianto*

Banner Iklan Swamedium

Jakarta, Swamedium.com — Indonesia kaya akan sumber daya alam dan sumber daya manusia, tetapi rakyat Indonesia saat ini hidup dalam ketimpangan dan kemiskinan. Kondisi inilah yang saya sebut sebagai Paradoks Indonesia. Kekayaan alam yang berlimpah seharusnya membuat rakyatnya makmur, tetapi kenyataannya justru rakyatnya mayoritas miskin atau hidup dibawah garis kemiskinan.

Ekonomi Kita Sakit Karena Salah Urus

Kalau kita ingin tahu apakah pencapaian ekonomi kita selama 50 tahun terakhir sudah baik atau belum, kita bisa membandingkan dengan pencapaian ekonomi negara lain, misalnya, Tiongkok dan Singapura. Pada 1985-2015 (selama 30 tahun), pendapatan domestik bruto (PDB) Tiongkok naik 35 kali lipat, yaitu dari US$309 miliar menjadi US$11.008 di tahun 2015. PDB Singapura tumbuh 15 kali lipat dari US$19,1 miliar di tahun 1985 menjadi US$292,7 miliar di tahun 2015. Sementara Indonesia hanya tumbuh 10,1 kali lipat dari US$85,2 miliar di tahun 1985 menjadi US$861,9 miliar di tahun 2015.

Mengapa kedua negara itu, ekonominya bertumbuh pesat? Menurut kajian banyak ahli ekonomi, Tiongkok secara sungguh-sungguh mengimplementasikan prinsip-prinsip kapitalisme negara (state capitalism). Artinya, seluruh cabang produksi penting yang menguasai hajat hidup orang banyak dan seluruh sumber daya alam dikuasai oleh negara.

Di Tiongkok, cabang-cabang penting dan sumber daya alam dilakukan oleh BUMN dan BUMN dikuasai penuh oleh negara. Tiongkok menjadikan BUMN sebagai ujung tombak dari pembangunan negaranya. Contoh, Tiongkok di tahun 1985 mendirikan Industrial and Commercial Bank of China (ICBC), yang 35 tahun kemudian menjadi bank terbesar di dunia dan 100% sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Tiongkok.

Sementara di Indonesia, walaupun bunyi dari Pasal 33 UUD 1945 hampir sama dengan kapitalisme negara Tiongkok, cabang-cabang produksi penting yang menguasai hayat hidup orang banyak dan sumber daya alam kita, pengelolaan ekonominya justru diserahkan ke mekanisme pasar. Dengan kata lain, kita tidak sungguh-sungguh melaksanakan UUD 1945. Itulah mengapa saya mengatakan ekonomi kita sakit karena salah urus. Kita terperangkap dalam sistem ekonomi oligarki (perekonomian negara dikuasai oleh segelintir orang kaya), baik di tingkat pusat maupun daerah. Makanya, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.

Kualitas Pendidikan Rendah

Survei PSA atau Programme for International Student Assesment (indikator kualitas pendidikan di negara maju) mengungkapkan kualitas pendidikan pelajar Indonesia rendah di kemampuan bahasa, matematika dan sains. Berdasarkan survei PSA, kemampuan membaca, matematika dan sains anak Indonesia ranking 65 dari 75 negara (underperform). Artinya, pelajar Indonesia tidak mampu menemukan gagasan utama dalam teks yang dibacanya.Lemah dalam sains artinya pelajar tidak menguasai teori dasar dan tidak mampu menjelaskan hasil kalkulasinya. Pemahaman pelajar terbatas, sehingga hanya dapat diaplikasikan disituasi yang dia akrab atau dikenalnya.

Dari sisi fasilitas pendidikan juga memprihatinkan. Menurut Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di tahun 2015, dua dari tiga ruang kelas rusak. Sebanyak 74% ruang SD, 71% ruang kelas SMP dam 54% ruang kelas SMA dalam kondisi rusak. Kondisi ini bisa menghambat proses belajar siswa bila tidak dilakukan perbaikan.
Situasi Utang

Total utang luar negeri kita, baik negara maupun swasta per tahun 2016 sudah lebih dari US$323 miliar atau kisaran Rp4000 triliun. Bila dibagi dengan populasi penduduk, per kepala orang Indonesia menanggung utang Rp16 juta. Singapura adalah negara pemberi utang (kreditor) terbesar, disusul Jepang. Sejak tahun 2012, negara harus membuat utang baru untuk membayar utang jatuh tempo atau istilahnya gali lubang, tutup lubang karena keuangan negara selalu defisit.

Dua Tantangan Besar Jadi Negara Maju

Angka PDB perkapita kita saat ini hanya 1/3 dari Malaysia dan 1/15 dari Singapura. Artinya, orang Malaysia 3 kali lebih makmur dari orang Indonesia, bahkan orang Singapura 15 kali lebih makmur dari kita. Karena itu, mengapa pertumbuhan ekonomi kita harus minimum 10%. Hanya dengan pertumbuhan 10% setiap tahun, negara kita baru lepas landas menjadi bangsa yang sejahtera. Kalau tidak bisa mencapai 10% dan melepaskan diri dari middle income trap, kita harus menerima kenyataan pahit menjadi negara gagal.

Apakah bisa? Saya yakin bisa jika pemerintah turun tangan membantu pertumbuhan ekonomi. Bukan ekonomi diserahkan ke negara, tetapi ada beberapa hal di ekonomi kita yang tidak bisa diserahkan ke swasta. Agar negara kita menjadi pelopor ekonomi dan tumbuh dua digit atau 10%, kita harus menyelesaikan dua masalah besar berikut ini;

Pertama, kita harus menghentikan aliran kekayaan negara yang ke luar negeri karena kebijakan ekonomi yang tidak tepat. Jika kita terus membiarkan, negara kita tidak akan pernah punya modal untuk menjadi pelopor ekonomi.

Kedua, kita harus memastikan demokrasi kita tidak lagi dikuasai oleh pemodal besar. Tujuannya, agar kita bisa memiliki pemimpin yang dapat berdiri tegak dan mengambil keputusan politik yang tepat, tanpa didikte oleh pemodal.

Untuk menghadapi dua tantangan besar itu, kita harus percaya diri, berani dan punya mental tidak mudah menyerah. Sebagai contoh, Malaysia yang penduduknya hanya 25 juta orang saja bisa punya mobil nasional, sedangkan kita yang 250 juta orang tidak berani. Kenapa? Kita harus mengingat, kita dulu saja mampu membuat candi Borobudur? Bagaimana kita mengusir penjajah? Rakyat Surabaya dengan senjata seadanya mengusir penjajah Inggris. Pemenang Perang Dunia Kedua dilawan oleh arek-arek Surabaya, mereka kalah. Jadi, kita pasti mampu dan bisa menghadapi dua tantangan besar itu.

*Penulis adalah Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita