Minggu, 17 Januari 2021

Kekayaan Kita Mengalir Keluar

Kekayaan Kita Mengalir Keluar

Oleh; Prabowo Subianto

Banner Iklan Swamedium

Penyakit terparah dari tubuh ekonomi Indonesia saat ini adalah mengalir keluarnya kekayaan nasional dari wilayah Indonesia (capital outflow). Uang bagi suatu negara adalah darah. Saat ini, tubuh bangsa Indonesia berdarah dan ternyata berdarahnya sudah puluhan tahun, bahkan ratusan tahun bila dihitung sejak penjajahan Belanda.

Artinya, seluruh bangsa Indonesia saat ini sedang kerja rodi, kerja bakti untuk orang lain. Kita bekerja keras di negeri sendiri untuk memperkaya bangsa lain. Kita seperti indekos di rumah sendiri. Parahnya, banyak dari kita yang tidak menyadari hal ini. Sebagian yang tahu, memilih diam, menyerah pada keadaan, bahkan sebagian yang lain menjadi penyalur kekayaan kita keluar.

Kekayaan Kita Untuk Siapa

Taksiran keuntungan Belanda dari menjajah Indonesia selama 63 tahun (1878-1941) mencapai 54 miliar gulden atau setara dengan Rp66.599 triliun. Angka ini diperoleh oleh Peneliti dari Chulalongkorn University setelah membuka catatan resmi Pemerintah Belanda periode 1878-1941 soal keuntungan ekspor dari Indonesia, tabungan orang Belanda di Indonesia serta anggaran Belanda menjajah Indonesia.

Perdagangan Indonesia

Neraca ekspor kita dari tahun 1997-2014 (17 tahun) mencapai US$1900 miliar atau kisaran Rp24.700 triliun. Tapi, angka ini tidak sama dengan realisasinya. Bisa berbeda 20%, 30% sampai 40%. Dan, keuntungannya tidak tinggal di dalam negeri. Makanya, saya tidak begitu kaget ketika Menteri Keuangan pada Agustus 2016 mengumumkan ada Rp11.400 triliun dana milik pengusaha yang terparkir di luar negeri. Jumlah yang mencapai lebih 5 kali lipat dari APBN kita. Makanya, ada program amnesti pajak. Kalau tidak ada pengemplang pajak, untuk apa ada pengampunan pajak.

Perusahaan-perusahaan itu menjual hasil alam Indonesia, menggunakan jalan, pelabuhan dan keringat orang Indonesia, tetapi ketika mendapat keuntungan, mereka tidak menyimpan keuntungannya di Indonesia. Selain itu, ada pengusaha Indonesia melakukan usaha ekspor dan usaha di Indonesia, setelah untung, mereka memindahkan keuntungan mereka keluar negeri.

Ini masalah besar untuk bangsa. Jika uang tidak tinggal di Indonesia, maka tidak dapat digunakan untuk membangun Indonesia. Bank-bank tidak punya cukup uang memberikan kredit yang bisa membangkitkan ekonomi kita. Tidak ada multiplier effect yang bisa membangkitkan gairah ekonomi Indonesia.

Banyak Uang Kita Ada di Bank-Bank Asing

Indikator lain yang menunjukkan mengalirnya kekayaan kita di luar negeri adalah jumlah simpanan di bank-bank luar negeri milik orang Indonesia. Menurut Pemerintah, pada akhir 2016, ada Rp11.000 triliun kekayaan orang Indonesia yang disimpan di bank-bank luar negeri. Padahal APBN atau anggaran belanja negara kita saat ini saja hanya Rp2000 triliun, jumlah ini lebih 5 kali lipat dari APBN.

Indikator lain yang membuat miris adalah besarnya aset di bank-bank negara tetangga, contohnya, Singapura dibandingkan dengan bank-bank terbesar Indonesia. Jumlah penduduk Singapura hanya seperlima puluh dari penduduk Indonesia. Besaran ekonomi Singapura juga hanya US$300 miliar atau 3 kali lebih kecil dari ekonomi kita, tetapi aset bank terbesar mereka bisa 5 kali lebih besar dari bank terbesar Indonesia, Bank Mandiri. Selain itu, jumlah aset di tiga bank terbesar Singapura hampir 6 kali lebih besar dari apa yang dikuasai oleh tiga bank terbesar di Indonesia.

Kaum Elit Indonesia Terlalu Banyak Bohong

Menurut saya, sudah terlalu lama elit kita berbohong kepada rakyat, kepada bangsa dan juga kepada dirinya sendiri. Kenapa orang kecil makin terjepit, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin? Kenapa petani tidak senyum ketika panen? Bagaimana bisa di negara yang sudah 70 tahun merdeka, ada guru honorer yang hanya menerima Rp200 ribu per bulan? Bagaimana bisa sebagian besar keuntungan kita mengalir ke luar negeri, tetapi elit diam saja?

Pahit memang yang saya katakan. Tetapi kalau setiap tahun ada kekayaan nasional keluar, saya kira sebagai negara tidak perlu punya rencana pembangunan jangka panjang karena rakyat juga tidak menikmati. Kata orang, ambang penderitaan bangsa Indonesia tinggi sekali. Saking menderitanya, jadi kalau kaki kita diinjak, orang Indonesia tidak teriak-teriak karena sifat bangsa Indonesia itu memang baik, nrimo, silakan diperdaya. Karena itulah, menurut saya negara ini berada di persimpangan jalan yang sangat penting.

Kita Dididik Menyerah Sebelum Berjuang

Saat ini, kita juga kehilangan uang ke luar negeri dari membeli barang-barang produksi luar negeri, yang sebenarnya bisa diproduksi sendiri oleh putera puteri Indonesia. Bahkan, kita sudah kecanduan barang-barang impor. Bahkan, barang-barang yang diproduksi di Indonesia pun, sebagaian besar pemiliknya Penanaman Modal Asing (PMA). Lihat air mineral, sabun, semen, dan sebagainya itu milik siapa? Artinya, yang menikmati sebagian besar keuntungan juga orang luar.

Malaysia yang penduduknya sepersepuluh dari penduduk Indonesia saja bisa punya mobil nasional, kita tidak. Sekarang kita sudah menjadi bagian dari Masyarakat Ekonomi Asean, kita harus membuka pelabuhan-pelabuhan kita untuk membawa barang produksi negara lain masuk ke Indonesia.

Saya tidak mengatakan kita harus anti investasi asing. Tetapi, kalau semua produksi di Indonesia bergantung pada investasi asing, kita akan celaka. Rupiah akan terus melemah. Seorang ekonom Indonesia baru-baru ini menemukan bahwa setiap 1 miliar dollar investasi asing tertanam di Indonesia dalam satu tahun (2010-2014) mengakibatkan US$12 miliar mengalir ke luar negeri.

Otak kita sering dicuci, kalau produksi sendiri dengan merek sendiri tidak efisien. Tapi kok Korea Selatan yang jumlah penduduknya lebih kecil saja bisa efisien? Berarti apa, kita dididik oleh pemimpin sendiri untuk menyerah sebelum berjuang, menjadi bangsa yang rendah diri (minderwaardigheids kompleks). Kita kagum terhadap apa-apa yang berbau asing, tidak percaya diri dengan produksi sendiri.

Sekali lagi saya tidak mengatakan kita perlu memboikot produk asing. Tetapi dari satu juga mobil yang dibeli rakyat Indonesia, setidaknya 10% produksi bangsa sendiri. Hanya 100 ribu mobil masak tidak bisa. Kalau pemimpin bangsa ini mendukung pasti bisa.

Hanya 1% Orang Indonesia Menikmati Kemerdekaan

Menurut data BPS, gini ratio kita tahun 2014 sudah 0,41. Bahkan, menurut riset lembaga keuangan Credit Suisse, di tahun 2016, angka gini ratio kita yang sebenarnya sudah mencapai 0,49. Sebesar 1% orang terkaya, menguasai 49% kekayaan di Republik Indonesia. Sebesar 0,49% adalah ketimpangan yang luar biasa. Ketimpangan yang sangat berbahaya, dapat memicu konflik social, huru hara dan perang saudara yang berkepanjangan.

Ketidakadilan Ekonomi Sudah Terlalu Parah

Gini rasio adalah indikator kesenjangan kekayaan di suatu negara. Angka gini rasio 0,49% artinya 1% dari populasi terkaya di Indonesia memiliki 49% kekayaan Indonesia. Jika populasi Indonesia ada 250 juta jiwa, hampir 50% kekayaan Indonesia dimiliki hanya oleh 2,5 juta jiwa. Bahkan, baru-baru ini ada yang menghitung harta kekayaan empat orang terkaya di Indonesia lebih besar dari harta 100 juta orang termiskin di Indonesia.

Data tahun 2015 BPS mengungkapkan ada 57 juta orang Indonesia berprofesi sebagai petani. Namun, lebih dari 75% atau lebih 28 juta petani tidak punya lahan sendiri. Yang punya lahan hanya 9 juta petani, itupun luas lahannya tidak seberapa.

Sebesar 46.45% pengeluaran rata-rata per kapita orang Indonesia adalah untuk membeli makanan. Akibatnya, ketika harga pangan naik akan membuat banyak orang jatuh lebih miskin. Karena itu, menjaga kestabilan pangan harus jadi prioritas penguasa.

Ekonomi Indonesia Jakarta Sentris

Sebesar 60% sampai 70% dari perputaran ekonomi yang mencapai Rp11.500 triliun berputar di Jakarta. Sebagian sisanya di kota-kota besar seperti Surabaya, Medan dan Semarang. Hanya segelintir di desa-desa, itupun banyak di Pulau Jawa. Akibatnya, infrastruktur seperti jalan, transportasi di luar Jawa tidak tersedia dengan baik. Di kampung saya di Sulawesi Utara, mati listik 6-12 jam sehari masih menjadi hal lumrah di tahun 2016 ini.

Angka malnutrisi atau kelaparan mencapai 1 dari 3 anak, termasuk di Jakarta. Ini menyesakkan di tengah banyaknya gedung pencakar langit. Ini berbahaya karena bayi-bayi yang kurang gizi ini akan sulit berprestasi dan setelah dewasa sulit bersaing.

Hanya 36% orang Indonesia punya rekening bank. Jumlah ini lebih rendah dari rata-rata dunia sebesar 62%. Sebagai perbandingan, di Malaysia 81% dan Thailand 78%.
Sejarah Mengajarkan, Ketimpangan Memicu Konflik

Saat ini lebih dari 50% populasi Indonesia memiliki akses Internet. Karena banyak dari 1% populasi kaya Indonesia mengumbar kekayaan di media sosial, ini akan memicu konflik sosial karena setengah populasi kita akan melihat dengan gamblang ketimpangan kekayaan di Indonesia.

Itu sebabnya, mengapa saya katakan kita harus waspada. Sejarah mengajarkan kepada kita bahwa huru hara, revolusi, perang saudara dipicu oleh tujuh hal; 1. Inflasi, 2. Harga pangan naik, 3.Ledakan penduduk, 4. Pengangguran meningkat, 5. Disparitas penghasilan, 6. Radikalisme ideologi dan 7. Korupsi.

Ketujuh hal itu semua ada di Indonesia. Jika ada pemantik yang tepat Indonesia bisa terjerumus dalam huru hara, revolusi dan perang saudara berkepanjangan.

Kualitas SDM
Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2016 mengungkapkan 50 juta orang atau hampir 40% angkatan kerja Indonesia (diatas 15%) hanya lulusan SD. Hanya 21 juta lulus SMP dan hanya 11,1 juta angkatan kerja Indonesia yang tamat kuliah. Enam dari 10 lulusan SD itu tidak bisa melanjutkan ke SMP, diantaranya jumlah ruang kelas dan ketersediaan guru SMP kurang.

Dengan kualitas SDM yang lemah, tentu sulit bangsa ini menjadi negara maju dan sejahtera. (bersambung)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita