Kamis, 23 September 2021

Demokrasi Indonesia Dikuasai Pemodal Besar

Demokrasi Indonesia Dikuasai Pemodal Besar

Oleh: Prabowo Subianto*

Banner Iklan Swamedium

Jakarta, Swamedium.com – Sekarang Indonesia berada dalam keadaan sangat rawan. Terlalu banyak pemimpin kita yang bisa disogok, bisa dibeli. Akhirnya, mereka tidak menjaga kepentingan rakyat, tidak mengamankan kepentingan rakyat, tetapi malah menjual negara kepada pemodal besar, bahkan kadang kepada bangsa lain.

Sepanjang hidup, saya sudah berkeliling ke semua kabupaten di Indonesia. Di tahun 2004 saja, saya berkesempatan berkeliling ke ratusan kota dan kabupaten. Dimana-mana rakyat sudah tidak tahan lagi. Terlalu banyak korupsi di Indonesia. Bahkan, hampir semua proyek dikorupsi, disogok. Semua pemimpin kita mau dibeli dan disogok. Akhirnya tidak ada keadilan ekonomi bagi rakyat Indonesia dan tidak ada keadilan politik bagi bangsa Indonesia.

Indonesia, menurut pendapat saya, sekarang ini ada di persimpangan jalan. Apakah cita-cita demokrasi ini akan di hijack atau akan disandera oleh para kurawa? Ini pertaruhan kita saat ini. Perebutan antara Kurawa dan Pandawa. Mereka, para Kurawa, hidupnya didorong oleh keserakahan. Mereka sudah punya kekuasaan, sudah punya harta banyak, tetapi selalu ingin lebih.

Mereka, para pemodal besar dari bangsa kita sendiri dan bangsa asing, tidak suka pada keinginan mereka-mereka yang ingin mengamankan dan menyelamatkan kekayaan negara. Mereka suka Indonesia yang lemah. Mereka suka Indonesia dipimpin oleh pemimpin yang lemah. Mereka ingin pemerintahan boneka. Mereka ingin mengendalikan bangsa ini.

Mereka ingin Indonesia dipimpin oleh pemerintah yang korup, pemimpin-pemimpin dan pejabat-pejabat yang korup. Pemimpin yang dibisa diatur oleh para Kurawa. Karena itu, saya percaya mereka takut dengan isi buku ini.

Kadang Pemimpin Bisa Dibeli Karena Uang Berkuasa di Pemilihan

Sesungguhnya, taruhan kita sangat besar.Sekarang kita merasakan bahwa masyarakat kita, bangsa kita sedang mengalami suatu penyakit yang mendalam. Setiap unsur masyarakat kita sudah rusak. Rusak moral, rusak mental.

Ya, setiap unsur masyarakat kita, setiap tingkatan kepemimpinan sudah sarat dengan sogok menyogok. Orang banyak uang atau dimodali banyak uang bisa membeli suara, membeli loyalitas, membeli ketaatan. Sekarang banyak pemimpin kita, banyak pejabat kita bukan taat kepada Undang-Undang Dasar, bukan taat kepada kepentingan bangsa, tetapi taat kepada yang memberi uang. Ini semua karena demokrasi liberal yang kita laksanakan ini membutuhkan biaya yang sangat besar.

Saya membaca di tahun 2015 lalu, ada sebuah desa di Jawa Tengah, calon kepala desanya keluar Rp1 miliar hanya untuk menjamu pemilih di rumahnya. Dalam politik liberal, Anda mau maju di politik? Anda harus tahu, politik liberal ini membutuhkan biaya yang besar.

Ketika Ada Yang Tidak Bisa Dibeli: Devide Et Impera

Dalam sejarah politik Indonesia, selalu ada politisi-politisi yang tidak arif. Politisi yang bisa dibeli, politisi yang manut kepada pemodal dan mengira kalau politik itu soal menang-menangan. Namun, ada juga yang memandang politik sebagai usaha bersama untuk memperbaiki kehidupan bangsa dan rakyat yang dicintainya.

Satu dua tahun terakhir ini, kita sebagai bangsa dapat menyaksikan dengan mata kepala kita, ketika ada pejuang-pejuang politik yang seperti itu, kekuatan politik mereka diobok-obok. Mereka diganggu oleh pemodal besar dan para pionnya yang bermental kolonial, bermental imperialis. Dan, akhirnya mereka banyak yang tumbang dan tersingkirkan dari gelanggang politik nasional.

Kita harus ingat, jangan lupa sejarah bahwa tokoh bangsa kita juga sering diadu domba. Divide et empera. Kalau dulu, sultan lawan sultan, pangeran lawan pangeran, sekarang ketua partai lawan anak buah yang dibesarkannya sendiri.

Partai, Survei, Pemilih dan Media Kadang Bisa Dibeli dan Dikuasai

Demokrasi kita dalam bahaya. Pertama, karena banyak pemimpin kita yang bisa dibeli. Kedua, banyak pemimpin oligarki yang ingin mengeruk keuntungan di Indonesia. Inilah yang mereka mau, yang berkepentingan membajak proses demokrasi ini.

Jika saudara sudah lama jadi orang Indonesia, saudara tentu tahu ada uang ngarit, ada uang cendol, ada serangan fajar. Dengan kekuasaan dan uang, mereka mau mengatur segalanya. Yang lebih berbahaya, yang ingin saya ungkapkan adalah manipulasi kotak suara yang adalah inti demokrasi kita. Ini yang bisa, sedang dan pernah diselewengkan.

Kadang Survei Bisa Dipesan

Negara Indonesia sangat kaya. Kita bukan negara miskin. Kita punya semua sumber daya alam yang dibutuhkan untuk menjadi negara sejahtera. Tetapi, masalahnya, sistem kita dirusak oleh suatu elit, suatu oligarki yang serakah. Oligarki serakah ini mau menguasai semua sumber daya ekonomi Indonesia dan tega membiarkan sebagian besar rakyat Indonesia hidup tidak layak. Mereka menguasai politik kita, pemerintah kita dengan banyak cara.

Sekarang banyak manipulasi dan rekayasa. Hasil dari banyak polling, banyak survei yang bisa mempengaruhi pandangan masyarakat itu bisa dibeli. Saudara bisa pesan survei, “Bikin saya jadi nomer satu.” Yang celaka adalah ketika ada lembaga survei bekerja untuk tiga orang. Dari ketiganya dia dapat duit dan dikasih nilai bagus. Kreatif.

Alhamdulillah, sekarang banyak media sosial, keberpihakan pada konglomerat survei politik pada calon-calon tertentu dapat terlihat. Di Pemilu 2014 lalu, ada pelaku-pelaku survei yang terang-terangan di media sosial berkampanye untuk calon pasangan yang berhadapan dengan saya. Namun, kesadaran masyarakat akan praktek-praktek seperti ini masih rendah, tidak semua punya akses Internet. Adalah tugas kita semua untuk menyadarkan masyarakat agar tidak mudah percaya survei.

Kadang Daftar Pemilih Bisa Dipesan

Wujud utama demokrasi kita adalah pemilihan, kotak suara. Namun, di banyak pemilu, pengalaman Partai Gerindra yang ikut pemilu sejak 2009, kita menemukan daftar pemilih tidak jelas. Kita menemukan banyak ‘hantu’ dalam daftar pemilih itu. Ada nama-nama yang disebut 30 kali di TPS-TPS berbeda-beda. Mereka bisa memilih beberapa kali, apalagi tinta yang digunakan untuk mencegah coblosan berulang terkadang bisa dihapus. Ada juga nama-nama orang meninggal masih dalam DPT.

Kadang Media Juga Bisa Dipesan

Kita lihat sekarang, banyak sendi-sendi kehidupan bangsa kita, lembaga-lembaga negara kita, institusi-institusi penting untuk demokrasi kita, satu persatu tergoyahkan. Ada yang sudah jelas di depan mata tidak benar dan tidak adil, tetapi sebagian elit kita pura-pura tidak tahu.

Media kita sekarang dikuasai pemodal besar, sehingga banyak masalah-masalah bangsa yang disebabkan ulah pemodal besar tidak diliput atau diliput dengan narasi yang jauh berbeda dengan apa yang sesungguhnya terjadi. Ini berbahaya karena banyak masyarakat berharap pada media untuk mendapatkan pencerahan, pengetahuan soal demokrasi kita. Masyarakat kita berharap media netral, tidak berpihak selain pada kepentingan bangsa, tidak menjadi propaganda kepentingan tertentu.

Saya angkat topi kepada media-media yang secara eksplisit menyatakan keberpihakan kepada partai politik atau kandidat tertentu dalam pemilihan atau isu politik tertentu. Apalagi, kalau pernyataan keberpihakannya diulang terus menerus, masyarakat dapat mengetahui berita yang diterbitkan berat sebelah. Jangan seolah tidak berpihak, seolah tidak bisa dibeli, tetapi menjerumuskan.

Kadang Ada Kotak Suara Ajaib

Saya tahu Prabowo Subianto tidak disukai oleh banyak elit di Indonesia karena dia rodo-rodo bonek yang sampaikan masalah ini. Namun, saya ingat, saya tidak tahu kapan akan dipanggil oleh Tuhan. Karena itu, sekalian saja. Saya merasa harus saya ungkapkan kepada rakyat, apa yang menjadi kegelisahan saya.

Saya rasa tidak perlu detil saya ungkapkan di sini. Saudara bisa cek sendiri Pemilu 2014 lalu, ada pihak-pihak yang bisa membuka suara tanpa mengikuti proses. Jika berlangsung lagi, ini sangat berbahaya bagi proses demokrasi kita. (bersambung)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita