Minggu, 24 Januari 2021

Mencegah Tragedi Indonesia

Mencegah Tragedi Indonesia

Oleh: Prabowo Subianto

Banner Iklan Swamedium

Walaupun kita menghadapi banyak kesulitan, saya melihat Indonesia masih ada harapan, Kekayaan alam kita begitu luar biasa. Dengan manajemen yang tepat, kita bisa cepat bangkit.

Potensi Kita : Pangan dan Agroindustri

Pangan ini adalah masalah hidup mati suatu bangsa.Kita bisa hidup tanpa gedung pencakar langit. Kita bisa hidup tanpa mobil-mobil. Namun, kita tidak bisa hidup tanpa pangan, tanpa beras, tanpa jagung, tanpa singkong dan sebagainya.

Jadi kita harus memandang pangan ini strategiss. Siapapun yang mau memimpin negara ini, harus memandang pangan ini sangat strategis. Jangan kita impor pangan, supaya bangsa kita tidak tergantung pada siapapun. Kalau kita bergantung impor, begitu mata uang kita melemah, akan sangat mahal beli barang impor dan rakyat bisa tidak makan.

Kita punya lahan cukup banyak. Kita punya ekosistem dan ecoclimate yang sangat cocok untuk pertanian. Yang jelas, kita ini negara tropis. Sepertiga dunia adalah negara tropis dan Indonesia menempati sepertiga dari zona tropis dunia. Di zona tropis ini, kita bisa panen tiga kali dalam setahun. Kalau negara-negara non tropis hanya bisa satu kali.

Dari dulu, bangsa-bangsa lain datang ke kita dan mengambil kekayaan kita, seperti rempah-rempah, kopi, karet dan teh. Kita memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Kita harus memanfaatkan keunggulan ini. Ketahanan dan kekuatan ekonomi kita berada di sektor pertanian, kehutanan dan sebagainya. Inilah yang seharusnya kita kelola.

Potensi Kita: Pasar Domestik Yang Besar

Dengan populasi 250 juta orang, Indonesia adalah pasar yang sangat besar dan menarik. Dengan jumlah yang sedemikian besar, sebenarnya hampir semua industri bisa berkembang pesat walaupun hanya menjual produk dan jasanya untuk pasar Indonesia. Misalnya, setiap orang Indonesia butuh pakaian. Jika setiap orang beli satu celana saja setiap tahun dan harga celana Rp100 ribu saja, ini sudah bisnis Rp25 triliun. Jika bisa untung 10%, ada keuntungan Rp2,5 triliun. Ini baru celana saja, belum bicara pakaian lain.

Saking besarnya pasar Indonesia, kita bisa melihat banyak perusahaan asing berlomba-lomba untuk masuk dan menjual produknya di sini. Miliiaran dollar dana dikeluarkan untuk pasang iklan di televisi dan jalan raya demi mempengaruhi selera kita, gaya hidup kita.

Saya ulangi, saya tidak anti asing. Mereka boleh menjual produk dan jasa di sini. Tetapi, kita juga harus bersaing dengan mereka. Jangan sampai pasar dimonopoli oleh kekuatan ekonomi besar. Saya percaya kualitas produk kita bisa bersaing. Saat ini, kita sudah punya produk buatan sendiri, seperti sepeda, kapal laut, bahkan senjata buatan Surabaya yang dibuat oleh PT Pindad. Bahkan TNI mampu menjuarai kejuaraan menembak internasional di Australia selama 9 tahun terakhir berturut-turut menggunakan senjata buatan Pindad. Ini bukti kongkrit kemampuan industri kita.

Mewujudkan Ekonomi Konstitusi

Jika Anda pernah belajar ilmu ekonomi, saudara tentu kalau ada banyak mazhab ekonomi di dunia ini. Ada neoklasikal, pasar bebas dan neo liberal. Ketiga ini dikelompokkan dalam mazhab ekonomi Adam Smith. Kemudian, mazhab sosialis atau mazhab ekonomi Marx.

Dalam perjalanan sejarah, ada yang mengatakan,”Indonesia harus memilih A, ada juga yang bilang sebaiknya B.” Pertentangan ini ada sampai sekarang. Kita mau ambil yang terbaik dari kapitalisme dan yang terbaik dari sosialisme. Gabungan terbaik keduanya ini yang oleh Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir dan bapak saya, Prof. Sumitro disebut sebagai ekonomi kerakyatan atau ekonomi Pancasila, yang bentuknya tertulis di UUD 45, khususnya pasal 33. Karena itu boleh kita sebut ekonomi konstitusi.

Setelah 1998, Kita Keliru

Saya ingin menggugah sekarang bahwa setelah 1998, saya kira kita keliru. Sebagai bangsa kita melupakan jati diri, kita tinggalkan pasal 33 UUD 45, kita tinggalkan ekonomi Pancasila. Disitulah perjuangan saya selama belasan tahun ini. Menggugah, membangkitkan lagi kesadaran, mengingatkan ajaran-ajaran Bung Karno berdiri diatas kaki sendiri.

Ini yang saya kira fundamental dan dilupakan Kita percaya globalisasi dan sekarang sudah tidak ada batas antar negara atau borderless world. Padahal, coba kalau Anda ke Amerika, Anda tidak bisa masuk tanpa visa. Bahkan, kadang orang Indonesia tidak dikasih visa. Berarti ada border atau batasan. Sekarang banyak orang mau ke Australia lewat laut kita, namun kapal-kapal perang Australia menahannya. Jadi, walau sekarang kita banyak berdagang, batasan tetap ada. Karena itu, kita harus punya kekuatan sendiri.

Ingat nasionalisme bukan hal yang jelek. Nasionalisme adalah cinta bangsa sendiri. Kalau bukan kita yang mencintai bangsa sendiri, terus siapa? Apa harus meminta belas kasihan bangsa lain? Nasionalisme juga bukan sesuatu yang hina, semua bangsa membela kepentingan nasional mereka. Lantas, kenapa bangsa Indonesia tidak boleh? Kenapa petani kita tidak boleh dibantu negara?

Contoh dalam bidang pertanian, petani Amerika, Australia, Vietnam, Thailand dibantu oleh negaranya masing-masing. Kalau kita bilang,”Kita mau dong kepentingan nasional kita harus dijaga.” Kadang kita malah dibilang anti asing. Saya katakan kita tidak boleh anti asing. Dunia sudah semakin sempit dan tradisi bangsa kita adalah bangsa yang terbuka. Kita bersahabat , tetapi kita harus kuat dan bisa mandiri.

Tujuan Kita: Ekonomi Konstitusi, Bukan Sosialisme

Sosialisme murni, walaupun bagus dalam tulisan, sebenarnya tidak bisa dijalankan. Dalam sosialisme murni, azas sama rasa sama rata tidak mungkin dijalankan karena nanti tidak ada orang yang mau kerja keras. Dalam sosialisme murni, orang yang mau bekerja keras dan orang malas bergaji sama. Pun orang pintar dan orang bodoh juga sama. Ini kan utopia, hanya impian dalam prakteknya gagal. Yang tepat adalah ekonomi campuran.

Kalau kita baca sejarah Indonesia, dulu pernah ada keputusan untuk menggunakan sistem ekonomi Pancasila. Ekonomi kita harus berasaskan kekeluargaan. Intinya, yang kuat monggo, tetapi yang lemah harus ditarik. Nanti akan adasuatu equilibrium atau titik keseimbangan. Tidak benar, ekonomi yang berasaskan yang kuat harus selalu menang, yang lemah, ya terserah. Paham kapitalisme murni seperti itu, Greed is good (keserakahan itu bagus). Hasilnya, yang lemah akan mati.

Kalau dalam kapitalisme murni, nanti yang sejahtera, yang hidupnya bagus, mapan dan aman hanya 1% dari penduduk. Bahkan mungkin 1% dari yang 1%. Hanya beberapa keluarga saja yang kaya. Ini terjadi di Indonesia. Dan, juga terjadi di Barat. Dulu banyak yang percaya ‘trickle down effect’ atau ekonomi yang menetes kebawah. Kenyataannya, ‘trickle up effect’ Yang kaya makin kaya, yang miskin semakin miskin.

Yang harus kita jalankan adalah mazhab ekonomi campuran atau kata mantan PM Inggris Tony Blair, ekonomi jalan ketiga. Atau istilah tahun 45, kembali ke Bung Karno, Bung Hatta, mazhab ekonomi kerakyatan. Sekarang kalau kita ke Vietnam ada papan di pinggir jalan bertuliskan,’economy for the people, not people for the economy.’ Ekonomi harus untuk rakyat, bukan rakyat untuk ekonomi. Orientasi kita harus seperti itu.

Kalau sekarang kita keliru, kita harus berani banting haluan. Kita harus kembali kepada UUD 1945. Saya katakana begitu karena di UUD’45 pasal 33 sudah sangat gambling bahwa ekonomi kita tidak menggunakan mazhab pasar bebas, tetapi berasaskan kekeluargaan. Kemudian ayat 2 pasal 33 sangat gamblang bahwa ‘cabang-cabang produksi yang penting harus dikuasai negara’. ‘Yang menguasai hayat hidup orang dikuasai negara.’ Selanjutnya, bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Itulah rancang bangun ekonomi kita. Inilah sistem yang seharusnya kita jalankan, ekonomi konstitusi. Kalau kita konsekuen menjalankan, saya kira, mengalirnya kekayaan alam kita keluar yang saat ini terjadi akan bisa kita hentikan. (bersambung)

Penulis
Ketua Umum Partai Gerindra

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita