Minggu, 24 Januari 2021

Harga Daging Naik, DPRD Jatim Pertanyakan Kinerja Dinas Peternakan

Harga Daging Naik, DPRD Jatim Pertanyakan Kinerja Dinas Peternakan

Foto: Anggota Komisi B DPRD Jatim Pranaya Yuda mengatakan kenaikan harga daging di Jatim merupakan permasalahan klasik yang selama ini dihadapi oleh Dinas Peternakan Jatim. (Ari/swamedium)

Surabaya, Swamedium.com — Tingginya harga daging di Jatim di beberapa daerah di Jatim mengundang keprihatinan dari DPRD Jatim. Pihak legislative ini mempertanyakan kinerja dari Dinas Peternakan Jatim yang dinilai tak mampu mengendalikan harga daging di Jatim.

Banner Iklan Swamedium

Anggota Komisi B DPRD Jatim Pranaya Yuda mengatakan kenaikan harga daging di Jatim merupakan permasalahan klasik yang selama ini dihadapi oleh Dinas Peternakan Jatim.

”Dari dulu masalah ini selalu timbul dan menjadi langganan dari dinas tersebut. Seharusnya mereka punya upaya agar masalah ini tidak menjadi masalah bulanan atau tahunan yang dialami oleh Dinas Peternakan Jatim,” ungkap Politisi asal Partai Golkar ini saat dikonfirmasi di Surabaya, Selasa (25/4).

Pranaya mengatakan dirinya selama ini tak melihat ada upaya sungguh-sungguh dilakukan oleh Dinas Peternakan Jatim untuk mengatasi kenaikan harga daging di Jatim.

”Dinas Peternakan Jatim saya lihat kurang visoner. Mestinya mereka memiliki solusi jangka pendek maupun jangka panjang untuk mengatasi kenaikan harga daging di Jatim,” lanjutnya.

Diungkapkan pula oleh Pranaya, pihaknya berharap adanya evaluasi kinerja dari Dinas Peternakan Jatim yang sampai saat ini belum menunjukkan kinerja yang memuaskan terlebih dalam mengendalikan kenaikan harga daging.

”Sudah saatnya mereka mengevaluasi kinerjanya untuk pengendalian harga daging. Sudah waktunya mereka ini bergandengan dengan berbagai pihak semisal BUMD untuk merealisasi pembentukan BUMD peternakan,” jelasnya.

Pranaya mengatakan selama ini pihak Dinas Peternakan Jatim mengklaimbahwa stok ternak potong di Jatim selalu surplus.

”Namun, faktanya yang mereka klaim itu kebanyakan punya rakyat dengan sistem rojokoyo,” sambungnya.

Harusnya, lanjut Pranaya, hitungan stok itu diambil dari data di pasar hewan,jagal dan perusahaan-perusahaan peternakan.

”Mereka inilah yang tahu kondisi ternak di Jatim. Mereka harusnya turun dan melihat langsung kondisi ternak sehingga bisa tahu kebutuhan daging di Jatim bisa diketahui dan tentunya bisa mengontrolnya,” tandasnya.

Sekadar diketahui, dibeberapa daerah di Jatim jelang Ramadhan tahun ini, harga daging di Jatim mulai menunjukkan kenaikan. Contohnya harga daging sapi di pasar Larangan Sidoarjo yang pekan lalu menunjukkan harga sekitar Rp 95 ribu per kg. Ternyata ada kenaikan sebesar Rp 5000 ribu dengan menjadi Rp 100 ribu. (Ari)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita