Minggu, 19 September 2021

Kapolri di UI; Indonesia Sudah Merdeka 72 Tahun, Tapi Pembangunan Belum Merata

Kapolri di UI; Indonesia Sudah Merdeka 72 Tahun, Tapi Pembangunan Belum Merata

Foto: Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian memberi kuliah umum di kampus UI Depok, Jawa Barat, Selasa (25/4)

Depok, Swamedium.com— Selama hampir 72 tahun Indonesia berhasil mempertahankan kebhinekaan, namun Indonesia belum mampu melakukan pemerataan pembangunan.

Banner Iklan Swamedium

Demikian dikatakan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian saat memberi kuliah umum dihadapan sekitar 5000 orang mahasiswa dari 71 kampus se-Indonesia, di Kampus UI Depok, Jawa Barat, Selasa (25/4).

“Kita sukses merawat dan menjaga kerangka NKRI ini, yang beragam namun tetap satu. Tapi kita belum sukses untuk melakukan pemerataan pembangunan,” ujar Tito dalam acara Deklarasi Gerakan Mahasiswa (Gema) Aliansi Penyalahgunaan Narkoba Jabodetabek (Antipena).

Tito memberi contoh Singapura. Negara tetangga itu baru merdeka tahun 1965, tapi telah sukses melakukan pemerataan pembangunan.

“Mereka (Singapura) telah sukses membangun, membuat negara tersebut menjadi pembangunan yang dapat dirasakan oleh rakyatnya. Menjadi salah satu negara yang paling maju di dunia,” ungkapnya

Bahkan di negara ASEAN, kesenjangan antara masyarakat ekonomi ke bawah dan ekonomi keatas masih terlalu tinggi di Indonesia, jika dibandingkan seperti Malaysia dan Thailand negara yang mulai berkembang.

“Demografi kesejahteraan rakyat Indonesia masih berbentuk piramida. Yaitu masih didominasi oleh low class,” jelasnya.

Menurut kapolri, masih banyak masyarakat Indonesia yang berpendidikan rendah. Tidak hanya di daerah pelosok atau diperbatasan, bahkan di ibukota dki Jakarta yang sekalipun masih ditemukanya kawasan kawasan kumuh.

“Bahkan di ibukota Jakarta kita masih menemukan daerah kumuh, daerah slum area yang berbanding terbalik, dan ironis dengan kelompok masyarakat lain yang kaya,” tuturnya.

Bukan tidak mungkin dengan tidak adanya pemerataan pembangunan yang terjadi indonesia dapat menjadi faktor pemecah kebhinekaan di indonesia. Karena adanya kecemburuan sosial antara low class dan high class

“Konflik vertikal bisa menguat, demo yang terjadi juga banyak melibatkan low class. Dengan tuntutan dasar adalah masalah kesejahteraan,” lanjutnya

Kapolri juga menambahkan, apabila Indonesia ingin menjadi negara maju, Indonesia harus meniadakan jarak antara low class dan high class. Selain itu, keberadaan medium class harus menjadi mayoritas.

“Kita belum mampu membuat struktur demografi kesejahteraan masyarakat Indonesia jadi dua piramida terbalik. Yaitu kecilnya low class dan high class dan mayoritas adanya kelas menengah,” ujar kapolri. (Yog)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita