Rabu, 20 Januari 2021

Adu Nyali Aburizal Bakrie, Jusuf Kalla, dan Jokowi

Adu Nyali Aburizal Bakrie, Jusuf Kalla, dan Jokowi

Foto: Jokowi, Jusuf Kalla dan Aburizal Bakrie. (ist)

Oleh: Hersubeno Arief*

Banner Iklan Swamedium

Jakarta, Swamedium.com – Pilkada DKI 2017 sudah usai. Tidak demikian halnya dengan rivalitas di lingkaran elit kekuasaan. Konfigurasinya tidak sesederhana antara pendukung Ahok-Djarot vs pendukung Anies-Sandi.

Banyak varian, blok politik baru yang terkonfirmasi dalam pertarungan pilkada yang paling seru dan paling curang sepanjang sejarah Indonesia pasca reformasi itu.

Untuk mudahnya mari kita petakan terlebih dahulu konfigurasi dukungan dari ketiga pasang calon dalam pilkada lalu. Kita mulai dengan putaran pertama. Saat itu ada tiga paslon.

Paslon No.1 Agus-Silvy yang didukung oleh Demokrat, PAN, PKB dan PPP kubu Romahurmuzy. Paslon No. 2 Ahok-Djarot didukung oleh Golkar, Nasdem, Hanura, PDIP dan PPP Djan Faridz. Paslon No 3 Anies-Sandi yang didukung oleh sepasang “kekasih” lama Gerindra dan PKS.

Dari formasi pada putaran pertama ini kita sudah mulai bisa melihat tarik menarik kekuasaan, siapa mendukung siapa dan untuk kepentingan apa?

Untuk pasangan No.1 PKB dan PPP yang nota bene merupakan partai pendukung pemerintah mulai memgambil posisi berseberangan dengan paslon yang didukung Jokowi. Begitu pula halnya dengan PAN yang belakangan bergabung menjadi pendukung pemerintah.

Ketua Umum (Ketum) PKB Muhaimin Iskandar berani mempertaruhkan empat kursi menterinya di kabinet dengan mendukung Agus-Silvy. Bergabungnya Muhaimin dengan kubu SBY ini seperti sebuah cinta lama yang kembali bertemu. Muhaimin pernah menjadi menteri dalam kabinet SBY. Jadi relatif mudah bagi keduanya untuk menemukan kata sepakat.

PPP Romi mempunyai satu kursi di kabinet, yakni menteri agama. Pilihan Romi ke kubu SBY ini bukan tanpa risiko. Selain mempertaruhkan satu-satunya kursi, Romi juga sedang bermain-main dengan legal formal kepengurusannya. Di kubu seberang Djan Faridz tengah beruasaha merebut tahta kosong di PPP. Djan sedang berada di atas angin, pengadilan baru saja memenangkan gugatannya dan tinggal menunggu pengesahan dari Menkumham.

Membahas PPP rasanya tidak lengkap bila tidak menyebut nama Haji Lulung alias Abraham Lunggana Ketua DPW PPP DKI kubu Djan Faridz. Sebagai seteru abadi Ahok, Lulung mengambil jalan berbeda dengan Djan. Dia bergabung sebagai pendukung Agus-Silvy. Posisi Lulung ini cukup unik. Bersatu dalam satu kubu, tapi bukan berarti dia kemudian menjadi pendukung PPP Romi. Ini hanya kepentingan jangka pendek.

Di kubu Paslon Ahok-Djarot formasinya terdiri dari partai-partai pendukung Jokowi plus PDIP. Mengapa mesti disebut plus PDIP, soal ini ada penjelasannya sendiri. Nasdem, Hanura, Golkar dan PPP kubu Djan Faridz sudah mendeklarasikan diri sebagai partai pendukung Jokowi, termasuk untuk Pilpres 2019.

Sementara PDIP walaupun menjadi partai pengusung Jokowi, tapi posisinya sering ambigu. Ini erat kaitannya dengan proses pencalonan pada Pilpres 2014. Pada waktu itu Mega ditengarai masih ingin kembali mencalonkan dirinya.

Kalah dalam dua kali pilpres melawan SBY, agaknya tidak membuat Mega jera. Pasca lengsernya SBY pada 2014, adalah momentum tepat baginya untuk melakukan come back yang ketiga kalinya. Sayangnya langkah Mega harus surut ke belakang, ketika popularitas Jokowi yang ditopang pencitraan sangat kuat melalui media massa, menenggelamkan Mega. “Anak angkat” yang dibesarkan PDIP ini, kini berubah menjadi batu penghalang.

Sikap ambigu PDIP setidaknya juga terlihat dalam aksi Parade 412. Sebuah acara yang dikemas dengan cover ‘merawat kebhinekaan” itu sesungguhnya merupakan kegiatan tandingan Aksi Bela Islam (ABI) III atau dikenal sebagai Aksi 212, oleh partai pendukung Jokowi dan Ahok. Mereka melihat ABI I-III tidak hanya membahayakan Ahok, tapi juga sekaligus membahayakan Jokowi. PDIP absen dalam kegiatan yang seharusnya cukup penting tersebut.

Di kubu Anies-Sandi, formasi awal pendukungnya hanya terdiri dari dua partai, yakni Gerindra dan PKS. Dua partai ini adalah sisa Laskar Pajang yang dengan gagah berani mempertahankan puing-puing Koalisi Merah Putih (KMP). Mereka semula berniat mengusung Sandi-Mardani salah satu Ketua DPP PKS.

Gerindra dan PKS banyak digambarkan seperti “soulmate” belahan jiwa. Maklumlah keduanya sama-sama sedang patah hati, karena ditinggal pergi Golkar, PAN dan PPP Djan Faridz. Dalam kondisi seperti itu memang biasanya hubungan kedua insan bisa menjadi lebih erat. Mereka akan saling menguatkan.

Formasi di kubu ini menjadi menarik dengan munculnya nama Anies Rasyid Baswedan menjadi pasangan Sandiaga Uno. Komposisi pasangan ini terbentuk last minute. Dalam bahasa sepak bola pada saat injury time.

Disinilah nama Wapres Jusuf Kalla mulai terendus ikut bermain. Melalui adik iparnya Aksa Mahmud, menjadi mak comblang yang membuat Anies-Sandi bisa menjadi sepasang pengantin.

Peran besar Aksa Mahmud bisa terlihat dari kehadiran anaknya Erwin Aksa yang selalu mendampingi Anies. Ketika ribut-ribut soal Anies naik helikopter bertemu dengan Ahok, Erwin Aksa lah yang menyediakan. Pendukung Anies-Sandi sempat kaget dan banyak yang kecewa karena menduga Anies menggunakan helikopter milik pengusaha James Riady yang dikenal sebagai pendukung utama Ahok.

Maklumlah Anies naiknya dari helipad di RS Siloam di jalan Simatupang, Jakarta Selatan dan turun di Hotel Arya Duta dekat Patung Tani, Menteng, Jakarta Pusat. Kedua aset itu diketahui milik Lippo Group. Kebetulan rumah Anies di Lebak Bulus dekat dengan RS Siloam dan Hotel Arya Duta dekat dengan Balaikota DKI. Jadilah kedua tempat itu yang digunakan untuk take off dan landing.

Kehadiran Erwin di lingkaran ini juga tidak terlepas hubungannya dengan Sandi. Sebagai sesama mantan Ketum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Erwin punya hubungan brotherhood dengan Sandi. Alumni HIPMI memang dikenal punya hubungan yang sangat erat satu dengan lainnya. Mereka merintis usaha bareng, pernah “bersenang-senang” bareng. Dan kemudian setelah dewasa juga sukses bareng. Jadi klop sudah.

Mulai dari sini peta perkubuan menjadi seru. Jokowi-JK mulai bersimpang jalan. Hanya saja sebagai negarawan kawakan, JK tidak mau mengumbar adanya perbedaan sikap politik tersebut. Perpecahan Jokowi-JK hanya menjadi rumor di bawah permukaan. Tapi hawa panasnya sangat terasa, seperti api dalam sekam.

Jokowi pasti tidak akan tinggal diam. Dia sudah mengisyaratkan adanya reshufle kabinet jilid III. Bila ingin menghukum JK, maka Jokowi bisa mengganti The JK boys di kabinet. Tapi ini bukan soal mudah. Dalam dua kali reshufle, tarik menarik kepentingan Jokowi-JK sangat keras.

Peta menjadi tambah seru dan menarik ketika Ketua Dewan Pembina Golkar Aburizal Bakrie bergabung dalam kubu ini. Aburizal bersama Prabowo dan mantan Presiden PKS Anis Matta adalah tulang punggung Koalisi Merah Putih.

Namun setelah Golkar pecah atau tepatnya dipecah dan kemudian berhasil diakuisisi oleh Jokowi dengan menempatkan Setya Novanto sebagai ketua umum, secara halus Ical –panggilan akrabnya– perlahan-lahan disingkirkan. Saat Golkar menyatakan dukungan kepada Ahok, Ical menyuarakan ketidaksetujuannya.

Harga yang harus dibayar oleh Ical mendukung pasangan Anies-Sandi sangat mahal. Kabarnya proyek migas keluarga Bakrie bernilai miliaran dolar dibatalkan pemerintah, gara-gara pilihan politiknya. Yang paling kentara adalah menghilangnya acara talkshow Indonesia Lawyer Club (ILC) di TV One.

ILC yang diasuh Karni Ilyas adalah acara talkshow yang sangat populer, dengan jumlah penonton terbanyak. ILC selalu merajai rating dan share program sejenis. Dengan durasi terpanjang ILC juga menghasilkan iklan sangat besar.

Karena TV One, khususnya ILC dianggap banyak merugikan Ahok dan pemerintah, melalui berbagai jalur tangan-tangan Jokowi melakukan tekanan kepada keluarga Bakrie. Ical semula melawan berbagai tekanan tersebut. Namun sebagai pengusaha yang harus menyelamatkan nasib puluhan ribu karyawannya, dia memahami situasi yang tengah dihadapi.

Sebagai jalan tengah, ILC sementara ditiadakan, setelah sebelumnya hilang timbul. Jadilah Karni Ilyas “pengangguran sementara” karena bayi kesayangannya dianggap Jokowi dan orang-orangnya telah berubah menjadi anak nakal yang berbahaya.

Soal berhadapan dengan rezim penguasa bukan hal yang baru bagi Ical. Semasa Orde Baru dan posisi Presiden Soeharto masih sangat kuat, dia berani melawan. Pada tahun 1994 berlangsung kongres Kadin Indonesia. Pada saat itu Soeharto menginginkan posisi ketua umum dijabat Probosoetedjo, adik tirinya.

Pada masa itu keinginan Soeharto adalah sebuah titah yang harus terlaksana. Tapi Ical melawan dan posisi Ketum Kadin Indonesia berhasil direbutnya.

Sebagai petarung, fighter berpengalaman, Ical punya nyali yang luar biasa. Soeharto saja dia lawan, apalagi yang lain.

Dukungan Ical terhadap Anies-Sandi menjadi benderang ketika 15 orang mantan ketum HIPMI mendeklarasikan dukungan kepada Sandi (4/4) di Senayan Golf Club, Jakarta. Selain Ical, tercatat ada Abdul Latief, Ketua Umum HIPMI pertama dan Sutrisno Bachir.

Nama terakhir Sutrisno Bachir (SB) juga cukup menarik. Dia adalah Ketua MPP PAN dan jabatannya di pemerintahan Jokowi sebagai Ketua Komisi Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN). Pada Pilpres lalu SB berada di kubu yang berseberangan dengan Ical dan Prabowo. SB menjadi tim sukses Jokowi.

Karena Ahok, SB kemudian bersimpang jalan. Ibarat orang yang tengah salat berjamaah, SB mufaraqah alias memisahkan diri dan tidak lagi bermakmum kepada Jokowi.

Peta perkubuan dalam politik Indonesia memang sangat dinamis. Hari ini menjadi kawan, besok bisa menjadi lawan. Tergantung kepentingan. Namun dari Pilkada DKI 2017 kita bisa mengambil beberapa pelajaran.

Pertama, untuk menjadi politisi perlu nyali, perlu keberanian. Kedua, perlu stamina dan kesabaran. Ketiga, tahu momentum dan memanfaatkannya. Kapan harus frontal, kapan menahan dirinya. Keempat, tahu dan mampu untuk menentukan siapa yang harus menjadi kawan dan siapa yang menjadi lawan.

Di luar semua itu, POLITISI HARUS TETAP MENJAGA IDIALISME DAN KEYAKINANNYA AKAN KEBENARAN, SEKALIPUN HARGA YANG DIBAYAR SANGAT MAHAL.

Satu lagi yang harus dicatat, kita tidak bisa mengendalikan takdir. Nasib baik dan buruk. Ketika Tuhan berkehendak, maka terjadilah.

Faktor ini diluar kendali siapapun, termasuk politisi yang sudah sangat handal dan berpengalaman.

Cicero, tokoh dalam novel bergenre politik karya Robert Harris berjudul IMPERIUM, punya nasehat yang patut didengar “Kau dapat bermuslihat sesukamu di politik. Tetapi pada akhirnya semua bergantung pada peruntungan.”

Siapakah kali ini peruntungannya yang sedang baik? Aburizal, Jusuf Kalla, atau Jokowi? (*)

*Penulis adalah Jurnalis Senior dan Konsultan Media dan Politik

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita