Selasa, 19 Januari 2021

Bahaya Kapitalisasi Industri Makanan

Bahaya Kapitalisasi Industri Makanan

Oleh; Eep S. Maqdir (Kang Eep)

Banner Iklan Swamedium

Jakarta, Swamedium.com – Saya kaget membaca tulisan teman saya, bahwa di Amerika saja, makanan/pangan yang tidak dimakan dan dibuang hampir mencapai 40%. Komiditi pangan sebelum diijual di supermarket/pasar, terlebih dahulu mengalami penyortiran, baik dari segi bentuk, cacat/tidak, warna, ukuran, dan berat. Yang tidak lolos sortir menjadi produk kelas bawah, atau dibuang.

Belum lagi jika makan di restoran, banyak orang yang mengambil banyak, tetapi makan tidak dihabiskan. Jika dihitung dengan kebiasaan tersebut, kemungkinan makanan yang terbuang bisa mencapai 50%, bahkan lebih. Hanya dalam prosentase kecil dari sisa makanan itu yang kemudian diolah kembali menjadi pupuk atau kompos.

Banyak institusi pangan dunia selalu menggembar-gemborkan pentingnya meningkatkan hasil produksi pertanian dengan alasan konsumsi pangan penduduk dunia terus meningkat. Isu ini yang kemudian mendorong industri pangan berupaya melakukan apapun untuk meningkatkan kapasitas produksi pangan. Rekayasa genetik, penggunaan obat-obatan, hormon, bahan sintetis, pengawet, dan lainnya. Keamanan pangaan pun diabaikan, yang penting jumlah produksi pangan meningkat.
.
Memang benar, bertambahnya jumlah penduduk, tentu akan menambah kebutuhan pangan. Tetapi, apa iya sebesar seperti yang dihitung oleh mereka? Padahal, 50% pangan tersebut tidak dimakan oleh manusia, tetapi berujung menjadi sisa makanan (food waste).
.
Menurut majalah National Geographic tahun 2016, yang cukup mencengangkan ternyata negara terkaya di dunia (USA) mengalami “kelaparan”. Istilahnya ‘food desert’, banyak penduduk yang bergantung pada pangan yang diberikan oleh pemerintah. Mereka makan makanan cepat saji (fast food) karena harganya murah meskipun tidak bergizi. Mereka tidak punya akses dan kemampuan untuk beli pangan sehat, Bisa dilihat di (_http://www.nationalgeographic.com/foodfeatures/hunger/_).
.
Mungkin pendapat saya ini bisa disebut semacam teori konspirasi. Tetapi yang nampak di depan mata, pengelolaan pangan telah berubah menjadi kapitalisme yang sangat tamak dan rakus. Bibit harus beli, pupuk harus beli, obat-obatan harus beli, DOC ayam harus beli, kemudian pakannya harus beli ke perusahaan yang sama. Kalau tidak beli anakan ayam ke perusahaan tersebut, maka tidak diberi jatah pakan atau sebaliknya. Semua harga ditentukan oleh perusahaan bibit, pupuk, dan gurita usaha mereka, bukan oleh petani dan peternak. Petani tidak punya kuasa atas harga. Lagi-lagi, yang kebagian untung besar adalah kapitalis pangan tersebut.
.
Saya pernah dengar program kaum globalis dalam mengendalikan peradaban dengan 5F, yang diantaranya adalah Fun, Food, Fashion. Food atau makanan yang esensi awalnya digunakan untuk kehidupan manusia, diubah menjadi gaya hidup. Makanan tidak lagi untuk kebutuhan hidup sehat, tetapi menjadi pemenuhan hawa nafsu dengan menyajikan makanan yang tidak jelas halal haramnya, dibubuhi penambah rasa berbahaya, yang penting enak dan lezat.
.
Akibat dari gaya hidup seperti itu, kemudian timbul permasalahan kesehatan. Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk masalah kesehatan karena konsumsi pangan yang tidak sesuai kaidah kesehatan? Jangan-jangan gaya hidup mewah dan berlebihan itu sengaja diciptakan? Keseluruhan perputaran uang tersebut sangat besar, hanya untuk memenuhi nafsu syahwat hidup modern. Yang untung siapa? Ya para pengusaha (lebih tepatnya: kartel) di bidang pangan dan kesehatan yang pada umumnya pemiliknya masih itu-itu juga.
.
Uang mereka begitu besar, bisa menyuap beberapa pejabat pemerintah, beberapa pakar pendidikan, dan beberapa pakar kesehatan, untuk memuluskan sepak terjang mereka. Dibuatlah aturan-aturan yang melemahkan petani lokal, dibuatlah jurnal-jurnal tentang amannya pangan transgenik, amannya pestisida dan bahan sintetis, dan lainnya.
.
Ini baru teori konspirasi yah, aslinya mari kita telaah saja bareng-bareng 🙂
.
Penulis
Ketua Swadaya Petani Indonesia

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita