Kamis, 28 Mei 2020

Din Syamsuddin: Jangan Anggap Remeh Kasus Penistaan Agama

Din Syamsuddin: Jangan Anggap Remeh Kasus Penistaan Agama

Foto: Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin. (ist)

Jakarta, Swamedium.com – Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin menyampaikan, Indonesia sangat majemuk sehingga memerlukan toleransi dan kerukunan sejati.

Oleh karenanya, tidak boleh ada seseorang atau sekelompok orang memasuki wilayah keyakinan orang lain agar kerukunan dan toleransi di negara yang sangat majemuk ini dapat terjaga.

“Masyarakat Indonesia yang majemuk ini, berdasar agama, suku, bahasa, dan budaya itu memerlukan toleransi tinggi, memerlukan kerukunan sejati, bukan toleransi dan kerukunan basa-basi,” kata Din usai rapat pleno ke-17 di Kantor MUI, Rabu (26/4) petang seperti dilansir republika.

Din menjelaskan, yang dimaksud kerukunan dan kemajemukan sejati adalah setiap elemen masyarakat dan setiap orang harus menghormati orang lain dengan tidak ikut campur keyakinan orang lain.

“Sekali lagi, dalam alam kemajemukkan tidak boleh ada yang memasuki wilayah keyakinan yang sensitif itu, dalam bentuk apapun,” tandasnya.

Din mendesak agar pihak yang melakukan ujaran kebencian harus diproses dalam proses hukum.

Namun, saat proses hukum atas kasus penodaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sudah berjalan sangat lama sampai menguras waktu dan pikiran, tiba-tiba terjadi dagelan penundaan tuntutan tanpa alasan. Bahkan, tuntutannya pun cenderung untuk membebaskan terdakwa.

“Kami nilai ini sebagai permainan terhadap hukum, maka Dewan Pertimbangan MUI tadi dalam Tausiyah Kebangsaan, jangan menganggap remeh persoalan penistaan agama ini. Kalau ini dibiarkan dibebaskan itu akan ada ujaran-ujaran kebencian, potensial menimbulkan perpecahan bangsa ini,” pungkasnya. (*/ls)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.