Minggu, 07 Juni 2020

Membaca Pesta Kembang Balai Kota

Membaca Pesta Kembang Balai Kota

Foto: Pemerhati Masalah Sosial Politik, Iswandi Syahputra. (ist)

Oleh: Iswandi Syahputra*

Jakarta, Swamedium.com – Saat kalah tipis dalam Pilkada DKI 2012, pendukung Foke tidak sampai pamer massa dan pesta kembang. Walaupun Foke sanggup membayar massa untuk itu. Demikian juga pendukung Prabowo saat kalah tipis dalam Pilpres 2014. Walaupun Foke sanggup membayar massa untuk itu. Apa artinya?

Ini menunjukkan bahwa demokrasi selalu menyisahkan kalah dan menang dalam sebuah kompetisi politik. Tapi tetap mengajarkan menerima kekalahan politik untuk menjadi pelajaran pada kompetisi berikutnya.

Saat pendukung Foke dan Prabowo kalah, mereka memilih menerima atau menempuh jalur hukum yang tersedia daripada aksi demonstrasi atau aksi simpati. Mengapa mereka menerima hasil Pilkada 2012 atau Pilpres 2014? Itu karena bukan sistem politiknya yang baik, tapi karena pemilihnya yang rasional.

Menerima kekalahan dalam suatu pemilu yang demokratis sama terhormatnya dengan menang dalam suatu pemilu yang demokratis. Rasionalitas publik menjadi konsep penting untuk menghidupkan demokrasi rasional, bukan demokrasi emosional yang selalu ditampilkan layaknya telenovela.

Namun hal serupa tidak terjadi pada pendukung Ahok yang kalah pada Pilkada DKI 2017. Kekalahan dalam satu kompetisi pilkada tersebut agaknya belum dapat diterima dengan legowo. Sehingga berbagai memori emosional harus dibangkitkan agar perasaan ‘merasa menang’ tetap terawat. Setidaknya perasaan menang itu adalah aset yang diciptakan untuk kompetisi Ahok berikutnya, entah kapan, entah dimana. Entahlah.

Sehingga pesta kembang di Balai Kota untuk Ahok setidaknya menunjukkan 2 hal, yaitu pertama, pendukung Ahok masih berada pada level pemilih emosional bukan pemilih rasional. Pemilih jenis ini akan sulit move on dan selalu mencari-cari kelemahan pemenang. Ini tidak baik bagi pertumbuhan demokrasi yang sehat.

Demokrasi akan menjadi legitimasi bagi seluruh tindakan emosional. Sehingga menjadi demokrasi emosional namanya. Mungkin pendukung Ahok tidak sadar ini mengancam demokrasi yang sehat karena mereka lakukan dengan gembira bahkan mungkin karena dibayar.

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.