Kamis, 13 Mei 2021

Menjawab Tantangan Sejarah

Menjawab Tantangan Sejarah

Oleh; Prabowo Subianto

Banner Iklan Swamedium

Yang ingin saya lakukan adalah mendorong perubahan besar pada bangsa Indonesia. Saya ingin menyelamatkan masa depan bangsa Indonesia. Saya ingin membangun sistem politik dan sistem ekonomi yang kuat dan bersih, yang membela rakyat dan yang membangun bangsa ini.

Saya ingin mencegah bangsa ini menjadi bangsa korupsi. Saya tidak ingin Republik kita menjadi republik maling. Saya tidak ingin Republik kita hancur karena uang rakyat dirampok oleh sekelompok pemimpin-pemimpinnya yang tamak.

Tujuh puluh tahun kita merdeka, kita bangun bangsa, tapi hari ini kita seperti jadi tamu di rumah kita sendiri. Tujuh puluh tahun kita merdeka, rakyat kita tidak punya apa-apa. Tujuh puluh tahun kita merdeka, negara kita tiap tahun harus pinjam uang. Negara kita seolah begitu miskin.

Saya percaya kita mampu dan kita harus dan kita wajib menghapus kemiskinan di Indonesia. Kita wajib memastikan ‘mimpi Indonesia’ ada dan nyata. Anak para petani harus bisa jadi professor. Anak buruh harus bisa jadi jenderal. Anak nelayan harus bisa jadi orang kaya dan anak pedagang kaki lima harus bisa punya restoran. Itulah cita-cita Republik Indonesia. Anak orang miskin tidak boleh miskin terus menerus. Untuk apa kita merdeka, kalau kita membiarkan orang miskin hidup terus menerus di Republik ini.

Tantangannya adalah beranikah kita mengoreksi diri sendiri? Dan, karena itu juga harus ada keberanian untuk mendidik rakyat kita bahwa perlu ada perubahan di negara kita. Karena, kalau tidak, kita tidak bisa mengatasi dua masalah besar yang ada di buku ini. Saya kira ujungnya adalah sesuatu yang tidak kita inginkan.

Pilihan dan Perjuangan Kita Sulit

Bagi saya, masuk ke politik adalah pengorbanan. Pengorbanan tenaga, waktu dan perasaan. Tetapi, jika kita tidak masuk ke politik, tidak mungkin saya bisa masuk untuk memperbaiki kehidupan rakyat saya. Kita tidak bisa hanya mengomel-ngomel dan mengkritik. Tidak mungkin kita bisa memperbaiki bangsa hanya dengan menjadi pengamat.

Adakalanya dalam hidup, kita harus membuat pilihan sulit. Apakah akan membela kebenaran atau merestui ketidakbenaran? Apakah kita berdiri tegak untuk membela keutuhan bangsa, kemandirian bangsa dan nilai-nilai yang kita junjung tinggi? Atau, kita menyerah pada uang, kita menjual nilai-nilai kita, kita menjual diri kita, kita menjual kepribadian kita, kita menjual harga diri kita.

Dalam perjalanan politik saya 10 tahun terakhir, saya membawa pesan yang kurang lebih sama dengan apa yang terkandung di dalam buku ini. Dalam perjalanan saya, banyak lawan yang selalu hendak mendiskreditkan saya. Saya digambarkan sebagai seorang yang haus kekuasaan, yang nafsu untuk berkuasa. Dan, saya digambarkan sebagai seorang yang suka menggunakan kekerasan, yang kejam dan sebagainya. Padahal, saya telah membuktikan setelah sekian belas tahun, bahwa saya selalu mengutamakan jalan damai.

Saya seorang mantan prajurit yang mengerti perang, pernah melihat perang. Saya pernah melihat korban perang. Komandan yang saya hormati gugur di tangan saya, anak-anak buah saya yang baik gugur di sekitar saya. Saya yang harus datang ke keluarga mereka, ibu-ibu mereka, istri mereka, orang tua mereka untuk memberitahu putranya telah gugur. Karena itu, saya selalu ingin jalan damai.

Fitnah-fitnah yang mereka lontarkan sungguh keji. Saya dituduh ingin menutup semua gereja di Republik Indonesia, padahal keluarga saya sebagian Kristen. Bahkan di sekitar saya, pengawal, ajudan, sekretaris saya ada yang nasrani.

Saya mantan prajurit TNI. Sumpah saya membela seluruh rakyat Indonesia tanpa membedakan suku, agama dan ras. Saya telah mempertaruhkan nyawa saya dan banyak anak buah saya dari berbagai suku dan agama telah gugur di bawah komando saya. Bagaimana bisa saya melanggar sumpah saya dan melupakan pengorbanan anak buah saya?

Saya juga telah difitnah anti etnis Tionghoa. Padahal, saya selalu membela semua kelompok minoritas. Fitnah-fitnah itu adalah bagian yang keji dari politik. Jangan kita balas kedengkian dengan kedengkian. Jangan kita balas kejahatan dengan kejahatan. Jangan kita balas fitnah dengan fitnah.

Saya telah memilih berjuang di landasan konstitusional. Saya sangat sulit menyerah kepada keadaan yang tidak benar dan tidak adil. Saya menilai keadaan ini adalah sarat dengan campur tangan asing. Ada negara-negara tertentu yang ingin Indonesia lemah, yang ingin Indonesia hancur, yang ingin Indonesia miskin. Saya telah memiliki bukti-bukti cukup kuat tentang keterlibatan mereka.

Kita Memimpin Dengan Dawuh Fatwa

Jika dalam membaca buku, saudara mendapatkan pelajaran-pelajaran yang berharga, ingatlah filosofi pendekar. Jangan gunakan ilmu yang saudara miliki untuk yang tidak benar. Ilmu harus dipakai untuk membela yang lemah, membela yang tidak bisa membela dirinya sendiri.

Saudara harus turun gunung, turun dari menara gading. Harus berani memimpin rakyat. Memimpin dengan ilmu. Memimpin dengan dawuh fatwa. Karena, sesungguhnya saudara termasuk the best and the brightest brains of the country. Carilah orang-orang yang hatinya merah putih. Hatinya, Pancasila. Hatinya Indonesia terhormat. Indonesia berdiri di atas kaki sendiri. Bangunlah jawara-jawara yang membela orang miskin, membela orang lemah.

Kita Tidak Boleh Tinggal Diam

Saking pintarnya, mereka jadi pintar bohong semua.Saya masuk politik karena terpaksa. Minta ampun politik ini. Dari 15 orang yang saya temui di politik, 14 orang bohong semua. Makanya saya semangat meilihat saudara-saudara yang semangat mengetahui situasi dan kondisi bangsa kita yang sebenarnya.

Sekarang kuncinya, kembali kepada apa yang Edmund Burke pernah katakana,”If everybody keeps quiet,” Kalau semua orang diam, yang akan memimpin dan berkuasa adalah orang-orang yang tidak baik.

Inilah Cara Kita Merdeka

Negara kita saat ini ada pada kondisi yang kita tidak boleh seenaknya. Kita harus waspada. Kita harus saling mengingatkan. Kita harus saling mendukung. Katakanlah yang benar, benar. Dan, katakanlah yang salah, salah.

Kita harus percaya bahwa kekuatan kita besar. Namun kekuatan kita ini harus kita susun dan selalu kita rawat.Ya, dari orang ke orang, susunlah kekuatan. Lima orang demi lima orang, nanti sepuluh orang demi sepuluh orang. Adakah diskusi. Bahas isi buku ini di rumah masing-masing.

Satyagraha, Landasan Perjuangan Kita

Mari kita laksanakan perjuangan kita diatas landasan ‘satyagraha’ yang telah diberi contoh di india oleh Mahatma Gandhi dan di Amerika oleh Martin Luther King dan di Afrika Selatan oleh Nelson Mandela. Satyagraha artinya perjuangan tanpa kekerasan, perjuangan tanpa henti yang berlandaskan kebenaran.

Kita harus siap menghadapi kesulitan. Kita harus siap menghadapi penderitaan. Tapi pilihannya apa? Kita menyerah seperti budak yang disuruh duduk, duduk? Disuruh berdiri, berdiri? Disuruh tunduk, tunduk? Disuruh diam, diam? Disuruh ambil air, ambil air? Atau kita jadi bangsa yang terhormat, bangsa yang mengerti, membela haknya, membela hak-hak rakyat?

Dalam perjuanganmu , jangan pernah menghardik, jangan mencela orang lain, tapi percaya kepada diri kita sendiri dan selalu bimbing rakyat. Beri tahu kepada mereka bawa yang benar itu benar dan yang benar pada akhirnya akan menang.

Kita juga tidak boleh berjuang hanya untuk mencari kursi jabatan. Namun jangan juga kita tidak berpartisipasi dalam demokrasi elektoral yang sudah dibangun. Kursi kekuasaan harus direbut dengan baik, dengan terhormat, dengan halal, dengan konstitusional, dengan demokratis oleh orang-orang yang hatinya merah putih.
Kekuasaan harus digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat seluruhnya.

Di Gerindra Atau Tidak, Kita Tetap Bergerak Berjuang Bersama

Saudaraku, apa yang saya sampaikan di buku memang pahit. Karena itu, saya sekarang fokus membangun suatu partai politik yang adalah partai massa, tapi dipimpin oleh kader-kader yang punya ideologi. Ideologi apa? Ideologi GERINDRA adalah 17 Agustus 1945, UUD 1945, dan Pancasila sebagai jaminan kerukunan persatuan bangsa.

Benar yang dikatakan Bung Karno. Bangsa kita harus punya keberanian. Hanya rakyat yang berani mempertahankan hartanya sendiri, kekayaannya sendiri, hanya rakyat seperti itulah yang akan mendapat kemakmurannya.

Sekarang saatnya saudara menjadi guru di tengah rakyat. Bangkitkanlah kesadaran rakyat bahwa Allah SWT tidak akan mengubah nasib suatu kaum, manakala kaum itu tidak mau mengubah nasibnya sendiri.

Jangan sekali-sekali kita lupa sejarah kita. Bahwa kita berasal dari bangsa yang berani. Bangsa yang tidak takluk siapapun. Bangsa yang punya kehormatan. Bangsa yang punya cita-cita. Bangsa yang ingin hidup seperti bangsa-bangsa lain. (tamat)

Penulis
Ketua Umum Partai Gerindra

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita