Senin, 18 Januari 2021

Hubungan Buruh-Majikan Sesuai Syariah

Hubungan Buruh-Majikan Sesuai Syariah

Jakarta, Swamedium.com – Hubungan buruh dan majikan saat ini banyak yang tidak harmonis. Terbukti, aksi demo masih mewarnai setiap peringatan Hari Buruh pada 1 Mei. Buruh selalu merasa diposisi tertindas, sementara majikan diposisikan sebagai penindas. Ditambah lagi, sesama buruh pun ada stigma perbedaan kasta di masyarakat.

Banner Iklan Swamedium

Terbukti, selalu ada perdebatan soal siapa yang berhak disebut buruh, setiap menyongsong peringatan Hari Buruh. Pekerja kantoran mengklaim tidak termasuk dalam golongan buruh, sehingga kerap ‘cuek’ atau menolak berpartisipasi saat perayaan Hari Buruh.

Padahal, siapapun Anda (staf sampai direksi) sekalipun, selama Anda masih jadi orang gajian atau memiliki majikan, itu artinya Anda juga buruh. Karena itu, tidak sepatutnya jika pekerja kantoran merasa kastanya lebih tinggi dari buruh di pabrik.

Bahkan, para jurnalis yang suka meliput Hari Buruh pun juga seorang buruh. Jurnalis bekerja untuk mendapatkan imbalan dari perusahaan media, tempatnya bekerja. Jurnalis juga punya majikan, kecuali Anda pemilik modalnya.

Di Indonesia, buruh memang sering dikonotasikan sebagai pekerja kasar, hanya memakai otot atau sedikit memakai otak. Sedangkan kelas karyawan dianggap lebih tinggi karena bekerja lebih banyak dengan memakai otak daripada otot.

Berdasarkan pada cara bekerjanya itu, ada yang mengklasifikasikan buruh menjadi dua. Pertama, buruh kasar yang lebih banyak menggunakan otot daripada otak dalam bekerja. Kedua, buruh kerah putih yang lebih banyak menggunakan otak daripada otot dalam bekerja.

Apapun klasifikasinya, baik buruh, karyawan ataupun pekerja sejatinya kedudukannya sama di mata hukum jika kita merujuk pada Undang-Undang No.13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan Bab 1 Pasal 1 ayat 2. Dalam UU tersebut, yang dimaksud tenaga kerja atau buruh adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat.

Soal imbalan kerja, baik buruh, pekerja maupun karyawan, kalau bekerja di perusahaan sebagai tenaga kerja tetap, biasanya akan mendapatkan imbalan setiap bulannya. Sebaliknya, kalau pekerja lepas, seperti buruh bangunan, imbalannya bisa harian, mingguan atau bulanan, tergantung kesepakatan masing-masing.

Hubungan Buruh dan Majikan

Islam sebagai agama yang lengkap telah mengatur hubungan antara buruh-majikan sekaligus hak dan kewajibannya masing-masing. Hubungan buruh dengan majikan merupakan wujud hubungan antar manusia (muamalah) yang diatur dalam syariah Islam.

Dalam Islam, baik buruh maupun majikan perlu mengedepankan nilai-nilai luhur Islam dalam bermuamalah, diantaranya nilai tauhid, taqwa, adil, jujur dan amanah. Berikut ini berbagai pendapat mengungkapkan nilai luhur dalam muamalah tersebut:

Pertama, tauhid maknanya mengesakan Allah swt. Baik buruh maupun majikan haruslah sama-sama beriman kepada Allah swt, mengesakan Allah swt, sehingga dalam menjalankan pekerjaan/usaha mereka semua memiliki niat mencari keridloan Allah swt semata.

Kedua, baik buruh maupun majikan melaksanakan hubungan kerja dilandasi dengan ketaqwaan kepada Allah swt, dan tidak akan melakukan pekerjaan yang dilarang oleh agama.

Ketiga, buruh dan majikan melakukan hubungan kerja secara adil dengan mengedepankan kewajiban untuk mendapatkan hak masing-masing.

Keempat, buruh dan majikan melakukan hubungan kerja secara terbuka dari awal menandatangani kontrak/ kesepakatan kerja hingga proses pelaksanaan kerja, masing-masing berlaku jujur dan terbuka.

Kelima, keduanya sama-sama memegang amanah, melakukan pekerjaan/usaha sebagai wujud menunaikan amanah Allah swt dan masing-masing menunaikan amanah atau tanggung jawab yang disepakati.

Adab Terhadap Buruh

Hak buruh atau pekerja merupakan kewajiban yang harus dipenuhi oleh majikan atau pengusaha. Bahkan Islam menyebut seorang majikan itu dzolim jika senang mengulur-ngulur waktu dalam memberikan gaji kepada buruh/karyawannya.

Adapun beberapa kewajiban yang harus dipenuhi oleh seorang majikan terhadap pekerja diantaranya adalah:

Pertama, Islam memposisikan buruh sebagaimana saudara majikannya. Dari Abu Dzar ra, Nabi saw bersabda: “Saudara kalian adalah buruh kalian. Allah jadikan mereka di bawah kekuasaan kalian.” (HR. Bukhari) Nabi saw menyebut buruh sebagaimana saudara majikan agar derajat mereka setara dengan saudara, sehingga akan memperlakukannnya dengan baik.

Kedua, seorang majikan tidak boleh memberikan tugas pekerjaan kepada buruh yang berlebihan, tidak memberikan upah sesuai dengan yang disepakati, menekan untuk melakukan pekerjaan yang berlebihan dan melewati waktu kerja.

Rasulullah SAW melarang memberikan beban tugas kepada buruh melebihi kemampuannya. Jika terpaksa itu harus dilakukan, beliau perintahkan agar sang majikan turut membantunya. Kecuali ada kesepakatan dengan membayar kelebihan beban yang tidak ada dalam kesepakatan awal.

Dalam hadis Abu Dzar ra, Nabi bersabda: “Janganlah kalian membebani mereka (pekerja), dan jika kalian memberikan tugas kepada mereka, bantulah mereka.” (HR. Bukhari)

Ketiga, seorang majikan harus memperhatikan dan mengutamakan pemberian upah/gaji bagi pekerja. Nabi saw mewajibkan para majikan untuk memberikan gaji pegawainya tepat waktu, tanpa dikurangi sedikit pun. Dari Abdullah bin Umar ra, Nabi saw bersabda: “Berikanlah upah pekerja (buruh), sebelum kering keringatnya.” (HR. Ibn Majah).

Rasulullah sangat memperhatikan penghargaan terhadap seorang pekerja. Masalah upah merupakan hal yang terpenting untuk didahulukan. Dengan nilai keadilan dalam Islam, maka bagaimana seorang pekerja merasa cukup dengan upah yang diterimanya dan upah itu sebanding dengan kontribusi yang telah mereka berikan kepada majikan (perusahaan).

Keempat, dianjurkan memperhatikan kesejahteraan para buruh. Misalnya tentang kebutuhan akan pernikahan, keluarga, rumah, pendidikan dan kebutuhan lain untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas pekerjanya, sehingga para buruh merasa kehidupannya tercukupi dan lebih tenang serta tentram hatinya.

Kewajiban Buruh

Jika hak-hak buruh yang menjadi kewajiban para majikan atau pengusaha ditunaikan, maka dengan sendirinya para buruh akan memenuhi kewajibannya sebagai seorang pekerja, diantaranya: Pertama, para buruh harus melakukan pekerjaan dengan jujur, ikhlas dan berkualitas.

Buruh diharapkan bisa bekerja secara optimal sehingga produktivitasnya meningkat. Dengan demikian, juga sakan meningkatkan hasil bagi sang majikan/perusahaan. Dampaknya, kesejahteraan pekerja pun akan meningkat pula. Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya Allah mengasihi ketika salah seorang dari kalian yang melakukan sesuatu pekerjaan maka ia melakukannya dengan baik,”

Kedua, para buruh hendaknya menghindari perbuatan penipuan dan pengkhianatan selama bekerja dalam keadaan bagaimanapun juga. Seperti korupsi waktu, barang atau aset majikan berapapun nilainya. Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”. (QS Al-Anfaal, 8: 27).

Ketiga, para buruh hendaknya menyerahkan hasil atau keuntungan kerjanya kepada majikan, karena hal ini merupakan bentuk menunaikan amanah atau tanggung jawab. Rasulullah saw bersabda : “Seorang bendahara yang amanah, yang menunaikan apa yang diperintahkan kepadanya dengan senang hati, termasuk orang yang bershadaqah”

Tidak boleh seorang pekerja mengambil sesuatu untuk dirinya karena itu merupakan pengkhianatan. Sebagaimana ia juga tidak boleh menyerahkan keuntungan kepada selain majikannya. Sesungguhnya itu adalah kedzhaliman.

Keempat, tidak meminta upah diluar kesepakatan, kecuali majikan ridho. Jika tidak ridho maka hanya ada dua pilihan, mencari kerja di tempat lain atau bersabar sambil berdoa.

Jika hubungan antara buruh dengan majikan bisa dijalankan sesuai dengan syariat Islam, maka akan terjadi hubungan kerja yang harmonis dan penuh persaudaraan. Semua ini akan menghasil keberkahan bagi keduanya. (maida)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita