Rabu, 27 Mei 2020

Inilah Logika dalam Istilah Kafir

Inilah Logika dalam Istilah Kafir

Jakarta, Swamedium.com – Banyaknya orang nonmuslim yang tersinggung dengan istilah KAFIR dan memberikan sumpah serapah kepada ulama yang dianggap mengkafir-kafirkan orang nonmuslim sungguh sulit dimengerti bagi muslim, termasuk Jonru.

Dia pun mencoba memberikan penjelasan tentang makna KAFIR dan mengajak berlogika. Mari disimak!

Kata Jonru, misalnya kulit kamu putih mulus bersih berseri. Lalu ada orang yang mengejek, “Hei, hitam pekat! Kamu ini orang atau arang!”

Apakah kamu marah? Pasti tidak. Karena kamu tidak merasa hitam seperti arang.
Lantas sebaliknya, kulit kamu memang hitam pekat seperti arang. Lalu ada orang yang mengejek, “Hei, arang. Boleh dong gue pake kamu untuk bakar sate?”

Apakah kamu marah?

Pasti ada rasa marah, tersingung atau sakit hati, walau dalam skala yang paling kecil sekalipun.
Kenapa? Karena kamu merasa diejek, kekurangan atau aib kamu diungkit dan dijadikan bahan ledekan.

Mari gunakan logika yang sama untuk istilah KAFIR.

Banyak sekali teman nonmuslim yang marah atau protes ketika disebut kafir. Padahal istilah “kafir” itu hanya soal status. Sama seperti ucapan “SBY, orang Jawa” atau “Ahok, Orang China” atau “Obama, Orang Amerika”. Itu hanya status. Tak lebih dan tak kurang.

Kafir adalah mereka yang tidak menyembah Allah SWT dan tidak percaya Muhammad sebagai Rasulullah. Hanya sesederhana itu. Just that simple.

(Karena hanya soal status, maka TAK PERLU dikaitkan dengan masalah moral). Misalnya “Lebih baik kafir tapi bersih daripada muslim tapi korupsi.” Siapapun bisa jadi koruptor, tidak peduli apapun statusnya, apapun agamanya.

Status kafir TAK ADA KAITAN LANGSUNG dengan moral. Saya punya teman yang nonmuslim atau kafir, tapi pribadi mereka sungguh terpuji. Jadi tak perlu mengaitkan status kafir dengan moral. Sebab bisa jadi sangat rancu.

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.