Kamis, 15 April 2021

Keadilan Sosial Sulit Terwujud Tanpa Perbaikan Struktur Ekonomi

Keadilan Sosial Sulit Terwujud Tanpa Perbaikan Struktur Ekonomi

Foto: Ekonom Senior dan mantan Menko Maritim Dr Rizal Ramli. (ist)

Jakarta, Swamedium.com — Ekonom Rizal Ramli mengumpamakan struktur ekonomi Indonesia saat ini bagai gelas anggur yang dikuasai oleh kelompok bisnis besar dan BUMN tidak efisien yang kebanyakan hanya’jago kandang’ sehingga merugikan rakyat. Karena itu, untuk mewujudkan keadilan sosial, pemerintah harus memperbaiki struktur ekonominya terlebih dahulu.

Banner Iklan Swamedium

Hal tersebut disampaikan oleh Rizal Ramli yang juga mantan Menko Ekuin di era Gus Dur dan mantan Menko Maritim dan Sumber Daya di era Presiden Jokowi dalam diskusi nasional bertema ‘Potensi Ekonomi Indonesia dalam Memacu Peningkatan Kesejahteraan Rakyat’ di Universitas Kebangsaan, Bandung, akhir pekan kemarin.

Dia menjelaskan struktur ekonomi bagai gelas anggur yang tak adil itu merupakan hasil kebijakan ekonomi di era Orde baru dan Baby Orba selama 40 tahun terakhir. Baby Orba merupakan istilah yang diberikan oleh para elit politik kepada Presiden SBY saat itu yang dinilai mengikuti gaya orde baru.

Dalam struktur ekonomi tersebut, Rizal melanjutkan di bagian atas gelas anggur dikuasai oleh kelompok bisnis besar dan BUMN tidak efisien yang kebanyakan hanya “jago kandang” sehingga sering menjadi beban negara.

“Pegangan gelas anggur tersebut sangat tipis, yang menunjukan kecilnya golongan menengah dan usaha skala menengah yang independen. Sedangkan di bagian bawah dari gelas anggur tersebut sangat besar yang menunjukan puluhan juta usaha kecil dan ekonomi rakyat,” imbuhnya.

Oleh karena itu, Rizal mengingatkan bahwa perubahan perekonomian harus dimulai dari struktur ekonomi, baru kemudian merumuskan kebijakan. Sebagai seorang teknokrat ekonomi strukturalis, Rizal menilai, Pendekatan generik bukan solusi bagi ekonomi Indonesia.

Pendekatan generik merupakan salah satu pendekatan strategi bersaing yang dimunculkan oleh Michael Porter, di mana strategi itu ada 3 kategori, yaitu cost leadership (keunggulan biaya menyeluruh), differentiation (diferensiasi), serta focus.

Rizal Ramli melihat, banyak ekonom atau pakar ekonomi yang tidak mencoba melihat struktur ekonomi Indonesia, sehingga akar masalahnya tidak terjawab. Bagian atas yang besar merupakan pengusaha-pengusaha besar, sedangkan bagian bawah yang kecil merupakan pengusaha menengah dan pengusaha kecil.

“Karena struktur ekonomi Indonesia saat ini bagaikan gelas anggur, maka ekonomi rakyat yang merugi. Struktur di bagian atasnya banyak pengusaha besar yang tidak efisien, namun terus dibantu untuk lebih menjadi besar” ujar dia.

Menurut dia, kebijakan penting saat ini sudah banyak dibeli oleh pengusaha besar. Padahal ada sekitar 40 juta usaha kecil rumah tangga yang masih kesulitan selama struktur ekonomi masih terus begini. Kondisi demikian, ungkap dia, yang disebut dengan sosialisme yang terbalik.

“Dan sosialisme yang terbalik menjadi sumber ketidakadilan sosial. Selama struktur ekonomi di Indonesia masih seperti ini, jangan bermimpi tentang keadilan dan kedaulatan ekonomi kerakyatan,” tegas dia.

Diakuinya, ekonomi secara historis mungkin tumbuh, rata-rata 5 – 6% per tahun, namun secara komparatif kita jauh ketinggalan. Contohnya, kata Rizal, 40 tahun lalu, ekonomi China, Korea, Taiwan, Thailand, Malaysia dan Singapura masih di bawah Indonesia.

“Tapi sekarang semua negara itu sudah jauh lebih maju dibanding kita. Bahkan Vietnam sudah hampir mendahului kita,” kata Rizal.

Rizal melanjutkan ekonomi yang sesuai konstitusi (UUD 45) adalah tentang membuat terobosan.

“Artinya berpikir out of the box. Kita tidak didikte oleh doktrin bahwa Indonesia memiliki comparative advantage (keunggulan komparatif) yang statis,” jelas dia.

Rizal berpendapat keunggulan komparatif itu dinamis. Karena itu, Indonesia tidak boleh berhenti hanya menjadi pengekspor bahan mentah. “Ketika kita mengolah kekayaan alam, desain rancang bangunnya sudah mencakup penghiliran industri,” imbuhnya.

Rizal mencontohkan, ketika menjadi Menko meminta Blok Marsela agar dibangun di darat (bukan offshore). Harapannya adalah agar di kemudian hari bisa dibangun industri petrokimia sebagai industri hilir.

“Selama ini, Indonesia hanya mengekspor, diantaranya ke Taiwan. Setelah itu kita membeli produk petrokima ke mereka. Taiwan mendapatkan nilai tambah yang sangat besar, sedangkan kita ekspor bahan mentah dengan nilai tambah kecil. Kita disusul dan ditinggalkan oleh banyak negara lain karena kita bagaikan kerbau yang mengikuti begitu saja resep generik bikinan World Bank,” cetusnya.

Akibatnya, menurut Rizal, kesenjangan ekonomi tinggi, pengangguran dan kemiskinan tidak berkurang. Rizal melanjutkan pengalaman yang sama terjadi juga di sejumlah negara di Amerika Latin akibat sekedar mengikuti nasehat Bank Dunia dan IMF.

“Kita kaya dengan sumber daya alam, namun tidak mesti kita menggantungkan diri kepada SDA (sumber daya alam) saja. SDA harus dianggap sebagai modal untuk menghantarkan SDM kita pada taraf kemajuan dan kemampuan kompetisi tingkat dunia. Jadi comparative advantage kita bergerak dari SDA ke SDM,” tuturnya.

Dikatakannya, jembatan dari perubahan tersebut adalah strategi. Apa strategi politik dan ekonomi untuk mewujudkannya? Strategi inilah yang membutuhkan terobosan atau pemikiran tidak standar (out of the box), keluar dari doktrin bahwa Indonesia memiliki keunggulan komoaratif statis yang didiktekan oleh Bank Dunia. (maida)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita