Sabtu, 24 April 2021

KH Bachtiar Nasir Dinobatkan Jadi Tokoh Perbukuan IBF 2017

KH Bachtiar Nasir Dinobatkan Jadi Tokoh Perbukuan IBF 2017

Foto: KH Bachtiar Nasir menerima penghargaan tokoh perbukuan Islamic Book Fair 2017. (swamedium)

Jakarta, Swamedium.com – Pimpinan AQL Islamic Center KH Bachtiar Nasir dinobatkan menjadi Tokoh Perbukuan Islamic Book Fair (IBF) 2017 di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Rabu (3/5).

Banner Iklan Swamedium

Sekretaris Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Mappa Tutu mengatakan, pemilihan dan penetapan Tokoh Perbukuan Islam IBF 2017 sudah melalui proses yang ketat dengan berbagai penilaian dan sepak terjang tokoh yang masuk nominasi.

“Cukup sulit menentukan Tokoh Perbukuan IBF 2017 karena banyak tokoh yang masuk nominasi dan semuanya memenuhi syarat. Namun kita harus mencari yang terbaik di antara mereka,” kata Mappa Tutu saat pembukaan IBF 2017 di JCC Senayan, Rabu (3/5).

Sebelum menyerahkan penghargaan kepada pria yang akrab disapa UBN itu, dia terlebih dulu mengumumkan biodata tokoh yang dimaksud yakni selain sebagai penulis, juga dikenal sebagai pendakwah, aktivis, pendidik, serta penggerak keumatan.

“Namun, UBN lebih senang disebut sebagai guru ngaji,” ujar Mappa Tutu.

Dia juga menyebutkan sederet prestasi dan kiprah KH Bachtiar Nasir di dunia dakwah, pendidikan, perbukuan, organisasi, serta sebagai pencetus tadabbur al-Qur’an di Indonesia melalui AQL Islamic Center.

“Tak lupa juga kiprah Ketua Alumni Universitas Islam Madinah itu sebagai Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) yang berhasil mengomandoi Aksi Bela Islam dengan damai, bermartabat, dan terbesar sepanjang sejarah setelah kemerdekaan RI,” tutut Mappa Tutu.

Saat memberikan sambutan, UBN mengatakan, ada satu pegangan yang menjadi prinsip hidup saya terkait keilmuan yaitu, surat Ali Imran ayat 18, “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS Ali Imran: 18)

UBN mengatakan, ukuran derajat keilmuan seseorang itu dilihat dari rasa takutnya kepada Allah SWT bukan dari sedikit banyaknya karya tulisnya. Oleh karena itu, Imam Bukhari menulis Shahih Bukhari dimulai dengan bab niat. Seorang ayah bijaksana berkata kepada anaknya,

“Setiap kali kamu bisa menulis satu kalimat ilmu berhentilah sejenak lalu tanyakan pada hatimu, bertambahkah rasa takutmu kepada Allah SWT? Jika tidak, maka jangan teruskan. Tidak ada yang bertambah dari ilmumu ketika tidak bertambah takutmu kepada Allah,” katanya.

UBN melanjutkan, seorang ulama jika selesai menulis buku dan yakin bahwa itu spektakuler kemudian muncul kesombongan dalam jiwanya maka dirobek semua buku itu ketika buku itu tidak membekas rasa takut kepada Allah SWT setelahnya. Tetapi itu saja tidak cukup, apalagi saat ini di Indonesia.

“Jika hanya pintar kemungkinan besar kita akan melenceng, tidak cukup hanya cerdas dibutuhkan keberanian untuk menegakkan keadilan sebagai seorang ilmuwan,” tuturnya.

UBN berpendapat bahwa Islam dan umat Islam Indonesia sudah diberikan izzahnya oleh Allah SWT dan perjuangan terakhir adalah menegakkan keadilan Bela Islam. Ini adalah pertarungan hidup yang paling tinggi khususnya di Indonesia.

“Pertama, menegakkan struktur sosial Islam. Jika ingin kuat fatwa ulama harus menjadi pegangan umat Islam. Kedua, kepemimpinan informal ulama harus menjadi bagian dari budaya Islam Indonesia. Ketiga, delegitimasi ulama dan delegitimasi majelis ulama adalah puncak keruntuhan umat Islam di Indonesia. Karena itu petaruhannya adalah antara hidup dan mati demi islam di Indonesia dan kita perjuangkan bersama,” jelasnya. (*/ls)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita