Kamis, 15 April 2021

Polemik Peringkat Ekonomi, GEPRINDO: Mungkin Maksud Presiden Peringkat ke-3 Negara G20

Polemik Peringkat Ekonomi, GEPRINDO: Mungkin Maksud Presiden Peringkat ke-3 Negara G20

Foto: Presiden Gerakan Pribumi Indonesia Bastian P. Simanjuntak. (GEPRINDO)

Jakarta, Swamedium.com – Pernyataan Jokowi dalam forum internasional terkait pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat tidak realistis bahkan memalukan bangsa Indonesia. Setidaknya seorang pengamat ekonomi Jake van der kamp menuliskannya di media South China Morning Post apa yang dikatakan Jokowi itu sebagai silly boasts (bualan konyol).

Banner Iklan Swamedium

Gerakan Pribumi Indonesia (GEPRINDO) menilai pernyataan tersebut merupakan kebiasaan tim ekonomi dan pencitraan Jokowi, karena pernyataan yang sama juga pernah diungkapan Jokowi pada saat pelantikan pengurus DPP Hanura (22/2/2017) dan saat menghadiri Farewell Amnesty Pajak di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat (28/2/2107).

“Mungkin Jokowi bermaksud membuat negara lain terpesona namun sayang sebuah kebohongan akhirnya menemukan kebenaran,” kata Bastian P Simanjuntak, Presiden GEPRINDO melalui rilis tertulisnya, Rabu (3/5).

“Apa yang ditulis Jake van der kamp di South China Morning Post semakin menunjukkan pemerintah saat ini hanya rezim pencitraan bahkan penuh kebohongan,” imbuhnya.

GEPRINDO menilai pernyataan Jokowi yang mengatakan tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia ranking 3 dunia padahal menurut GEPRINDO pertumbuhan ekonomi Indonesia di peringkat 3 diantara G-20 bukan di peringkat dunia.

“Berdasarkan data IMF, World Economic Outlook pada kuartal ke 4 2016 Indonesia hanya berada di peringkat 35,” ungkap Bastian.

GEPRINDO mendesak pemerintah meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia, mengklarifikasi melalui tim ekonomi atau Menteri Keuangan. Jokowi harus mengganti tim ekonomi yang telah membuatnya dianggap konyol di forum internasional.

“Kekonyolan itu akan berdampak secara psikologis kepada rakyat, bangsa-bangsa lain di dunia bisa saja mengatakan bangsa Indonesia sebagai bangsa pembual, Presidennya saja berbual,” tutur Bastian.

Dia juga berpendapat, saat ini BUMN kita mengalami kerugian pada kuartal-I (3 Triliun), ekonomi lesu, tingkat pengangguran dan kemiskinan meningkat, realitas ini harusnya yang menjadi fokus pembenahan pemerintah bukan mengkampanyekan jangan percaya berita hoax namun saat yang sama malah mengatakan yang kurang benar.

“Karena itu GEPRINDO berharap Jokowi dan tim ekonominya jangan sampai menyebarkan berita hoax, segera klarifikasi dengan jujur,” tandasnya.

GEPRINDO menilai klarifikasi dibutuhkan agar tidak terjadi polemik yang akan mengganggu iklim investasi. Kepercayaan dari investor sangat berperan dalam keberlanjutan ekonomi sehingga kualitas pemimpin menjadi salah satu alasan investor menanamkan investasinya.

“GEPRINDO juga tak ingin Indonesia dijadikan bahan cemoohan di dunia Internasional karena pernyataan yang kurang tepat itu,” pungkasnya. (ls)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita