Senin, 29 November 2021

Penggalangan Dana Lewat Media Sosial Bakal Diatur

Penggalangan Dana Lewat Media Sosial Bakal Diatur

Jakarta, Swamedium.com – Mudahnya pengumpulan dana massal melalui media sosial tanpa akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaannya berpotensi memunculkan kejahatan penipuan. Tak ingin masyarakat resah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mulai menggodok peraturan terkait dengan praktik penggalangan dana dari sejumlah orang untuk memodali suatu proyek atau usaha yang dilakukan dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi atau disebut crowdfunding.

Banner Iklan Swamedium

“Kami siapkan aturan crowdfunding untuk langkah antisipasi,” kata Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad di sela-sela Seminar Internasional Perilaku Konsumen di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, seperti dikutip Antara, Rabu (4/5).

Menurut dia, saat ini banyak ditemukan masyarakat mengumpulkan dana dengan memanfaatkan media sosial seperti Instagram. Caranya, dengan mengajak pengikutnya menyumbang dana untuk membiayai proyek tertentu. Ujungnya, dana itu ada yang dipakai oleh penggalang dana untuk keperluan pribadinya atau tidak sesuai dengan amanah yang diberikan oleh donatur.

Tanpa akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaanya, potensi terjadinya penipuan bakal lebih besar.
Misalnya, kasus Cak Budi, pemilik akun Instagram @Cakbudi yang ramai menjadi perbincangan warganet baru-baru ini. Aktivis sosial ini menggunakan dana donasi bantuan sosial itu untuk membeli iPhone 7 dan mobil Toyota Fortuner.

Berdasarkan pengakuannya, donasi yang terkumpul sebesar Rp1,2 miliar (560 juta donasi ke rekening pribadi + 700 juta donasi ke halaman Kitabisa) yang belum disalurkannya.

Tentu saja, kasus Cak Budi itu bisa menodai kepercayaan masyarakat Indonesia yang punya budaya gotong royong dan suka membantu. Oleh karena itu, OJK mengantisipasinya melalui aturan crowdfunding.
Teknologi Keuangan

Selain aturan crowdfunding, Muliaman melanjutkan saat ini OJK juga membentuk Komite Penasehat Teknologi Keuangan atau “Fitech Advisory Committee” dan Inkubator Fintech.

Hal tersebut, kata dia, juga menanggapi berkembangnya teknologi keuangan atau “fintech” yang saat ini semakin marak. Saat ini, Muliaman menambahkan sudah ada 165 jenis Fintech yang baru terdaftar di Indonesia.

Muliaman mengatakan kehadiran Fintech turut mempengaruhi industri keuangan sehingga melahirkan tantangan untuk merespon layanan keuangan yang memanfaatkan teknologi tersebut. (maida)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita