Kamis, 15 April 2021

Ini Klarifikasi Istana Soal Polemik Pidato Presiden di Hong Kong

Ini Klarifikasi Istana Soal Polemik Pidato Presiden di Hong Kong

Jakarta, Swamedium.com – Tak mau menjadi polemik lebih panjang lagi, Pihak Istana akhirnya memberikan klarifikasi soal pidato Presiden Joko Widodo terkait klaim pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2016 berada di peringkat ketiga dunia. Pihak Istana menegaskan maksud Presiden adalah peringkat ketiga diantara negara G20.

Banner Iklan Swamedium

Dalam siaran persnya, Kepala Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden, Bey Machmudin mengkritik artikel Jake Van Der Kamp, jurnalis koran South China Morning Post yang menyebut pernyataan Presiden itu sebagai kabar bohong (hoax).

“Menanggapi artikel Jake Van Der Kamp di South China Morning Post 1 Mei 2017, perlu kami jelaskan bahwa Presiden Joko Widodo mengutarakan angka perbandingan pertumbuhan ekonomi dalam konteks posisi Indonesia di antara negara-negara anggota G-20,” tulis Bey.

Bey menjelaskan, pada saat Jokowi berbicara tentang peringkat pertumbuhan ekonomi Indonesia, di layar sedang terpampang tayangan mengenai pertumbuhan ekonomi negara-negara G-20 yang menunjukkan Indonesia berada pada posisi ke-3 setelah India dan China.

“Inilah konteks penjelasan Jokowi kepada sekitar 5.000 warga Indonesia yang hadir di Asia World Expo, Hong Kong, 30 April 2017,” jelasnya.

Dalam artikelnya, Van Der Kamp menyatakan, Jokowi keliru karena peringkat Indonesia bukan ketiga, melainkan ke-13 di dunia. Bey menegaskan bahwa kritik ini justru yang keliru. Van Der Kamp tidak mengetahui latar belakang penjelasan Presiden Jokowi dan kemungkinan besar tidak hadir di ruangan saat Presiden menjelaskan tayangan itu.

“Van Der Kamp sudah mengambil kesimpulan yang sangat keliru tanpa memahami konteks pembicaraannya,” kritik Bey.

Terkait kekeliruan ini, pihak istana telah mengirimkan penjelasan ini melalui surat elektronik kepada pihak South China Morning Post untuk segera dimuat.

Klarifikasi Menkeu

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani juga sudah memberikan klarifikasi bahwa yang dimaksud Presiden Jokowi adalah pertumbuhan ekonomi Indonesia terbaik ketiga di antara negara-negara G-20, bukan di seluruh dunia.

“Ya ini kan tidak klaim bahwa paling tinggi seluruh dunia. Beliau (Jokowi) mengatakan di dalam negara-negara G-20 emerging market,” kata Sri Mulyani. Dia meminta Jake Van Der Kamp untuk melihat lagi slide presentasi yang ditampilkan saat Jokowi berpidato di Hong Kong pada 30 April lalu.

Pidato Presiden soal pertumbuhan ekonomi yang tidak langsung menyebutkan dalam konteks negara anggota G-20 itu telah memunculkan multitafsir. Van Der Kamp menulis opini di South China Morning Post dengan judul: “Sorry President Widodo, GDP Rankings are Economists Equivalent of Fake News“.

Jokowi dianggap menyebarkan berita hoax soal pertumbuhan ekonomi. Dia mempertanyakan klaim peringkat ketiga dalam hal pertumbuhan ekonomi seperti yang disampaikan Jokowi saat kunjungan ke Hong Kong.

Sebab, di Asia, banyak negara yang pertumbuhan ekonominya lebih tinggi daripada Indonesia. Misalnya Vietnam 6,2 persen, Timor Leste 5,5 persen, Papua Nugini 5,4 persen dan Myanmar 7,3 persen. Sementara, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2016 hanya 5,02 persen. (maida)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita