Senin, 29 November 2021

Pengamat: Aksi Simpatik 55 Bukan Aksi Tapi Reaksi Ketidakadilan

Pengamat: Aksi Simpatik 55 Bukan Aksi Tapi Reaksi Ketidakadilan

Bandung, Swamedium.com — Pengamat politik Universitas Parahyangan Bandung, Asep Warlan Yusuf, mengatakan bahwa Aksi Simpatik 55 yang digelar Jumat (5/5), dimaknai bukan sebagai aksi, melainkan sebagai reaksi terhadap ketidakadilan dari penyelesaian kasus penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Banner Iklan Swamedium

“Hemat saya, ini bukan aksi tapi reaksi dari ketidakpercayaan publik, khususnya umat Muslim pada aparatur negara dalam penegakkan hukum kasus penistaan tersebut,” kata Warlan, seperti dilansir Republika, Sabtu (6/5).

Warlan menegaskan, aparat penegak hukum dituntut untuk lebih fair dan merasakan keadaan publik saat ini.

“Pengadilan jelas harus bebas dari tekanan, tidak boleh ada pengaruh, intervensi. Namun melihat perjalanan kasus penistaan agama ini masyarakat terusik,” kata dia.

Dalam Undang-undang kehakiman, lanjut Warlan, dijelaskan hakim wajib menggali nilai-nilai keadilan yang tumbuh dan berkembang yang dirasakan oleh masyarakat.

“Mudah-mudahan hakim selalu mengacu dan menggali juga nilai keadilan tersebut. Khawatirnya, jika ternyata hakim tidak menggali nilai tersebut, akan terjadi kekacauan publik,” ungkapnya.

Warlan juga mengaku heran dengan perjalanan penegakan hukum pada kasus penista agama oleh Ahok. Menurut Warlan, semua penista agama sebelum Ahok, semuanya dihukum berat. Padahal semua penista agama tersebut tidak seberat kasus Ahok.

“Itu ukurannya, tiba-tiba ketika menimpa Ahok, kok rasanya jauh dari apa yang diterapkan dari kasus dulu. Seperti Arswendo, Lia Eden,” pungkasnya.

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita