Senin, 29 November 2021

Hakim Dwiarso, Sosok yang Disiplin dan Sederhana, Pernah Menolak Karangan Bunga

Hakim Dwiarso, Sosok yang Disiplin dan Sederhana, Pernah Menolak Karangan Bunga

Foto: Ketua Majelis Hakim kasus penistaan agama oleh Ahok, Dwiarso Budi Santiarto. (ist)

Jakarta, Swamedium.com — Usai membacakan vonis kepada terdakwa kasus penistaan agama Ahok, Hakim Dwiarso Budi Santiarto tidak kembali ke kantornya di Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat. Ia langsung kembali ke rumah dinasnya dengan pengawalan aparat kepolisian, Selasa (9/5).

Banner Iklan Swamedium

Profil hakim Dwiarso dikenal sebagai pribadi yang disiplin dan membawa banyak perubahan positif di lingkungan kerjanya, Pengadilan Negeri Jakarta Utara (PN Jakut). Hakim Dwiarso baru menjabat sebagai Ketua PN Jakut pada pertengahan 2016 lalu.

Bernandus BL, salah satu staf Keamanan PN Jakut menilai Ketua Majelis Hakim kasus Ahok itu merupakan sosok yang disiplin dan berintegritas. Alumnus Lemhanas itu juga merupakan sosok yang tegas dan teliti terhadap detail, dan memberi pengaruh yang besar bagi bawahannya.

“Sehari-hari, Pak Dwiarso selalu datang sebelum pukul 7 pagi. Padahal, layanan pengadilan sendiri baru dibuka pukul 8 pagi,” tutur Bernandus seperti dilansir pojoksatu, Rabu (10/5).

Hakim Dwiarso juga dikenal sebagai pribadi yang sederhana. Saat pergi ke kantor, ia lebih sering menggunakan bus Transjakarta.

“Ia tidak mau dikawal. Biasanya Bapak (Dwiarso) berangkat pakai busway (TransJakarta), tapi kadang-kadang pakai mobilnya,” ungkap Bernandus

Hal tersebut, sambung Bernandus, membuat sejumlah staf melakukan penyesuaian.

“Nggak lucu kan, kalau pimpinan tiba tapi kantornya masih kosong melompong (belum ada staf yang datang),” kata dia.

Hakim Dwiarso juga selalu mengawali aktivitasnya dengan mengecek setiap sudut kantor PN Jakut. Bila ada yang dirasa kurang pas, misalnya lingkungan kantor masih kotor, atau ada hal lain yang berpotensi mengganggu layanan, wajahnya akan langsung berubah. Dan sudah pasti kepala bagian yang bertanggung jawab akan ditegur.

“Semuanya dicek, apakah sudah siap untuk pelayanan hari itu. Termasuk juga sampah dan kondisi toilet,” ucap Bernandus.

Bernandus mengungkapkan, dirinya pun pernah ditegur olehnya karena salah orang saat diminta memanggil seseorang.

“Kamu tidak memperhatikan perintah saya,” ucap Bernandus menirukan hakim Dwiarso.

Hakim Dwiarso, kelahiran Surabaya, 14 Maret 1962 itu menjadi sosok panutan para pegawai. Sebab, dia mengubah bawahannya tidak dengan cara menggurui, melainkan memberi contoh. Misalnya dalam hal kedisiplinan. ia memberikan contoh disiplin waktu melalui dirinya sendiri.

Hasilnya, para staf PN akhirnya meningkatkan disiplin tanpa harus diperintah karena melihat pimpinannya. Perubahan lain yang dibawanya adalah dalam hal etos kerja.

“Bagi saya, etos kerja kami meningkat, mungkin sekitar 80 persen saat ini,” paparnya.

Hal lain yang tidak banyak diketahui adalah integritas hakim Dwiarso. Integritas itu tampak dari hal-hal yang kecil. Salah satunya, tutur Bernandus, soal karangan bunga.

Hampir bersamaan dengan kiriman bunga ke balai kota, PN Jakut juga kebanjiran karangan bunga. Menurut Bernandus, ada puluhan karangan bunga yang dikirimkan juga ke PN Jakut. Namun, hakim Dwiarso meminta agar karangan bunga tersebut ditolak.

“Kita usir (kurirnya), nggak boleh ada karangan bunga. Instruksi langsung dari pak ketua. Terserah, mau ditaruh mana yang penting tidak di PN,’’ tandasnya.

Dirinya pun mengaku tidak sempat membaca isi tulisan karangan bunga itu, karena kurir langsung diusir ketika hendak mengantar karangan bunga. (*/ls)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita