Senin, 28 September 2020

Nelayan Mengadu ke Komnas HAM, Pengembang Bayar Preman Untuk Intimidasi

Nelayan Mengadu ke Komnas HAM, Pengembang Bayar Preman Untuk Intimidasi

Foto: Musyawarah Rakyat Indonesia sambangi Komnas HAM, Rabu (10/5). (Dipo/swamedium)

Jakarta, Swamedium.com — Dalam aduan Musyawarah Rakyat Indonesia (MRI) yang dilakukan ke Komnas HAM hari ini, Rabu (10/5) seorang nelayan Muara Angke, Penjaringan Jakarta Utara menyampaikan uneg-unegnya kepada Komnas HAM.

Didi Setiawan, nelayan Muara Angke, Jakarta Utara yang memiliki 4 unit perahu ini, mengatakan proyek reklamasi sangat menyusahkan dan menyengsarakan nelayan.

“Menurut kami pengembang ini justru merusak hal yang menjadi lahan kami mencari nafkah, menurut kami alangkah baiknya jika pemerintah memperbaiki pulau yang rusak seperti pulau rambut, pulau tikus yang rusak, bukan membangun pulau baru,” ujarnya kepada anggota Komnas HAM yang menerima pengaduan Rabu (10/5) siang tadi.

Meski pemerintah berdalih reklamasi ditujukan untuk masyarakat, kata Didi, masyarakat nelayan yang mana yang sanggup memiliki properti miliaran rupiah.

“Walau pemerintah menganggap bahwa pulau reklamasi akan bermanfaat untuk masyarakat, masyarakat nelayan yang mana yang sanggup membayar rumah senilai miliaran rupiah, kami sudah berapa kali ke PTUN, tapi apa itu alat berat masih ada di pulau dan terus bekerja, kenapa putusan pengadilan di abaikan?,” tandasnya.

Pihaknya meminta agar pengembang tidak mengadu domba sesama nelayan yang diduga dibayar oleh pengembang.

“Kami mengimbau pengembang untuk tidak mengadu domba kami dengan sesama nelayan yang dibayar pengembang untuk berhadapan dengan kami, preman yang dibayar untuk mengintimidasi kami. Kami cuma minta hentikan proyek reklamasi yang menjadi jalur kami mencari nafkah,” pungkasnya. (Dip)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.