Jumat, 23 April 2021

Pengamat: Masyarakat Antipati pada Keberingasan Pendukung Ahok

Pengamat: Masyarakat Antipati pada Keberingasan Pendukung Ahok

Foto: Massa pendukung Ahok mengamuk dan anarkis di depan rutan Cipinang. (Sindonews)

Jakarta, Swamedium.com — Aksi beringas dan melanggar aturan dipertontonkan oleh para pendukung Basuki Tjahaja Purnama alias Ahokers, mulai dari depan Rutan Cipinang, Mako Brimob hingga di depan Gedung Pengadilan Tinggi DKI.

Banner Iklan Swamedium

Pengamat politik Sahirul Alem mengingatkan agar pendukung Ahok untuk tidak membuat aksi yang memunculkan kegaduhan.

“Sifat asli Ahokers yang beringas dan melanggar hukum itu terlihat ketika mereka membakar ban dan menggoyang pagar LP Cipinang,” tegas Alem seperti dikutip intelijen, Rabu (10/5) malam.

Alem menyatakan, selama ini Ahokers selalu menuding pihak lawan sebagai kelompok intoleran, faktanya kini berbalik.

“Selama ini Ahokers menuding massa anti Ahok intoleran, tetapi fakta membuktikan Ahokers yang intoleran, beringas dan melanggar hukum,” tandasnya.

Menurut Alem, masyarakat menjadi antipati terhadap Ahokers yang melanggar hukum serta berlebihan dalam mengidolakan Ahok.

“Kelakuan Ahokers di media sosial, dan sekarang di lapangan membuat masyarakat makin tidak suka terhadap Ahok dan pendukungnya,” tutur Alem.

Tak hanya itu, Alem menilai, kalimat-kalimat kasar dari Ahokers di media sosial maupun di aksi demonstrasi akan terus dilakukan sepanjang Ahok belum bebas.

“Jangan sampai dibilang ‘otak’ Ahokers sudah terkontaminasi dan tidak rasional lagi,” pungkas Alem.

Sebagaimana publik telah mengetahui, ketika Ahokers berdemonstrasi meminta Ahok dikeluarkan dari rutan Cipinang, Selasa (9/5), mereka melakukan pembakaran ban, mendorong pagar rutan, melempar benda-benda ke dalam rutan, menyampah, merusak taman dan melakukan aksi hingga dini hari yang melanggar batas waktu unjuk rasa pukul 18.00 WIB.

Tak hanya itu, pada Rabu (10/5) Ahokers kembali berulah dengan menyandera para pegawai Pengadilan Tinggi DKI Jakarta dan menghalangi polisi yang mengevakuasi para pegawai hingga nyaris saling baku hantam. Dalam aksinya di sini, mereka menuntut agar penangguhan penahanan Ahok dapat dikabulkan.

Terakhir, Ahokers lagi-lagi berulah, mereka melakukan unjuk rasa di saat hari besar nasional. Kamis (11/5), yang merupakan Hari Raya Waisak, hari raya umat Buddha tak mereka hormati.

Kapolres Depok Kombes Herry Heryawan sudah mengimbau massa tidak menggelar aksi. Herry melarang demo mengingat hari ini adalah Hari Raya Waisak.

“Demo boleh, tetapi ada aturannya. Sesuai Pasal 6 Ayat (2) huruf b, demo tidak boleh dilakukan pada hari besar nasional. Hari ini kan Hari Raya Waisak,” kata Herry. (*/ls)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita