Kamis, 22 April 2021

Antisipasi Peretas, BI Imbau Perbankan Mutakhirkan Sistem Keamanannya

Antisipasi Peretas, BI Imbau Perbankan Mutakhirkan Sistem Keamanannya

Ilustrasi

Jakarta, Swamedium.com – Teroris siber, virus Ransomware Wanna Cry telah menyerang 99 negara, termasuk Indonesia. Bank Indonesia mengimbau perbankan untuk memutakhirkan sistem keamanan jaringannya dan memiliki data cadangan guna mengantisipasi peretasan. Saat ini, sistem di perbankan masih berjalan normal.

Banner Iklan Swamedium

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara di Jakarta mengatakan serangan virus akan terus bertransformasi dan berpotensi menjadi lebih canggih dari sebelumnya, sehingga perbankan harus memiliki sistem keamanan jaringan yang terbaik.

“Kemarin (Minggu, 14/5) kami sudah minta ke bank-bank peserta kliring untuk update (memutakhiran) dengan sistem terbaru,” ujar Tirta, sebagaimana dikutip Antara, Senin (15/5).

Hingga Senin pagi, menurut Tirta, bank-bank peserta kliring di Real Time Gross Settlement (RTGS) dan juga Sistem Kliring Nasional BI (SKNBI) tidak terganggu oleh virus tersebut. Bank peserta RTGS dan SKNBI masih melakukan transfer dana secara normal.

Bank Sentral sendiri sejak Minggu hingga Senin siang mematikan layanan internet nirkabel di kantor pusat BI, untuk pemutakhiran sistem dan membuat data-data cadangan (back up system).

“Itu untuk antisipasi semalam kita memang tangkal dulu untuk arus keluar dan masuk. Kita memastikan seluruh komputer di BI untuk dimutakhirkan dulu sistemnya,” ujarnya.

Selain kantor pusat Bank Sentral, Kantor Perwakilan BI di seluruh provinsi, kata Tirta, juga telah diperintahkan untuk memutakhirkan perangkat lunak (software) keamanan sistem pembayaran dan penyelesaian transaksi (settlement).

Otoritas Jasa Keuangan pun sejak Senin pagi mengantisipasi penyebaran virus “Ransomware Wannacry” dengan mengnonaktifkan 31 layanan yang berbasis jaringan internet. Namun OJK pada Senin malam ini memberitahukan 31 layanan tersebut sudah beroperasi kembali.

Adapun “Ransomware Wannacry” merupakan virus yang disusupkan dalam perangkat perusak yang bekerja dengan mengunci sistem dan mengenkripsi data sehingga data tersebut tidak dapat diakses oleh pengguna hingga pengguna membayar uang tebusan dengan mata uang Bitcoin.

Indonesia dilaporkan sebagai salah satu dari ratusan negara yang terkena serangan siber “Ransomware Wannacry”. Kementerian Komunikasi dan Informatika telah mengimbau pengguna internet individu maupun lembaga, untuk memutakhirkan sistem keamanan dan operasi pada komputer masing-masing. (maida)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita