Rabu, 21 April 2021

Hak Angket KPK, Fahri: Terkesan Hanya KPK yang Berwenang Berantas Korupsi

Hak Angket KPK, Fahri: Terkesan Hanya KPK yang Berwenang Berantas Korupsi

Foto: Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah (Joko/swamedium)

Jakarta, Swamedium.com — Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah berpendapat, dalam hal penanganan masalah korupsi di Indonesia, terkesan hanya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang memiliki kewenangan mengatasinya.

Banner Iklan Swamedium

Hal ini dikatakannya terkait kabar bahwa KPK tidak akan menghadiri pertemuan dengan DPR terkait Hak Angket KPK.

“Kalau ada lembaga lain (DPR) yang gunakan kewenangannya, ya harus ditaati. Yang punya kewenangan (mengatasi masalah korupsi) bukan hanya KPK. Saya menyayangkan KPK seolah dia yang punya kewenangan,” ujar Fahri di komplek Parlemen, Senayan, Senin (15/5).

Namun dirinya yakin, KPK sebagai salah satu institusi sudah memahami hukum yang berlaku di Indonesia. Jika DPR memanggil untuk mengajukan angket kepada KPK, kata Fahri, seharusnya KPK memenuhi panggilan itu.

“Saya yakin kalau ngerti hukum dia (KPK) akan ikut saja. Sebab lembaga pengawas tertinggi di negara kita kan DPR, suka atau tidak, nama lembaga pengawas tertinggi adalah DPR. Yang punya hak bertanya, hak interpelasi, hak angket, hak menyatakan pendapat itu semuanya DPR, dan pengawas ini bekerja profesional,” jelasnya.

Fahri juga menjelaskan lagi, bahwa kewenangan pemberantasan korupsi adalah kewenangan Presiden. Jadi janga sampai, jata Fahri, KPK merasa sebagai satu-satunya lembaga yang memiliki wewenang memberantas korupsi.

“Jangan salah, pemberantasan korupsi kewenangannya Presiden. Presiden induk segala kewenangan, dia yang dipilih rakyat, execute semua program termasuk memberantasan korupsi, KPK jangan ambil alih. Ini (KPK) konsultasi sama Presiden saja nggak pernah sepertinya,” tuturnya.

Selain itu, Fahri juga mengkritisi cara bekerja KPK yang dinilainya belum menunjukkan hasil nyata soal pemberantasan korupsi.

“Ya begini nih kalau kerja tanpa orkestra, nggak ngerti sistem. Ramainya ada, hasilnya nggak ada. Kita kadang anggap ramai lebih penting daripada hasil. Ini kan kita sibuk saja (dengan pemberitaan korupsi), (tapi) suksesnya (hasilnya) mana?,” pungkasnya. (Jok/ls)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita