Sabtu, 24 April 2021

Ponpes Sidogiri: Jangan Ajari Pesantren Soal NKRI

Ponpes Sidogiri: Jangan Ajari Pesantren Soal NKRI

Foto: Santri-satri Pondok Pesantren Sidogiri. (ist)

Jakarta, Swamedium.com — Pondok Pesantren Sidogiri menggelar malam puncak milad ke-280, Minggu (14/5) lalu. Sekitar 15 ribu orang menghadiri acara ini.

Banner Iklan Swamedium

Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin dan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Tuan Guru Haji Muhammad Zainul Majdi juga terlihat hadir malam itu.

Bendahara Umum Pondok Pesantren Sidogiri Achmad Sa’dulloh mengatakan, saat malam pembukaan milad beberapa waktu lalu, para santri Ponpes Sidogiri mengibarkan bendera merah putih raksasa sebagai wujud cinta akan negeri ini.

Dia menegaskan, Ponpes Sidogiri mendukung penuh NKRI karena keberadaan NKRI telah diakui oleh ijtihad para ulama di masa lalu.

“Santri Sidogiri terlibat aktif saat melawan penjajahan Jepang dan Belanda serta saat masa cengkeraman komunis. Jangan pernah mengajari orang-orang pesantren tentang bagaimana hidup bernegara dan menjaga NKRI,” kata Achmad saat menyampaikan sambutan malam puncak Milad Ponpes Sidogiri ke-280 di Ponpes Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur.

Ia menyampaikan, para santri Sidogiri akan selalu ingat perjuangan para leluhur yang tidak gentar dalam menghadapi penjajah.

Selepas kemerdekaan, lanjut Achmad, para santri kembali ke dunia pesantren, tanpa mengharapkan jabatan apapun dari negeri ini.

Dalam kesempatan itu, Achmad turut menyoroti kegaduhan kehidupan bangsa akhir-akhir ini yang dipicu oleh persoalan penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

“Kaum muslimin yang protes dianggap pemecah belah bangsa, tidak cinta kebhinnekaan. Kaum santri mencintai negeri ini, tetapi tidak buta, selagi tidak bertentangan dengan prinsip agama. Ketika negara bertentangan dengan agama, kami akan meletakkan agama di atas negara,” ungkap Achmad seperti dikutip Republika.

Menurutnya, stigma negatif yang dialamatkan kepada Umat Islam, bahwa umat Islam adalah kelompok intolerab, anti kebhinnekaan, harus dilawan agar umat Islam tidak malu dengan keislamannya.

“Kalau ada orang bergerak dengan agama dicap intoleran, teroris, anti-kebhinnekaan, ini harus kita lawan. Jika tidak, maka lambat laun orang Islam akan malu dengan keislamannya. Yang benar dianggap salah, dan yang baik dianggap buruk,” pungkas Achmad. (*/ls)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita