Kamis, 22 April 2021

Insiden Meriam Buatan Cina, Komisi I DPR: Pembelian Alutsista Harus Diperketat

Insiden Meriam Buatan Cina, Komisi I DPR: Pembelian Alutsista Harus Diperketat

Foto: Meriam Chang Chong buatan Cina yang meledak saat latihan PPRC TNI di Natuna, Kepri. (ist)

Jakarta, Swamedium.com — Insiden meledaknya meriam Chang Chong buatan Cina yang mengakibatkan 4 Orang Prajurit TNI AD dan sejumlah prajurit lainnya terluka parah, mendapat tanggapan serius dari DPR, khususnya Komisi 1 DPR RI.

Banner Iklan Swamedium

Peristiwa yang terjadi saat kegiatan latihan tempur dan uji coba Alutsista oleh TNI AD, dinilai sangat memprihatinkan terlebih kepada institusi TNI.

“Pengadaan alutsista musti diperketat, khususnya pengontrolan kualitasnya. Kita terus mendorong peningkatan alutsista TNI, tidak hanya kuantitasnya, aspek kualitas juga harus diprioritaskan,” anggota Komisi I DPR H. Soekamta melalui rilisnya, Jumat (19/5).

Ia berpendapat, alutsista tidak perlu banyak namun kualitasnya bagus dan sudah teruji.

“Lebih baik memiliki jumlah alutsista tidak banyak tapi berkualitas daripada punya alutsista banyak tapi tidak berkualitas, karena alutsista yang tidak berkualitas membahayakan kita sendiri.” tuturnya.

Menanggapi insiden tersebut yang sampai saat ini belum ada keterangan resmi dari pihak TNI, Soekamta meminta kepada TNI untuk mengeluarkan keterangan resmi terkait insiden ini.

“Kita belum tahu persis bagaimana kronologi detail insiden ini terjadi. Belum ada juga kejelasan penyebab insiden ini,” kata dia.

Namun menurut Soekamta, setidaknya ada 2 kemungkinan penyebabnya, karena kerusakan teknis senjatanya yaitu Giant Bow yang bermerek Chang Chong itu atau karena kesalahan teknis prajurit yang mengoperasikannya atau human error.

“Bisa jadi juga kombinasi keduanya, kesalahan teknis senjata yang ditambah human error karena panik misalnya,” ujar Soekamta.

Menurutnya, sudah berulang kali kecelakaan menimpa TNI hingga jatuh korban, seperti pesawat jatuh, dan helikopter jatuh serta insiden yang terjadi pada Kamis (18/5) kemarin.

“Waktu itu juga terjadi rudal C705 terlambat meledak saat uji coba di KRI Banjarmasin September 2016,” ungkapnya.

Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PKS itu menginginkan kepada TNI dalam hal ini untuk segera menginvestigasi secara komprehensif dan memberikan keterangan secara resmi apa yang sebenarnya terjadi di lapangan.

“Kami ingin mendorong, apapun hasil investigasinya, evaluasi dan peningkatan kualitas prajurit dan alutsista mesti jadi suatu keharusan, selain itu, kita juga harus tingkatkan skill, kedisiplinan dan kesejahteraan TNI,” kata Soekamta.

Ia juga menitikberatkan pada peningkatan keahlian yang mutlak dimiliki prajurit TNI mengingat alutsista terkait dengan kemutakhiran teknologi.

“Senjata yang digunakan prajurit TNI berbahaya semua, seperti meriam giant bow ini yang konon memiliki kecepatan proyektil 970 meter per detik. Maka harus dioperasikan dengan skill dan mental yang tidak main-main,” tutupnya. (Jok/ls)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita