Selasa, 20 April 2021

Pemuda Muhammadiyah Tuntut Sejarah Akui Peran Amien Rais Sebagai Tokoh Reformasi

Pemuda Muhammadiyah Tuntut Sejarah Akui Peran Amien Rais Sebagai Tokoh Reformasi

Jakarta, Swamedium.com – Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah Dahnil Azhar Simanjuntak meminta sejarah bersikap adil terhadap Tokoh Reformasi Amien Rais yang telah berjasa terhadap bangsa ini dalam menumbangkan orde baru. Generasi muda Muhammadiyah juga tidak rela jika sesepuh Muhammadiyah ini didiskreditkan dan dimarjinalkan oleh penguasa.

Banner Iklan Swamedium

Dahnil mengatakan peran Amien Rais sebagai tokoh reformasi yang menumbangkan orde baru sudah dihilangkan dalam buku sejarah. Kalau dulu namanya ada dalam buku sejarah dan disebut sebagai Tokoh Reformasi, jelas dia, saat ini namanya sudah tidak ada dalam buku sejarah di sekolah-sekolah.

Selain itu, Dahnil melanjutkan saat menikmati kebebasan berdemokrasi pasca reformasi, peran Amien Rais dihilangkan, bahkan media massa pun tidak ada yang menyebutkan perannya. Sementara itu, saat ada masalah dalam berdemokrasi, Amien Rais yang dituding sebagai penyebabnya.

“Kami generasi muda Muhammadiyah, sebagai anak didiknya Amien Rais tidak rela jika peran Amien Rais sebagai Tokoh Reformasi dihilangkan. Kami menuntut sejarah berlaku adil,” kata Dahnil dalam sambutan acara ‘Refleksi 19 Tahun Reformasi-Menggembirakan Demokrasi; Tribute to Amien Rais, di Jakarta, Sabtu malam (20/5).

Acara yang digelar di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta tersebut juga dihadiri oleh Tokoh Reformasi Amien Rais, Ketua MPR Zulkifli Hasan, mantan Anggota DPR Permadi serta Ketua PP Muhammadiyah Hajriyanto Y Thohari.
, .

Bagi Pemuda Muhammadiyah. reformasi merupakan momentum perubahan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Dan, Mei 1998 menjadi tonggak terbukanya pintu otoritarian menuju alam baru bersama bendera demokrasi yang dikibarkan seorang lokomotif reformasi Muhammad Amien Rais untuk pembaharuan bagi masyarakat.

“Perubahan sistem politik, pemerataan ekonomi, penegakan supremasi hukum dan peningkatan pendidikan adalah tuntutan kala itu,” papar Dahnil.

Kini setelah 19 tahun sudah reformasi berjalan, dia mempertanyakan,”Apakah ruhul jihad reformasi masih dikandung badan? Sudahkah demokrasi yang dibangun mampu menggembirakan kehidupan berbangsa dan bernegara?”

Menurut Dahnil, sampai hari ini korupsi tidak berubah, tetapi hanya bertransformasi. Kalau dulu, korupsi tersentralisasi, sekarang terdesentralisasi. Selain itu, demokrasi hari ini disuram-suramkan, bahkan ditakut-takuti dengan kalimat makar, intoleran, dan sebagainya.

“Mari kita ingatkan utang-utang reformasi itu,” tegas Dahnil. (maida)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita