Jumat, 23 April 2021

Inilah Ancaman Bagi Pembuat Fitnah

Inilah Ancaman Bagi Pembuat Fitnah

Jakarta, Swamedium.com – Banyak yang bilang saat ini sudah masuk ke era zaman edan yang ciri-cirinya, antara lain orang dengan mudah membully orang lain, bahkan menfitnah atau melontarkan tuduhan yang belum jelas kebenarannya.

Banner Iklan Swamedium

Orang yang baik, bahkan ulama yang tidak bisa disogok dengan apapun, maka pihak yang tidak suka akan membuat fitnah atau tuduhan agar figur yang disegani banyak orang atau memiliki pengikut banyak ini hancur dan ditinggalkan oleh pengikutnya.

Di zaman modern ini, media sosial mudah menjadi sarana untuk menjelek-jelekkan orang, membunuh karakternya atau membuat fitnah. Bahkan, profesi untuk merekayasa fitnah pun ada. Hati-hati memviralkan berita kabar bohong agar kita tidak terseret ikut dalam golongan pembuat fitnah.

Agama Islam melarang keras dan mengancam orang yang memfitnah atau membuat tuduhan yang tidak jelas duduk perkarannya sebagaimana ayat berikut ini;

وَٱلَّذِينَ يُؤْذُونَ ٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَـٰتِ بِغَيْرِ مَا ٱكْتَسَبُوا۟ فَقَدِ ٱحْتَمَلُوا۟ بُهْتَـٰنًۭا وَإِثْمًۭا مُّبِينًۭا

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (Qs. Al Ahzaab : 58)

Bagaimana caranya agar kita tidak termasuk golongan orang yang memikul kebohongan tersebut? Jangan mulai menjudge sesuatu yg kita tidak mengerti duduk masalahnya.

Di dunia yang informasi gampang dicari tapi juga mudah untuk dibeli, berhati hati itu lebih menyelamatkan diri. Mari kita membedakan antara : tabayyun, ghibah, ingin tahu tingkat tinggi (kepo), beropini, beralibi, berapologi, menghina, dan memaparkan fakta.

Yang lebih menarik ketika tema tema itu akhirnya secara tidak sadar dijadikan gaya oleh sebagian orang dalam baju ‘amal makruf nahi munkar’.

Melancarkan tuduhan buruk terhadap orang-orang mukmin dan mukminat yang pada hakikatnya bersih dari apa yang dituduhkannya, bahkan tidak tahu menahu dan tidak pernah melakukannya.

Perilaku seperti inilah yg dilakukan oleh orang kafir dan rafidhoh, yaitu mempergunjingkan orang-orang mukmin dan mukminat dengan sesuatu hal yang tidak pernah mereka lakukan, yang tujuannya ialah mencela dan mendiskreditkan mereka.

Kaum Rafidah adalah orang-orang yang mendiskreditkan para sahabat dan mencela mereka, padahal Allah Swt. sendiri telah membersihkan mereka dari hal tersebut. Orang-orang tersebut telah menyifati para sahabat dengan hal-hal yang bertentangan dengan apa yang diberitakan oleh Allah Swt. tentang mereka.

Allah Swt. telah memberitakan bahwa Dia telah ridho kepada kaum Muhajirin dan kaum Ansar serta memuji sikap mereka. Akan tetapi, sebaliknya orang-orang yang jahil lagi bodoh itu mencela para sahabat, mendiskreditkan mereka, serta mempergunjingkan mereka dengan hal-hal yang para sahabat tidak pernah melakukannya salama-lamanya.

Pada hakikatnya mereka sendirilah yang terbalik akal sehatnya karena mencela orang yang terpuji dan memuji orang yang tercela.

قَالَ أَبُو دَاوُدَ: حَدَّثَنَا القَعْنَبِيّ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ -يَعْنِي: ابْنَ مُحَمَّدٍ -عَنْ الْعَلَاءِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّهُ قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا الْغِيبَةُ؟ قَالَ: “ذكرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ”. قِيلَ: أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ؟ قَالَ: “إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ بَهَتَّه”.

Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Qa’nabi, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz ibnu Muhammad, dari Al-A’la, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa pernah ditanyakan kepada Rasulullah,

“Apakah gibah itu, wahai Rasulullah? Rasulullah Saw. menjawab: “Bila kamu menyebut-nyebut saudaramu dengan hal-hal yang tidak disukainya.” Ditanyakan lagi, “Bagaimanakah pendapatmu, jika pada saudaraku itu terdapat apa yang kukatakan?” Rasulullah Saw. menjawab, “Jika pada saudaramu itu terdapat apa yang kamu katakan, berarti kamu telah mengumpatnya. Dan bila pada saudaramu itu tidak terdapat apa yang kamu katakan, berarti kamu telah melancarkan tuduhan dusta terhadapnya.”

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Turmuzi, dari Qutaibah, dari Ad-Darawardi, kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.

قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ سَلَمَةَ، حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْب، حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ هِشَامٍ، عَنْ عَمَّارِ بْنِ أَنَسٍ، عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَة، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَصْحَابِهِ: “أيُّ الرِّبَا أَرْبَى عِنْدَ اللَّهِ؟ ” قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: “أَرْبَى الرِّبَا عِنْدَ اللَّهِ استحلالُ عِرْضِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ”، ثُمَّ قَرَأَ: {وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا}

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Salamah, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah ibnu Hisyam, dari Ammar ibnu Anas, dari Ibnu Abu Mulaikah, dari Aisyah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda kepada para sahabatnya:

“Riba apakah yang paling parah di sisi Allah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah Saw. bersabda, “Riba yang paling berat di sisi Allah ialah menghalalkan kehormatan seorang muslim.”Kemudian Nabi Saw. membacakan firman Allah Swt (Al-Ahzab: 58)

Semoga Alloh menjaga mereka yg benar benar beriman dan membuktikan imannya dalam amal nyata.
(maida)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita