Rabu, 21 April 2021

KH Ma’ruf Amin Minta Pengurus NU Selalu Turun ke Daerah

KH Ma’ruf Amin Minta Pengurus NU Selalu Turun ke Daerah

Foto: Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Ma’ruf Amin menghadiri Halaqah Dakwah Wasathiyah Annahdliah (suaralidik)

Makassar, Swamedium.com — Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ma’ruf Amin menghadiri Halaqah Dakwah Wasathiyah Annahdliah yang diadakan oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sulawesi Selatan, di Auditorium KH Muhyiddin Zain Universitas Islam Makassar, Sabtu (20/5) kemarin.

Banner Iklan Swamedium

Dalam tausiyahnya Kiyai Ma’ruf Amin menyampaikan bahwa pengurus NU harus aktif terjun langsung ke daerah-daerah dan tidak bisa hanya memonitor dari pusat.

“Kepengurusan Syuriyah saat ini memiliki tugas untuk selalu turun ke daerah, karena pada dasarnya PBNU tidak bisa mengontrol dari pusat, tetapi harus turun langsung untuk bersilaturrahim bersama ulama seluruh Indonesia. Pemilik NU itu ulama, pengurus hanya sopir atau yang menjalankan,” kata Kiyai Ma’ruf.

Ia menambahkan, menjadi ulama jangan hanya mengurus pesantren, tetapi harus menjaga soliditas keumatan, kebangsaan, dan bernegara. Selain itu, kata Kiyai Ma’ruf, ulama juga memiliki tanggung jawab keumatan. Oleh karena itu, NU harus menjadi penggerak bukan digerakkan, Syuriyah harus menggerakkan dan Tanfidziah yang menjalankan.

“Saat ini banyak kelompok yang mengaku ahlusunnah wal jamaah tetapi tidak mengakui Asy’ariyah dan Maturidiah, bahkan menyesatkan kedua ulama besar ini, olehnya itu harus disebut Ahlusunnah Waljamaah Annahdliah, yang menyesatkan disebut Ahlusunnah Waljamaah Wahabiah,” paparnya.

Kemudian, lanjut Kiyai Ma’ruf, secara garis besar NU itu meliputi 5 hal yakni, Pertama, aqidah gerakan aqidah yang sesuai ajaran Ahlusunnah Waljamaah Annahdliah, Kedua, fiqrah yakni pola pikir.

“Ketiga, alamiah yakni NU memiliki tradisi tradisi ibadah, misalnya istighosah, qunut subuh dan lain sebagainya,” jelas Kiayi Ma;ruf seperti dilansir suaralidik.com.

Berikutnya, Kiayi Ma’ruf menyampaikn poin keempat, Haraqah yakni gerakan melindungi umat dari aqidah yang menyimpang, gerakan radikal misalnya kelompok yang akan merubah komitmen kebangsaan kita, yakni Pancasila dan NKRI, Dan yang kelima, Jam’iyyah yakni organisasi yang memiliki aturan-aturan ada qanun asasi dan aturan lainnya, dalam tradisi NU berbeda pendapat itu biasa, tetapi ketika sudah ada keputusan maka semua pengurus harus menaati.

Selain itu, menurut Kiayi Ma’ruf, NU harus menjadi kaedah penuntun dalam berbangsa dan bernegara.

“NU harus menjadi pelayan umat untuk memudahkan atau yang membutuhkan,” ujarnya.

Tak hanya itu, Kiayi Ma’ruf mengingatkan, NU harus terus melakukan perbaikan secara terus menerus dalam semua hal yakni aqidah, pendidikan, ekonomi, politik dan lain sebagainya.

Turut hadir dalam acara itu, Rektor Universitas Islam Makassar Majdah Agus Arifin Nu’mang, Kepala Kantor Kanwil Kemenag Sulsel Abdul Wahid Thahir, dan para pengurus Syuriyah serta Tanfidziyah NU se Sulawesi Selatan serta Pimpinan Ponpes se Sulawesi Selatan. (*/ls)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita