Rabu, 21 April 2021

Inilah Perbedaan KPR Syariah, KPR Bank Syariah Dan KPR Bank Konvensional

Inilah Perbedaan KPR Syariah, KPR Bank Syariah Dan KPR Bank Konvensional

Jakarta, Swamedium.com – Tawaran pembelian rumah dengan sistem Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Syariah atau KPR Tanpa Riba makin marak saat ini. Banyak orang yang masih bertanya-tanya, apa sih, perbedaan membeli rumah melalui KPR Syariah dibandingkan dengan yang lewat bank syariah atau bank konvensional.

Banner Iklan Swamedium

Bagi umat Islam, pemahaman beragam skim pembiayaan rumah itu penting agar paham apakah rumah atau properti yang dibeli itu menggunakan skema pembiayaan yang halal atau haram.

Berikut ini, penjelasan perbedaan masing-masing;

Pihak Yang Transaksi

*KPR Syariah: Ada 2 Pihak yaitu antara pembeli dan developer
*Bank Syariah: Ada 3 Pihak yaitu antara pembeli, developer dan bank
*Bank Konvensional: Ada 3 Pihak yaitu antara pembeli, developer dan bank

Dalam soal transaksi tersebut, kita harus mencermati apakah KPR bank, baik syariah atau konvensional terjadi transaksi jual beli atau hanya pendanaan dari bank. Jika memang jual beli maka halal dan jika hanya pendanaan bank maka haram.

Barang Jaminan

*KPR Syariah: Rumah yang di perjualbelikan/kredit tidak dijadikan jaminan
*Bank Syariah: Rumah yang diperjualbelikan/kredit dijadikan jaminan
*Bank Konvensional: Rumah yang diperjualbelikan/kredit dijadikan jaminan

Terkait barang jaminan, ada ikhtilaf ulama mengenai apakah barang yang diperjualbelikan boleh dijadikan jaminan atau dilarang. Dalam hal ini, KPR Syariah mengambil pendapat bahwa rumah yang sedang diperjualbelikan/kredit dilarang dijadikan jaminan.

Sistem Denda

*KPR Syariah: Tidak ada denda
*Bank Syariah: Ada denda
*Bank Konvensional: Ada denda

Dalam KPR Syariah tidak boleh ada denda jika ada keterlambatan cicilan karena itu termasuk riba. Dalam jual beli kredit maka sejatinya adalah hutang piutang. Jadi jika harga sudah di akadkan maka tidak boleh ada kelebihan sedikitpun baik dinamakan denda, administrasi atau bahkan infaq sekalipun. Karena hal ini termasuk mengambil manfaat dari hutang piutang atau masuk kategori riba.

Sistem Sita

*KPR Syariah: Tidak ada sita
*Bank Syariah: Tidak ada sita
*Bank Konvensional: Ada sita

Dalam KPR Syariah tidak boleh melakukan sita jika pembeli tidak sanggup mencicil lagi. Karena rumah tersebut sudah sepenuhnya milik pembeli walaupun masih kredit. Solusinya adalah pembeli ditawarkan untuk menjual rumahnya baik lewat pembeli atau dengan bantuan developer.

Seandainya, sisa hutang masih Rp100 juta, kemudian rumah terjual Rp300 juta. Maka pembeli membayar sisa hutang yang Rp100 juta, sedangkan sisa penjualan Rp200 juta adalah hak pembeli.

Sistem Finalti

*KPR Syariah: Tidak ada finalti
*Bank Syariah: Tidak ada finalti
*Bank Konvensional: Ada finalti

Jika pembeli mempercepat pelunasan misal dari tenor waktu 10 tahun kemudian di tahun 8 sudah lunas maka tidak ada finalti dalam sistem KPR Syariah karena itu adalah riba. Bahkan ada sistem diskon yang nilainya dikeluarkan saat pelunasan terjadi.

Sistem Asuransi

*KPR Syariah: Tidak ada asuransi
*Bank Syariah: Ada asuransi
*Bank Konvensional: Ada asuransi

Dalam KPR Syariah tidak memakai asuransi apapun karena asuransi adalah haram yang didalamnya ada riba, ghoror, maisir dan lain-lain.

Sistem BI Checking Atau ‘Bankable’

*KPR Syariah: Tidak ada BI Checking/Bankable
*Bank Syariah: Ada BI Checking/Bankable
*Bank Konvensional: Ada BI Checking/Bankable

Dalam KPR Syariah tidak ada BI Checking/Bankable atau masuk kategori layak untuk mendapatkan pembiayaan. Persyaratan ini sangat memberikan kemudahan bagi calon pembeli yang kesulitan jika melalui sistem BI Checking/Bankable seperti:

1. Karyawan Kontrak

Syarat lolos BI Checking/Bankable secara umum adalah karyawan tetap. Jadi bagi karyawan kontrak akan kesulitan jika ingin membeli rumah lewat bank

2. Pengusaha/pedagang Kecil

Syarat lainnya yang bisa meloloskan calon buyer dari BI Checking/Bankable adalah pengusaha yang memiliki izin usaha dan laporan keuangan. Jadi bagi pedagang kecil seperti tukang bakso, somay, gorengan dan lainnya akan sulit jika ingin membeli rumah lewat bank.

3. Usia Lanjut

Calon pembeli yang sudah usia lanjut diatas 50 tahun maka tidak akan bisa membeli rumah lewat bank karena ada batasan usia produktif jika membeli lewat bank.

Inilah penjelasan tentang perbedaan KPR Syariah dengan KPR Bank baik Bank Syariah ataupun Konvensional.KPR Syariah Insyaa Allah dalam transaksinya terhindar dari sistem ribawi dan juga banyak kemudahan yang diberikan bagi para calon pembeli.

Dengan memahami mengenai KPR Syariah, konsumen juga bisa mempertanyakan ke bank syariah, jika ada yang penerapannya masih belum sepenuhnya halal.

Semoga Allah S.W.T. memberikan kemudahan bagi kita semua untuk membeli rumah dengan sistem syariah tanpa riba. (maida)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita