Selasa, 20 April 2021

Ramadhan, Bulan Reflektif Pribumi

Ramadhan, Bulan Reflektif Pribumi

Foto: Presiden GEPRINDO Bastian Simanjuntak. (ist)

Oleh: Bastian P. Simanjuntak*

Banner Iklan Swamedium

Jakarta, Swamedium.com — Bagi umat Islam bulan Ramadhan merupakan bulan latihan, bulan refleksi, bulan suci dan bulan berkah. Banyak tema yang dapat dinisbatkan kepada Ramadhan. Bulan ini penuh berkah sebagaimana Indonesia yang dianugerahi potensi Sumber Daya Alam (SDA) melimpah.

Ibarat Ramadhan, Negara Kesatuan Republik Indonesia harusnya tidak dikotori oleh perbuatan jahil. Melimpahnya anugerah negeri ini sudah seharusnya disyukuri dengan memanfaatkannya untuk kepentingan rakyat bukan segelintir orang.

Ramadhan mengajarkan kejujuran demikian pula harapan kita pada para penguasa negeri ini, Ramadhan mengajarkan pengendalian diri atas yang halal bukan hanya yang haram. Pribumi sebagai pemilik sah Republik hendaknya berlaku jujur dan tak tergoda melakukan korupsi, demikian harapan Ramadhan kepada mereka yang mendapatkan kewajiban.

Pribumi tidak boleh menjajah kaumnya sendiri, karena itu ibarat manusia yang menjajah dirinya dengan menjadi budak hawa nafsu. Ramadhan menginginkan kita menjadi pribumi yang merdeka, merdeka tanpa menjajah ataupun bekerjasama dengan penjajah.

Negeri ini ibarat jiwa dan raga kita, butuh kemerdekaan yang hakiki. Kita belum merdeka bila masih gemar korupsi, kita belum merdeka bila bekerjasama dengan iblis untuk merugikan orang lain. Pribumi sejatinya memperjuangkan kemerdekaan tanpa pamrih, hari ini kita pun sesungguhnya masih dalam kukungan kolonialisme dan imperialisme.

Bila mampu meraih gelar terbaik selama Ramadhan, maka segala persoalan bangsa ini pun dengan sendirinya akan selesai. Betapa tidak, Ramadhan mengontrol segala perbuatan dan tingkah laku yang merugikan. Kita dilarang keras menjadi budak hawa nafsu, berkompromi dengan Iblis apalagi bekerjasama dengan Iblis.

Pribumi yang lulus menjalani training selama Ramadhan harus mengimplementasikannya di luar Ramadhan. Dia akan menentang segala bentuk neo-kolonialisme, melawan keinginan curang dalam menjalankan amanah jabatan, dan semuanya dilakukan secara terorganisir sebagaimana Gerakan Pribumi Indonesia (GEPRINDO) menghimpun pribumi yang peka akan kondisi bangsa Indonesia hari ini.

Kewajiban berpuasa memiliki nilai historis, artinya telah contoh dimasa lalu kewajiban ini. Hal itu senada dengan ucapan Soekarno, Jasmerah. Bila kita bercermin pada sejarah harusnya kita sadar dan mengingat pledoi Soekarno dalam Indonesia Menggugat, sebuah pernyataan yang sangat heroik penuh makna.

Soekarno menegaskan; Republik ini lahir karena semua orang tahu betapa pahitnya tertindas. Republik ini lahir karena tidak ada orang yang sudi terus-menerus diinjak. Cukup sudah penindasan kolonial. Sudah cukup. Saatnya keadilan ditegakkan.

Pesan yang tak kalah heroiknya pernah pula diucapkan Otto Iskandardinata. Otto mengatakan; kalau saja (kedaulatan) Indonesia bisa ditebus dengan jiwa seorang anak bangsa, saya mengajukan diri sebagai kandidat pertama untuk pengorbanan ini, demikian pesannya.

Pernyataan kedua tokoh itu patut dijadikan teladan, keberpihakan kepada tanah air sekaligus penolakan atas kolonialisme. Kita dapat temukan neo-kolonialisme nyaris terjadi di segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara pada hari ini. Ramadhan momentum yang tepat bagi Pribumi memupuk persatuan melawan segala belenggu kapitalisme.

Ramadhan melatih kepekaan sosial sekaligus semangat berbagi kepada sesama. Dua hal ini belakangan semakin terkikis dengan suburnya kapitalisme, kita bisa saksikan bagaimana penggusuran terjadi seperti mengusir hewan demi gedung tak bernyawa.

Hubungan sesama manusia terutama sesama anak bangsa kini dalam potensi terkotak-kotak. Cacian dan makian seolah biasa serta lumrah dikeluarkan. Puasa didalam bulan Ramadhan bukan menahan lapar dan dahaga saja, akan tetapi menahan lisan dari ucapan-ucapan yang bernada kebencian terhadap sesama manusia.

Pada akhirnya kita dapat temukan esensi pendidikan Ramadhan akan bermuara kepatuhan sejati padaNya. Ramadhan mengajarkan segala aspek berbangsa dan bernegara, jiwa dan raga dilatih siang-malam. Zakat fitrah diakhir Ramadhan merupakan solusi melawan kapitalisme yang kian menguasai para pemilik modal, kewajiban berbagi kepada sesama.

Petikan lagu kebangsaan kita sangat sejalan dengan spirit Ramadhan, membangun jiwa dan raga. Semoga kita kembali fitrah, demikian pula dengan negara ini kembali sebagaimana idealnya. Sebuah negara yang menjadikan pribumi sebagai tuan rumah dinegerinya sendiri. Mengatur segala aspek kehidupannya sendiri bukan ‘boneka’ dari negara lain.

Gerakan Pribumi Indonesia (GEPRINDO) mengucapkan selamat menyambut Ramadhan, dengan Ramadhan kita lakukan konsolidasi negeri, dengan Ramadhan kita rapatkan barisan melawan terorisme, kapitalisme, kolonialisme dan imperialisme. (*)

*Penulis adalah Presiden Gerakan Pribumi Indonesia (Geprindo)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita