Rabu, 21 April 2021

BPPT Apresiasi Temuan Listrik dari Pohon Kedondong

BPPT Apresiasi Temuan Listrik dari Pohon Kedondong

Foto: Naufal Rizki, bocah Aceh penemu energi terbarukan. (ist)

Jakarta, Swamedium.com – Kabar seorang bocah asal Aceh, Naufal Rizki (15) yang berhasil menemukan tenaga Listrik dari pohon kedondong yang viral dan menjadi perbincangan berasal dari Desa Tampur Paloh, Kecamatan Simpang jerning, Kabupaten Aceh Timur, diapresiasi oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Banner Iklan Swamedium

“Pada dasarnya semua makanan dan minuman yang mengandung asam dapat menjadi sumber energi baterai,” kata Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT, Prof Eniya L. Dewi dalam jumpa pers di Jakarta, Senin (29/5).

“Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah kemampuannya dalam menghasilkan kekuatan arus listrik dapat berlangsung lama dan stabil, sehingga dapat menjadi sumber listrik yang mumpuni dan dapat digunakan sehari-hari,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, Eniya memberikan apresiasi atas percobaan yang dilakukan oleh Naufal, siswa kelas III MTS Negeri Langsa Lama, Kota Langsa, Nanggroe Aceh Darussalam yang menemukan adanya listrik pada pohon Kedondong Pagar.

“Inisiatif siswa tersebut untuk melakukan percobaan ini sangat baik, mengingat yang bersangkutan adalah siswa yang masih tingkat SMP, dan berlokasi di daerah. Semangat dan bakat peneliti tersebut harus dibina dan terus dikembangkan. Yang dilakukan oleh Naufal itu pembuktian teori baterai Volta atau Daniel cell”, terang Eniya.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Teknologi Konversi Energi (B2TKE) BPPT, Andhika Prastawa menjelaskan, sebagaimana penelitian-penelitian lain tentang listrik dari tumbuhan, menunjukkan hasil produksi listrik pada pohon Kedondong Pagar yang ditanam di area Pembinaan Masyarakat PT. Pertamina EP Aset I Field Rantau, menghasilkan data bahwa keluaran sistem listrik pohon Kedondong Pagar tersebut masih dalam kisaran mili watt, dengan tegangan yang dihasilkan dalam skala ratusan mili hingga satuan Volt, serta arus dalam mili ampere.

Sejumlah enam pohon kedondong, lanjut Andhika, disebut sebagai “pohon energi” dipasang masing – masing enam pasang elektroda Zn- Cu (seng dan tembaga). Dari rangkaian seri paralel di ujung elektroda diperoleh pengukuran tegangan total sebesar 2,774 Vdc.

Kemudian ujung rangkaian pohon ini dihubungkan pada converter arus searah untuk mencatu baterai bertegangan 3,5 Vdc, kemudian melalui inverter dihubungkan ke beban lampu energi turun dari 2,774 Vdc menjadi 1,870 Vdc.

Dengan laju penurunan tegangan seperti itu, urai Andhika, diperkirakan enam pohon kedondong tersebut hanya sanggup mencatu lampu tidak lebih dari 20 menit, dengan perkiraan energi sekitar 1,7 Watt selama 1 jam.

“Dengan demikian meskipun terbukti pohon Kedondong dapat menghasilkan listrik, namun masih belum mencukupi kebutuhan listrik secara wajar,” ungkap Andhika.

Berdasarkan analisis tersebut, BPPT menarik kesimpulan bahwa pohon Kedondong dapat menghasilkan listrik dalam jumlah dan waktu yang terbatas.

“Dengan demikian pohon ini hanya dapat dijadikan salah satu sumber energi bagi peralatan yang membutuhkan energi rendah,” ucapnya.

BPPT juga merekomendasikan agar Naufal dapat diberikan perhatian dan pembinaan yang intensif sebagaimana mestinya, agar yang bersangkutan dapat berkembang kemampuan dan minat penelitiannya.

Selain itu, BPPT mengharapkan kepada berbagai pihak agar menyikapi hasil percobaan tersebut secara wajar dan bijaksana.

“Agar semua pihak menyikapinya dengan wajar, sehingga tidak memberikan beban harapan terlalu besar bagi percobaaan listrik dari pohon kedondong ini bahwa hal tersebut dapat menjadi alternatif pemenuhan kebutuhan listrik, khususnya di pedesaan,” pungkasnya. (dip/ls)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita