Jumat, 23 April 2021

Memetik Hikmah dari Bank Grameen

Memetik Hikmah dari Bank Grameen

Jakarta, Swamedium.com – Kesuksesan Grameen Bank atau Bank Grameen yang mampu mengentaskan kemiskinan sebagian warga miskin di Bangladesh ini dikagumi oleh dunia, termasuk masyarakat muslim di Indonesia, terutama di awal tahun 2000 an. Tetapi, tahukah Anda, apakah Bank Grameen ini masuk kategori bank Islam atau tidak?

Banner Iklan Swamedium

Banyak yang lupa bahwa bank Islam melarang keras penerapan riba dalam praktek bisnisnya, sekecil apapun. Sedangkan Bank Garmeen yang didirikan oleh Professor Muhammad Yunus di Bangladesh ini mengenakan bunga kredit. Kesuksesan utama bank ini adalah bunganya yang rendah sekali dibandingkan dengan institusi sejenis lainnya. Kesuksesannya pun terjadi dalam waktu yang tak begitu lama, sehingga Muhammad Yunus mendapat anugerah penghargaan Nobel atas prestasinya itu.

Yunus kemudian dijadikan sebagai role model (contoh teladan) di sebagian kaum Muslim di beberapa Negara, dan ia diklaim pula sebagai satu-satunya pahlawan sesungguhnya untuk umat Islam karena ia telah mengubah wajah kemiskinan jutaan rakyat Bangladesh dengan pinjaman lunaknya. Rakyat Bangladesh, dengan pinjaman itu, bisa menjalankan bisnis dan mempunyai rumah, dan sebagainya.

Bank Desa ini mulai aktif sejak tahun 1977 dengan jumlah nasabah sebanyak 500 orang, pada akhir tahun 1982 mengalami penambahan jumlah nasabah sebanyak 28.000 dan bisa dipastikan semua nasabah itu merupakan masyarakat miskin dan termiskin di Bangladesh.

Keberhasilan sistem yang diterapkan Yunus menjadikan sistem Grameen Bank diadopsi lebih dari 100 negara lain. Dalam penerapan sistem perbankan yang dilakukan, Grameen Bank menitik beratkan pada beberapa hal, yaitu solidaritas, kerjasama kelompok, pengembangan sumber daya manusia, kerja keras, kejujuran, dan ketepatan sasaran kredit yang disalurkan.

Penyaluran dana yang diberikan Prof Yunus melalui Grameen Bank tidak hanya berhenti pada proses penyerahan dana, tetapi sejak proses seleksi calon nasabah hingga penyelesaian pengembalian kredit selalu dilakukan secara hati-hati, cermat, penuh pengawasan, disertai bimbingan dan penanaman nilai-nilai moral yang menjadi pondasi Grameen bank.

Hasil kerja Grameen Bank yang bertolak-belakang dengan sistem yang ada di bank konvensional selama ini ternyata membuahkan hasil dan mampu mementahkan stigma mengenai masyarakat miskin yang dianggap tidak memiliki kemampuan untuk mengembalikan kredit. Ternyata warga miskin lebih amanah daripada konglomerat pengemplang pinjaman BLBI.

Terlepas dari keberhasilannya itu, banyak yang mempertanyakan hal ini, apakah Bank Grameen itu perbankan Islam atau tidak? Padahal, yang terjadi di Bank Grameen adalah bank ini memberlakukan sekitar 2% bunga kredit.

Beberapa kalangan mulai menanyakan “ke-Islam-an” bank ini, karena benarkah riba 1% tidak haram? Jika Anda menenggak minuman alkohol yang ada dalam sebuah busa, yang jumlahnya sedikit sekali, apakah hukumnya berbeda dengan menenggak satu botol minuman keras? Lantas, bagaimana, apakah 20% alkohol berbeda dengan 2%?

Contoh lain, meski yang disembelih sama-sama ayam, tetapi yang satu tidak mengucap Bismillah, jadi haram, sedangkan ayam yang disembelih dengan mengucap Bismillah menjadi halal. Itulah, hukum Islam.

Karena itu, wajar bila kita memang perlu kembali mempertanyakan apakah Bank Grameen ini Islami ataukah tidak. Jika masih mengandung unsur riba di bank tersebut, sebaiknya kaum muslim tidak mengadopsi utuh praktek di bisnis Bank Grameen. Pilih yang sesuai syariah Islam dan tinggalkan yang tidak baik. Sebab sehebat apapun bisnisnya, bila melanggar hukum Allah dipastikan tidak berkah. (maida)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita