Kamis, 13 Agustus 2020

Ramadhan, Momentum Mengokohkan Konstruksi Iman untuk Menghentikan Kemaksiatan

Ramadhan, Momentum Mengokohkan Konstruksi Iman untuk Menghentikan Kemaksiatan

Foto: Tingkatkan keimanan, setop kemaksiatan. (ist)

Oleh: Muhammad F Azka S.Th.I

Jakarta, Swamedium.com — Pada bulan ramadhan, Allah mentitahkan shaum(puasa) yang ditujukan kepada hamba-hambaNya yang beriman agar naik status menjadi hamba Allah yang bertaqwa. Kalimat “hamba hamba Allah yang beriman” diletakkan lebih dahulu sebelum kata “kutiba” yang artinya di titahkan, maknanya titah ini dapat dilaksanakan oleh mereka yang dengan keyakinan berdasarkan pengetahuan mengimani Allah adalah Tuhan.

Keimanan kepada Allah menjadi konstruksi cara pandang manusia yang beriman itu secara totalitas dan punya pengaruh pada penilaian atas realitas. Cara pandang bahwa konsep abstrak dan konkrit dalam memahami asas-asas agama haruslah sebagaimana yang dimanifestasikan dari pendasaran konsep Tuhan itu.

Agama tak semestinya abstrak, bahkan yang praktis tak selalu konkrit. Islam sebagai diin itu adalah ilmu sekaligus amal, teori yang dipraktekkan, pernah dipenuhi secara sempurna oleh teladan kita yaitu Rasulullah.

Maka konsep dan fakta, konkrit dan abstrak, fisik dan metafisik itu benar berbeda jika dipahami dengan adab bahwa adab adalah ilmu pengenalan tentang sesuatu dan tempat sesuatu itu. Segala sesuatu memiliki tempatnya masing-masing. Namun pembedaan itu tidaklah dipertentangkan, tidak terpisah, tidak dikotomis.

Dengan demikian tidak di afirmasi bahwa yang dimaksud konkrit sebagai wujud dengan sempit makna sebagai yang empirik, obseravble sedangkan abstrak itu tidak wujud dan tidak unobservable. Bagi hamba yang beriman kepada Allah, Allah adalah Yang Wajib Wujud maka menjadi konkrit. Tidak hanya karena sebab tak tampak pada indera atau unobservable lalu Tuhan tidak wujud ini logika ateis yang sekuler akut bukan pandangan Tauhid. Pandangan orang beriman memang tidak terbatas hanya pada yang fisik.

Dalam pemaknaan bahasa, “shaum” adalah “al imsaak” yang artinya menahan, sebagaimana di surat maryam ada ayat “inni nadzartu lir rahmaani shaumaa” yang artinya aku bernazar kepada Tuhanku untuk shaum, makna nya adalah “imsaakaan anil kalaam” menahan dari berkata-kata.

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.