Jumat, 21 Januari 2022

Pandangan Fikih Soal Halal Atau Haramnya Kopi Luwak

Pandangan Fikih Soal Halal Atau Haramnya Kopi Luwak

Jakarta, Swamedium.com – Kini Umat Islam tak perlu ragu lagi untuk meminum, memproduksi dan berdagang kopi luwak karena Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menyatakan kopi itu halal. Tetapi, tahukah Anda jika kopi luwak itu pada awalnya mengandung najis dan bisa jadi haram jika salah memprosesnya.

Banner Iklan Swamedium

Perlu diketahui, perdebatan soal halal atau tidaknya kopi luwak ini muncul lantaran bahan pembuat kopi luwak ini berasal dari biji kopi yang dimakan luwak dan kemudian dikeluarkan lagi lewat feses. Lantas biji kopi yang ada di feses luwak itu diolah menjadi kopi yang lezat dan harganya selangit.

Dalam Islam, feses itu najis dan menjijikkan, tetapi mengapa dikonsumsi oleh orang?

Ketua Bidang Fatwa Majlis Ulama Indonesia, Kyai Haji Ma’ruf Amin menjelaskan pada mulanya biji kopi luwak menjadi haram dikonsumsi karena masih berunsur najis. Keharaman tersebut bukan karena biji kopinya haram dimakan, tetapi ada sebab, yaitu unsur-unsur feses.

Namun setelah dibersihkan ternyata unsur itu tidak ada lagi, sehingga menjadi halal dikonsumsi. Lagi pula, jelasnya, jika biji kopi itu ditanam kembali maka tetap akan tumbuh.

Untuk menjawab mengenai status hukum kopi luwak, seperti ditulis nu.or.id, maka ada baiknya kita melihat status hukum biji kopi luwak terlebih dahulu karena yang menjadi titik persoalannya adalah pada biji kopi luwaknya. Lantas bagaimana dengan pandangan fikih melihat biji kopi luwak tersebut?

Dalam pandangan para ulama dari kalangan Madzhab Syafi‘i, apabila ada binatang yang memakan biji kemudian biji itu keluar dari perutnya dalam keadaan utuh, maka dalam konteks ini perlu dilihat.

Apabila kekerasan biji tersebut masih tetap terjaga sehingga sekiranya ditanam bisa tumbuh, maka status hukum biji tersebut adalah suci akan tetapi wajib dicuci bagian luarnya karena bersentuhan dengan najis.

قَالَ أَصْحَابُنَا رَحِمَهُمُ اللهِ إِذَا اَكَلَتِ الْبَهِيمَةُ حَبًّا وَخَرَجَ مِنْ بَطْنِهَا صَحِيحًا فَاِنْ كَانَتْ صَلَابَتُهُ بَاقِيَةً بَحَيْثُ لَوْ زُرِعَ نَبَتَ فَعَيْنُهُ طَاهِرَةٌ لَكِنْ يَجِبُ غَسْلُ ظَاهِرِهِ لِمُلَاقَاةِ النَّجَاسَةِ

Artinya, “Para sahabat kami rahimahumullah (para ulama dari kalangan Madzhab Syafi‘i) berpendapat bahwa apabila seekor binatang memakan biji kemudian biji tersebut keluar dari perutnya dalam keadaan masih utuh. Dalam konteks ini apabila kekerasannya masih tetap di mana sekiranya ditanam akan tumbuh, maka biji tersebut adalah suci, akan tetapi harus dicuci permukaan atau bagian luarnya karena bersentuhan dengan najis,” (Lihat Muhayiddin Syarf An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, Jeddah, Maktabah Al-Irsyad, juz II, halaman 591).

Jika pandangan yang dikemukakan Imam Nawawi ini kita tarik dalam konteks pertanyaan di atas, maka pandangan ini mengandaikan, bahwa biji kopi yang dimakan luwak kemudian keluar lagi melalui duburnya, dan sepanjang kekerasannya masih tetap dan bisa ditanam kembali, maka masuk kategori barang suci yang terkena najis (mutanajjis) di mana bagian luarnya terkena najis sehingga bisa disucikan dengan cara dicucinya, sedang bagian dalamnya tidak najis.

Argumentasi rasional yang dibangun untuk meneguhkan pandangan ini adalah bahwa meskipun biji adalah makanan bagi binatang, namun biji tersebut tidak mengalami kerusakan. Hal ini sama dengan binatang yang menelan biji kemudian bijinya keluar. Bagian dalam biji tersebut adalah suci, sedang kulitnya adalah najis dan bisa suci dengan dicuci.

Berbeda kasusnya jika binatang menelan biji, kemudian bijinya keluar sudah lunak. Kekerasannya telah hilang sehingga sekiranya ditanam tidak akan tumbuh, maka dalam konteks ini biji tersebut statusnya adalah najis.

لِاَنَّهُ وَاِنْ صَارَ غِذَاءًا لَهَا فَمَا تَغَيَّرَ إِلَى الْفَسَادِ فَصَارَ كَمَا لَوِ ابْتَلَعَ نَوَاةً وَخَرَجَتْ فَاِنَّ بَاطِنِهَا طَاهِرٌ وَيَطْهُرُ قَشْرُهَا بِالْغَسْلِ وَاِنْ كَانَتْ صَلَابَتُهُ قَدْ زَالَتْ بِحَيْثُ لَوْ زُرِعَ لَمْ يَنْبُتْ فَهُوَ نَجِسٌ

Artinya, “Sebab, kendatipun biji tersebut adalah makanan binatang namun tidak menjadi rusak. Karenanya menjadi seperti binatang yang menelan biji kemudian biji keluar (dari duburnya, penerjemah), maka bagian dalam biji tersebut adalah suci dan kulitnya menjadi suci dengan dicuci. Berbeda jika kekerasan biji tersebut telah hilang, di mana sekiranya ditanam tidak akan tumbuh, maka biji tersebut adalah najis,” (Lihat Muhyiddin Syaraf An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, juz II, halaman 591).
(maida)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita