Senin, 08 Agustus 2022

Pedagang Takjil Mulai Peduli dengan Keamanan Pangan

Pedagang Takjil Mulai Peduli dengan Keamanan Pangan

Jakarta, Swamedium.com – Badan POM melalui Balai Besar POM (BBPOM) melakukan kegiatan sidak pangan takjil selama Ramadhan 2017 di seluruh wilayah Indonesia. Berdasarkan temuannya, takjil yang mengandung bahan pangan berbahaya menunjukkan tren penurunan selama 3 tahun terakhir.

Banner Iklan Swamedium

Kepala Badan POM, Penny K. Lukito mengungkapkan temuan sidak pangan takjil di wilayah Jakarta, misalnya, yaitu sebanyak 21,16% pangan takjil yang tidak memenuhi syarat di tahun 2014 telah turun menjadi 12,46% di tahun 2015, dan kembali turun menjadi 6,23% di tahun 2016.

“Sekalipun masih ada, namun jumlah temuan pangan takjil mengandung bahan berbahaya terus menunjukkan penurunan selama 3 tahun terakhir. Harapannya jumlah temuan di akhir pelaksanaan intensifikasi pengawasan pangan tahun ini dapat semakin menunjukkan perbaikan dari tahun-tahun sebelumnya”, papar Penny saat sidak pangan takjil di Pasar Benhil, Jakpus di awal Juni ini.

Laman Badan POM menyebutkan Sidak ini merupakan rangkaian dari intensifikasi pengawasan pangan jelang Ramadhan dan Idul Fitri 2017. Target sidak adalah pangan takjil yang diduga mengandung bahan berbahaya seperti formalin, boraks, rhodamin B, dan methanyl yellow.

Pada sidak di Pasar Benhil, petugas melakukan sampling terhadap 46 pedagang dan mengambil sebanyak 52 item sampel pangan takjil. Dari hasil pengujian menggunakan rapid test kit untuk mengetahui ada atau tidaknya kandungan bahan berbahaya pada sampel. Hasilnya, ada 2 item pangan takjil yang mengandung bahan berbahaya, yaitu kue apem mengandung bahan pewarna non-pangan Rhodamin B dan kerupuk mengandung boraks.

Menurut Penny, sebelum Ramadhan, Badan POM bekerja sama dengan Pemerintah Daerah melakukan pembinaan dan memberikan edukasi kepada pelaku usaha, terutama pedagang pangan siap saji, untuk tidak menggunakan bahan berbahaya pada produknya.

“Setelah pembinaan, jika nanti ditemukan masih ada pedagang yang menggunakan bahan berbahaya, kami akan langsung menindak tegas pelanggaran tersebut”, jelasnya.

Dia menjelaskan selama periode 2014 – 2016, hasil intensifikasi pengawasan pangan takjil menunjukkan masih adanya pangan takjil yang tidak memenuhi syarat karena mengandung bahan berbahaya. Kandungan formalin didapati pada bakso, bubur sumsum, es buah, dan agar-agar.

Kandungan boraks ditemui pada bakso, cincau, cimol, lontong, tahu, sotong, kerupuk, dan mi. Sementara kandungan rhodamin B ditemui pada bubur mutiara, pacar cina, cendol, es delima, agar-agar, kue lapis, terasi, kerupuk, dan sirup merah.

“Sekalipun masih ada, namun jumlah temuan pangan takjil mengandung bahan berbahaya terus menunjukkan penurunan selama 3 tahun terakhir,” ungkap dia.

Badan POM kembali mengimbau kepada para pelaku usaha untuk terus menaati peraturan yang berlaku, terutama para pelaku usaha pangan agar tidak lagi menggunakan bahan tambahan non-pangan yang membahayakan kesehatan.

Masyarakat juga diimbau agar menjadi konsumen cerdas dan lebih proaktif dalam memilih pangan yang dibeli untuk menjaga kesehatan selama menjalankan ibadah puasa. Teliti sebelum membeli pangan takjil, terlebih untuk beberapa jenis pangan takjil yang seringkali ditemukan mengandung bahan berbahaya.

Pangan takjil harus higienis dan aman dari bahan berbahaya yang sering disalahgunakan dalam pangan yaitu boraks, formalin, rhodamin B dan methanyl yellow. (maida)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita