Sabtu, 26 September 2020

Memposisikan Sebagai Pemenang di Hari Kemenangan, Pertemuan GNPF MUI dan Jokowi

Memposisikan Sebagai Pemenang di Hari Kemenangan, Pertemuan GNPF MUI dan Jokowi

Oleh: Ipoel Simatupang*

Sidoarjo, Swamedium.com — Momentum pertemuan GNPF MUI dan Jokowi kemarin siang telah membawa 2 sudut pandang dari para pemirsa. Dua sudut pandangan yang membutuhkan jiwa dingin dalam mencerna fenomena ini.

Kegiatan yang bisa dilakukan dengan cara membuang rasa marah dari dalam diri dari orang yang selama ini merasa terdzalimi di negara ini.

Mengutip pendapat dari Chaplin (1998) dalam dictionary of psychology, bahwa marah adalah reaksi emosional akut yang timbul kareana sejumlah situasi yang merangsang, termasuk ancaman, agresi lahiriyah, pengekangan diri, serangan lisan, kekecewaan, atau frustasi dan dicirikan kuat oleh reaksi pada sistem otomik, khususnya oleh reaksi darurat pada bagian simpatetik, dan secara emplisit disebabkan oleh reaksi seragam, baik baik yang bersifat somatis atau jasmaniyah maupun yang verbal atau lisan.

Melihat berita dari berbagai media seperti yang diungkapkan oleh Pratikno bahwa pertemuan ini atas inisiatif dari GNPF MUI untuk bertemu Jokowi. Bisa jadi apa yang dilakukan oleh GNPF MUI ini, seperti apa yang disampaikan Chaplin di atas adalah bentuk real dari fenomena yang terjadi dengan cara menyelesaikan dengan berkomunikasi dua arah sebaik-baiknya tanpa ada sekat.

Dari sudut permusuhan, dari kelompok pendukung Jokowi, maka permintaan pertemuan yang berasal dari GNPF MUI ini akan menjadi bulan-bulanan dan nyinyir seperti menjatuhkan martabat presiden saja karena mereka menganggap selama ini yang dilakukan GNPF MUI dan segala aksinya terbukti bisa menyatukan kekuatan Islam.

Dari sudut permusuhan kelompok yang selama ini mendukung GNPF MUI, momentum ini bisa menjadi pertanyaan besar bagi peserta aksi, bahwa pertemuan ini harusnya tidak dilakukan karena kriminalisasi dengan menangkap tokoh-tokoh nasional dan ulama adalah bentuk kesewenang-wenangan pemerintah kepada umat Islam. Banyak kegiatan umat Islam mulai gerakan 212 dan seterusnya yang berkaitan dengan gerakan ini yang dipersulit aparat di lapangan, sampai mau menyewa bis saja untuk ke Jakarta tidak bisa.

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.