Sabtu, 24 Juli 2021

Al Hasud La Yasud

Al Hasud La Yasud

Foto: Pertemuan GNPF MUI dengan Presisen Jokowi. (ist)

Oleh: Murhali Barda*

Banner Iklan Swamedium

Jakarta, Swamedium.com — Harus bagaimana lagi kah memecah belah Persatuan Umat dan Bangsa ini ?

Tergelitik saya akan Pernyataan FPI Game Over yang ditulis oleh Djoko Edhi S Abdurrahman (Mantan Anggota Komisi Hukum DPR dan Wakil Sekretaris Pemimpin Pusat Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama, PBNU).

Semula saya pikir yang bersangkutan memiliki kapasitas dan keilmuan yang bagus, namun perkiraan saya salah dan akhirnya URUT JIDAT dan TEPOK DADA ajalah.

Tentunya tulisan Djoko itu ada niat untuk menyampaikan berita bahwa Perjuangan ini janganlah kalian lanjutkan karena HANDUK PUTIH sudah dilemparkan.

Dia pun menyatakan bahwa Ormas ormas Islam sudah mendapat JATAH REDAM sebesar SATU TRILYUN setiap ormasnya.

Saya PUTAR OTAK bagaimana mungkin KALAH PERANG namun dapat uang “Ghonimah” yang dia maksudkan…? Hhmm Tepok Dada dan Urut Jidat saja lah.

NGACO DAN KACAU SEKALI pernyataan mantan anggota DPR itu, dia perlu diruqyah dengan air putih tak usah aqua.

Pengakuan Diri bahwa Ormasnya sudah dapat SATU TRILYUN kemungkinan benar sekali, anda bisa tabayyun langsung Pimpinan Ormas dan Juga pengusaha Meikarta itu, atau silahkan anda menelusuri berita televisi yang memuat berita tersebut, sangat JELAS tak dapat dipungkiri.

Adapun ormas lainnya wabil khusus yang tergabung dalam GNPF-MUI maka dengan BANGGA saya harus sampaikan bahwa ALLAH TA’ALA MASIH MENJAGA MEREKA dan tidak ada UANG apapun yang diterima oleh FPI dan Ormas lainnya di GNPF.

Saya SANGAT TAHU DAN FAHAM bahwa Al Habib Muhammad Rizieq ibn Husein Syiehab dan Ustadz Bachtiar Nashir sangat amanah dan levelnya saaaangat jauh berbeda dengan Djoko Edi dan beberapa oknum dalam pakaian NU.

Sebaiknya Djoko Edi menyadari bahwa Pakaian yang cocok dengan badannya janganlah ia buat untuk mengukur badan orang lain.

GHONIMAH adakah didapati tanpa perang?
Jika Edi dan aktivis lainnya memahami apa itu ghonimah ?, apa itu Fa,i ? , maka dia tidak akan MUDAH memakai kata Ghonimah sembarang. Namun SAYA menyadari KEBODOHAN Edi dan biar sajalah orang bodoh mau ngomong apa. Cukup sekali lagi Tepok dada dan urut jidat.

Lantas…. Apa artinya SOWAN KE ISTANA kalau bukan tanda bahwa Umat Islam sudah kalah..?

Jika anda selevel dengan Djoko Edi tak apalah kalian berasumsi seperti dirinya. Namun jika kalian memiliki keilmuan selevel Kapolsek atau Danramil saja maka kalian akan SALUT dengan apa yang dilakukan oleh GNPF-MUI tersebut.

Namun saya cukup menyatakan pada kalian bahwa GNPF-MUI bukan Nabi Musa dan Jokowi belum jadi Fir’aun. GNPF-MUI cuma menjalankan Perintah “IDZHAB ILA FIR’AUNA….” (lanjutkan sendiri ayatnya).

So… Apa ma’nanya….???
Mikir lah kiiiirr…. !!

SEKALI LAGI SAYA TEGASKAN…
ALHAMDULILLAH…. AL HABIB RIZIEQ DAN UBN MASIH DIJAGA ALLAH TA’ALA.

Trick REDAM memang dilakukan oleh mereka, dan saya sendiri pun pernah ditawari peredaman saat kami bergerak untuk MENURUNKAN PATUNG TIGA MOJANG dan MENGGAGALKAN KONSER LADY GAGA.

Alhamdulillah itu bisa saya dan teman-teman tolak. Apatah lagi selevel HRS dan UBN kalau hanya SATU Trilyun untuk mengkhianati AMANAH UMAT…. Sorry…!! Gak level !!!
Terlalu murah dan MEREKA BUKAN AKTIVIS MURAHAN!!!

Djoko Edi menyebut Jendral Tito telah berjasa membuat TEROR dan Menakut-nakuti Umat Islam…?

Sorry mas Djoko…. Saya adalah orang yang dengan MATA KEPALA sendiri menyaksikan linangan AIR MATA BAHAGIA SANG JENDRAL saat IA MENJADI BAGIAN dari Panitia 212.

Jendral itu bahagia dengan Umat Islam dan Sebagai anggota “WONG KITO” maka beliau ada keberpihakannya terhadap perjuangan Umat ini kendati langkahnya harus selalu direcoki Polisi Amerika Pejaten.

Panglima TNI dan Kapolri PASTI AKAN MEMBELA RAKYAT WALAU MEREKA DISOGOK DANA SANA SINI.

CAMKAN ITU!!

Lantas…. Bagaimana ANDA DAN PEMBACA TULISAN INI HARUS BERSIKAP…??

Jika kalian bisa Memimpin Sholat maka jadilah Imam bagi kaum anda. Namun jika anda merasa masih bodoh kenapa harus malu menjadi ma’mum ??

Ma’mum yang baik akan selalu ikuti Imam dan tidak membathalkan sholatnya jika ia mendapati Imam bersalah. Namun jangan selalu mengucap SUBHANALLAH lantaran ayat atau rukun yang dilakukan Imam tak sesuai dengan ke-MAU-an anda.

HASBUNALLAH WA NI’MAL WAKIL…..! (*)

*Penulis adalah mantan Ketua FPI Bekasi Raya

Ada pun tulisan Djoko Edhi S Abdurrahman (Mantan Anggota Komisi Hukum DPR dan Wakil Sekretaris Pemimpin Pusat Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama, PBNU) adalah seperti di bawah ini:

FPI Game Over

By Djoko Edhi S Abdurrahman (Mantan Anggota Komisi Hukum DPR dan Wakil Sekretaris Pemimpin Pusat Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama, PBNU).

Bani Islam kalah. Bani Kotak menang. Bactiar Nasir sudah jinak. Apalagi? Puja-puji Nasir pun mengalir kayak air pancuran di Tapian Nauli. Salah satu yang terpuji adalah program ekonomi umat dari Presiden Jokowi yang tiga bulan lalu dideklarasikan di Hotel Sahid Jakarta. Program 86.

Sebelumnya, Rais Aam PBNU, Prof KH Makruf Amin meraih gelar profesor di UIN Malang untuk bidang Ilmu Ekonomi Keummatan. Sebuah cabang baru ilmu ekonomi di dunia ilmu ekonomi yang tengah saya pelajari. Maklum menyangkut Rois Aam saya di PBNU.

Dari tematik Ekonomi Keummatan itu, saya berkesimpulan bahwa Bani Islam kalah telak. Tadinya Bani Kotak kalah. Skornya 2:0. Yaitu, Ahok tumbang di pilkada DKI, dan masuk bui. Sejak temu pemimpin GMPF MUI kemarin, skornya 2:3. Bani Islam kalah.

Kalahnya di mana? Pertama, Bani Islam lempar handuk (menyerah). Ke Istana bersua Presiden Jokowi, dan kata berita, GNPF sudah mendukung Presiden Jokowi. Kalah.

Kedua, telah ada rekonsiliasi. Sebelumnya issu rekonsiliasi adalah pesan Habib Rizieq dari Saudi: “Rekonsiliasi atau Revolusi?”. Lalu, Prof Yusril Izha Mahendra bicara proses rekonsiliasi. Jadi, jelas ide dan ushulnya dari Habib Rizieq cq GNPF. Kalah.

Ketiga, Ahok masuk bui, tokoh-tokoh Bani Islam juga masuk bui. Tak ada deal pembebasan. Lebih maju saya bersama Bursah Zarnubi ke Tito Karnavian, masih punya deal pembebasan aktivis yang dituduh makar. Alhasil, skor Bani Islam kalah 3. Sedang Bani Kotak cuma kalah 2.

Bagi Ghonimahnya, Bro

Kita sudah pengalaman yang begini di politik Indonesia. Sudah tabiat. Ilmu reman. Bagi sajalah 86 nya. Ormas Islamnya ada 18, dikali Rp 1 triliun, baru Rp 18 triliun. Kecillah itu, kata Anak Medan. Satu taypan, lebih dari cukup untuk covered. Kasihkan ke James Riyadi saja, ambilkan dari Meikarta. Jadi keliru pernyataan Habil Marati, karena tak bicara persentase 86. Coba dihitung! Duit 86 masuk kategori ghonimah (pampasan perang). LOL.

Dampak rekonsiliasi ghonimah itu, luar biasa. Hal itu, karena publik Bani Islam tahu, ini bukan laksana perjanjian Hudaibiyah, tapi perjanjian 86. Niscaya takkan ada lagi demo jutaan. Niscaya tak bakal ada lagi Demo Bela Islam ke depan. Keikhlasan mereka dicabut, expired, kembali ke rumah tuhannya. Mosok orang bersedia jalan kaki dari Cirebon ke Jakarta kalau tak ikhlas. Payah FPI.

Padahal saya sudah mengidolakan Habib Rizieq yang mampu berdakwah nahi mungkar. Sebab, tak mampu dilakukan oleh PBNU. PBNU hanya mampu berdakwah amal makruf (mengajak ke kebaikan), bukan dakwah nahi mungkar (melawan kejahatan). Kalau sama-sama amar makruf, di PBNU saja.

Luar Biasa Mukidi

Tak nyana Presiden Jokowi jenius. Mampu menjinakkan singa-singa Islam hanya dengan ghonimah Rp 18 T. Itu jika Rp 1 T per ormas Islam. Apalagi ke 18 ormas Islam itu kelak jadi timses pilpresnya. Kecil. Sangat kecil. Dengan ongkos ghonimah Rp 18 T, Presiden Jokowi melaju ke periode kedua Presiden RI, lus-mulus. Daripada bayar parpol yang pada akhirnya tetap saja ormas tadi yang bekerja.

Karena yang berjasa adalah Kapolri yang berhasil nakut-nakuti tokoh-tokoh GNPF, hampir pasti Tito Karnavian yang mendampingi Jokowi jadi Cawapres.

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita