Senin, 26 Juli 2021

Kincia Kamba Tigo, Wisata Baru Kabupaten Tanah Datar

Kincia Kamba Tigo, Wisata Baru Kabupaten Tanah Datar

Foto: Kincia Kamba Tigo yang menjulang tinggi menjadi objek wisata baru di Kabupaten Tanah Datar (denni risman/swamedium)

Batusangkar, Swamedium.com — Kincir Kembar Tiga alias Kincia Kamba Tigo yang terletak di Jorong Padang Data, Nagari Simawang, Kecamatan Rambatan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat menjadi tempat favorit wisata baru. Pada saat libur lebaran ini, lokasi ini dipenuhi wisatawan.

Banner Iklan Swamedium

Kincir air ini awalnya dibangun oleh warga setempat untuk menaikan air dari Sungai Ombilin ke Masjid Al Istiqamah yang letaknya sekitar 1.200 meter dari sungai. Masjid ini berada di pinggir jalan raya Batusangkar-Ombilin.

Foto: Kincir air ini dibangun untuk menaikan air ke Masjid Al Istiqamah yang berada diketinggian 128 meter dan berjarak 1.200 meter dari sungai Ombilin. (denni risman/swamedium)

Untuk menuju lokasi Kincia Kamba Tigo tidaklah sulit. Rambu penunjuk lokasi sudah ada sejak dari ibukota kabupaten, Batusangkar. Dari pinggir jalan di Jorong Padang Lua, nanti jalan menurun menuju lokasi.

Sayangnya, kendaraan tidak bisa masuk langsung ke lokasi kincir air. Kendaraan roda empat dan roda dua parkir di atas, kemudian wisatawan turun ke sungai sekitar 600 meter dengan jalan penurunan yang curam.

Jalan ke lokasi kincir air yang berada di pinggir Sungai Ombilin masih jalan tanah. Jadi perlu hati-hati agar tidak tergelincir.

Tiba di pinggir sungai, kita akan melihat tiga kincir air berdiri sejajar. Kincir air ini sangat besar dan tinggi

“Kincir ini dibangun oleh perantau Padang Data, pak Ong (Anwar.red) pada tahun 2015. Idenya adalah menaikan air untuk kebutuhan masjid yang selalu kesulitan air saat musim kemarau,” kata Meinar, salah seorang pedagang makanan di lokasi.

Foto: Warung yang berada di pinggir sungai menyediakan minuman dan makanan. (denni risman/swamedium)

Pemukiman dan persawahan di Jorong Padang Data berada di ketinggian. Pada musim kemarau, warga selalu kesulitan air, baik untuk keperluan mck, maupun untuk persawahan.

Dari kesulitan itu, Anwar, warga Padang Data yang sekarang bekerja di Wika Jakarta dan punya pengetahuan tentang kincir air memunculkan ide untuk menaikan air sungai Ombilin ke pemukiman yang berada jauh di atas sungai. Ide ini langsung disambut oleh para perantau lain untuk pembiayaannya dan warga di kampung.

Bulan April 2015 dimulailah pembuatan kincir hingga terealisasi secara penuh pada September 2015. Biaya pembuatan ketiga kincir itu menghabiskan uang Rp 400 juta. Semua biaya ditanggung para perantau. Biaya bisa murah karena bahan kincir terbuat dari bambu. Biaya terbesar adalah untuk pembuatan tiga pondasi kincir, pompa menaikan air dan pipa menyalurkan air ke atas.

Unggahan Media Sosial

“Kincir yang sekarang ini merupakan kincir yang kedua. Tahun lalu, kincir yang dibuat awal hancur diterjang banjir Ombiln. Pada awalnya, kincir hanya berwarna hitam. Pada kincir kedua ini kemudian di cat warna-warni. Inilah yang membuat kincir jadi menarik,” tambah Meinar lagi.

Ketika kincir warna warni ini siap, ada warga setempat yang memotret dan mengunggahnya ke media sosial. Dari unggahan itu, kemudian banyak orang yang penasaran dan ingin tahu bentuk kincir air itu. Apalagi di unggahan itu disebutkan Kincia Kamba Tigo (bahasa minang.red).

Foto: Anak-anak bermain air dengan memakai ban dalam mobil di sungai (denni risman/swamedium)

Foto Kincia Kamba Tigo jadi viral. Ratusan orang mulai berdatangan. Oleh warga setempat, lokasi ini kemudian dilengkapi dengan warung-warung makanan, penyewaan ban dalam dalama bahasa minang disebut benen.

Lalu karena lokasi kincir berada jauh di bawah, pemuda setempat mengatur parkir. Para wisatawan dipungut uang parkir, untuk mobil Rp10 ribu dan motor Rp 5 ribu.

“Uang ini kami gunakan untuk menyewa alat berat untuk membangun jalan ke lokas,” kata Joni, salah seorang petugas parkir.

Jalanan Terjal

Karena lokasi masih dikelola secara swadaya masyarakat, untuk menuju lokasi kincir harus hati-hati. Dari tempat parkir, kita harus turun ke bawah sejauh 600 meter dengan penurunan yang tajam. Kesulitannya adalah saat mau naik.

“Cukup sekali saya kesini, sesak nafas mendaki,” kata Dian Citra, salah seorang wisatawan dari Pekanbaru.

Foto: Jalan tanah yang terjal harus hati-hati saat turun. Ketika pulang, banyak wisatawan yang tidak kuat mendaki (denni risman/swamedium)

Dian mengaku puas dengan objek wisata baru ini. Anak-anak bisa main dan mandi dengan pelampung dari ban dalam. Lokasinya juga masih asri.

“Sayangnya itu saja, nggak sanggup lagi untuk datang ke dua kali karena jalan mendaki yang cukup jauh ke mobil,” ujarnya.

Menurut Joni, mereka saat ini sudah membangun jalan hingga ke lokasi. Namun karena keterbatasan biaya, pembuatan jalan itu dicicil.

“Saat ini, belum ada bantuan dari Pemkab Tanah Datar untuk objek wisata Kincia Kamba Tigo. Kalau pemkab mau membantu bangun jalan ke lokasi kincir, wisatawan tidak akan susah lagi menuju tempat parkir,” tambah Joni lagi. (dr)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita