Selasa, 29 September 2020

Terpaksa Kaya Dikejar Rejeki, Kok Bisa?

Terpaksa Kaya Dikejar Rejeki, Kok Bisa?

Jakarta, Swamedium.com – Dalam soal rejeki, manusia banyak yang memimpikan mempunyai banyak rejeki atau menjadi orang kaya raya. Bahkan, kesuksesan hidup seseorang kerap diukur dengan banyak sedikitnya harta atau aset yang dimilikinya.

Begitu banyaknya orang yang ingin hidup kaya berlimpah harta, terkadang mereka sampai menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Mereka berpikir kalau kaya pasti hidupnya bahagia. Sehingga, waktunya sehari-hari lebih banyak disibukkan dengan urusan mencari uang, bahkan sampai banyak yang melupakan sholat lima waktu demi mengejar uang.

Sebagai orang beriman, tindakan seperti itu tidak tepat. Karena itu, dalam soal rejeki sebaiknya belajar dari kisah Abdurrahman Bin Auf yang selalu gagal menjadi orang miskin.

Sejatinya, miskin atau kaya itu sudah ada yang mengaturnya.

“Kalaulah anak Adam lari dari rezekinya (untuk menjalankan perintah Allah) sebagaimana ia lari dari kematian, niscaya rezekinya akan mengejarnya sebagaimana kematian itu akan mengejarnya.” ( HR Ibnu Hibban No. 1084).

Jika tiba-tiba kondisi ekonomi sedang “down” atau bisnis gagal, saya selalu terhibur mengingat kisah bisnis Abdurrahman bin Auf, tentang investasinya membeli kurma busuk.

Suatu ketika Rasulullah Saw berkata, Abdurrahman bin Auf r.a akan masuk surga terakhir karena terlalu kaya.

*Ini karena orang yang paling kaya akan dihisab paling lama. Karena pertanggungjawaban setiap hartanya.*

Maka mendengar ini, Abdul Rahman bin Auf r.a pun berfikir keras, bagaimana agar bisa kembali menjadi miskin supaya dapat masuk syurga lebih awal.

Setelah Perang Tabuk, kurma di Madinah yang ditinggalkan sahabat menjadi busuk. Lalu harganya jatuh.

Abdurrahman bin Auf r.a pun menjual semua hartanya, kemudian memborong semua kurma busuk milik sahabat r.hum tadi dengan harga kurma bagus.

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.