Selasa, 17 Mei 2022

Terpaksa Kaya Dikejar Rejeki, Kok Bisa?

Terpaksa Kaya Dikejar Rejeki, Kok Bisa?

Jakarta, Swamedium.com – Dalam soal rejeki, manusia banyak yang memimpikan mempunyai banyak rejeki atau menjadi orang kaya raya. Bahkan, kesuksesan hidup seseorang kerap diukur dengan banyak sedikitnya harta atau aset yang dimilikinya.

Banner Iklan Swamedium

Begitu banyaknya orang yang ingin hidup kaya berlimpah harta, terkadang mereka sampai menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Mereka berpikir kalau kaya pasti hidupnya bahagia. Sehingga, waktunya sehari-hari lebih banyak disibukkan dengan urusan mencari uang, bahkan sampai banyak yang melupakan sholat lima waktu demi mengejar uang.

Sebagai orang beriman, tindakan seperti itu tidak tepat. Karena itu, dalam soal rejeki sebaiknya belajar dari kisah Abdurrahman Bin Auf yang selalu gagal menjadi orang miskin.

Sejatinya, miskin atau kaya itu sudah ada yang mengaturnya.

“Kalaulah anak Adam lari dari rezekinya (untuk menjalankan perintah Allah) sebagaimana ia lari dari kematian, niscaya rezekinya akan mengejarnya sebagaimana kematian itu akan mengejarnya.” ( HR Ibnu Hibban No. 1084).

Jika tiba-tiba kondisi ekonomi sedang “down” atau bisnis gagal, saya selalu terhibur mengingat kisah bisnis Abdurrahman bin Auf, tentang investasinya membeli kurma busuk.

Suatu ketika Rasulullah Saw berkata, Abdurrahman bin Auf r.a akan masuk surga terakhir karena terlalu kaya.

*Ini karena orang yang paling kaya akan dihisab paling lama. Karena pertanggungjawaban setiap hartanya.*

Maka mendengar ini, Abdul Rahman bin Auf r.a pun berfikir keras, bagaimana agar bisa kembali menjadi miskin supaya dapat masuk syurga lebih awal.

Setelah Perang Tabuk, kurma di Madinah yang ditinggalkan sahabat menjadi busuk. Lalu harganya jatuh.

Abdurrahman bin Auf r.a pun menjual semua hartanya, kemudian memborong semua kurma busuk milik sahabat r.hum tadi dengan harga kurma bagus.

Semuanya bersyukur, Alhamdulillah kurma yang dikhawatirkan tidak laku, tiba-tiba laku keras! Diborong semuanya oleh Abdurrahman bin Auf.

Sahabat gembira.
Abdurrahman bin Auf r.a pun gembira.
Semua happy!

Sahabat lain gembira sebab semua dagangannya laku.
Abdurrahman bin Auf r.a gembira juga sebab dia berharap
jatuh miskin!

MasyaAllah..hebat.
Coba kalau kita?
Usaha goyang dikit, udah teriak tak tentu arah.

Abdurrahman bin Auf r.a merasa sangat lega, sebab tahu akan bakal masuk surga dulu, sebab sudah miskin.

Namun, Subhanallah..Rencana Allah itu memang terbaik..

Tiba-tiba, datang utusan dari Yaman membawa berita, Raja Yaman mencari kurma busuk.

Rupa-rupanya, di Yaman sedang berjangkit wabah penyakit menular, dan obat yang bisa menyembuhkannya adalah Kurma Busuk!

Utusan Raja Yaman berniat memborong semua kurma Abdurrahman bin Auf r.a dengan harga 10 kali lipat dari harga kurma biasa.

Allahu Akbar..Orang lain berusaha keras jadi kaya. Sebaliknya, Abdurrahman bin Auf berusaha keras jadi miskin tapi selalu gagal. Benarlah firman Allah:

“Wahai manusia, di langit ada rezki bagi kalian. Juga semua karunia yang dijanjikan pada kalian ” (Qs. Adz Dzariat, 22 )

Jadi yang banyak memberi rezeki itu datangnya dari kurma yang bagus atau kurma yang busuk?

ALLAH Swt lah yang Memberi Rezeki.

Ibroh dari kisah ini sangat spesial buat kita karena membuat kita harus lebih menyakini bahwa rezeki itu datang sepenuhnya dari Allah.

Bukan hanya karena usaha kita itu sudah cukup bagus atau produk kita yang terbaik yang akan memberi kita omzet yang banyak.

Kadang-kadang, Keyakinan dalam hati kita itu yang belum cukup kuat dan bulat…

Semoga kisah ini dapat menyuntik kembali semangat dalam diri kita semua, yang sedang diuji dalam pekerjaan dan usaha kita. (maida)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita