Senin, 16 Mei 2022

IDI: Dokter Stefanus Meninggal Bukan Karena Kerja Nonstop Selama Lebaran

IDI: Dokter Stefanus Meninggal Bukan Karena Kerja Nonstop Selama Lebaran

Jakarta, Swamedium.com — Meninggalnya seorang dokter bernama Stefanus Taofik saat bertugas di Rumah Sakit Pondok Indah, Bintaro, sempat menghebohkan media sosial.

Banner Iklan Swamedium

Stefanus disebutkan dalam kabar yang viral itu, meninggal karena kelelahan setelah bertugas tanpa henti selama libur Lebaran.

Namun, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) membantah hal tersebut. IDI menduga dokter muda spesialis anestesi itu meninggal karena penyakit brugada syndrome.

Menurut IDI, brugada syndrome adalah sebuah penyakit ketidaknormalan sistem listrik jantung sehingga mengakibatkan gangguan irama jantung yang membahayakan jiwa atau aritmia. Dugaannya, terdapat kelainan genetik pada pembuluh darah di jantung koroner.

“Ya, betul. Dugaannya memang mengarah ke sana,” kata Ketua Umum Pengurus Besar IDI terpilih periode 2019-2021, Daeng Mohammad Faqih, seperti dikutip Tempo, Rabu, (28/6).

Sementara di tempat terpisah, Ketua Program Studi SP2 Divisi Anestesia Ambulatori dan Bedah Umum Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dr Arif H.M. Marsaban menuturkan Stefanus mengidap brugada syndrome. Salah satu bentuk penyakit aritmia maligna atau berbahaya akibat channelopathy.

“Kelainan ini terbanyak pada laki-laki dan sudden cardiac death kerap terjadi saat tidur,” tuturnya.

Hal ini menepis kabar bahwa korban meninggal karena kelelahan saat bekerja. Arif mengatakan Stefanus bekerja selama 2×24 jam di Rumah Sakit Pondok Indah.

Keterangan ini sekaligus membantah informasi yang menyebut Stefanus bekerja selama lima hari berturut-turut dan kelelahan.

Sebelumnya, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (Perdatin) Andi Wahyuningsih Attas juga mengirimkan surat penjelasan ke IDI.

Dalam surat itu, Andi menjelaskan, Stefanus adalah peserta pendidikan fellowship Konsultan Intensive Care (KIC) di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo semester kedua.

“Saat meninggal, almarhum sedang melakukan pekerjaannya sebagai dokter anestesi di RS Pondok Indah, bukan dalam tugasnya sebagai peserta didik,” katanya.

Saat ditemukan pertama kali, Stefanus masih bertugas jaga selama 24 jam. Saat itu, ia menjaga satu pasien di ruang ICU dan telah pindah ke ruangan. Serta satu pasien di kamar operasi.

“Almarhum meminta pertukaran hari jaga dengan rekannya sehingga memungkinkan almarhum untuk jaga 2×24 jam dan libur setelahnya,” tuturnya.

Stefanus juga tercatat bertugas sebagai fellow KIC di RSUPN Cipto Mangunkusumo dan dokter jaga di RS Jantung Diagram, Cinere.

Stefanus, kata Andi, terbilang baru bertugas di RS Pondok Indah. Di rumah sakit itu ada tiga dokter spesialis anestesi. Saat Lebaran, ia bertugas sejak malam takbiran karena kebetulan non-muslim.

Sebelumnya, seorang dokter spesialis anestesi di Rumah Sakit Pondok Indah, Bintaro Jaya, dilaporkan meninggal ketika tengah menjalani tugas.

Kabar kematian dokter bernama Stefanus Taofik itu menjadi viral di media sosial karena diduga kelelahan setelah bekerja secara nonstop selama lima hari berturut-turut. (*/ls)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita