Kamis, 24 September 2020

Namanya Pacu Jawi, Tapi Jawinya Dilepas Sendirian

Namanya Pacu Jawi, Tapi Jawinya Dilepas Sendirian

Foto : Ekor jawi ditarik saat berpacu. (Denni Risman / Swamedium)

Batusangkar, Swamedium.com—Pada bulan Juni, Juli dan September di Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat selalu digelar pacu jawi (sapi.red). Pacu Jawi di Sumatera Barat sangat berbeda dengan Karapan Sapi di Madura.

Bagi yang baru pertama kali menyaksikan Pacu Jawi di Tanah Datar, sering tertipu melihat pacuan yang digelar di arena sawah yang basah. Kenapa? Karena namanya pacuan pasti jawi atau sapi itu berlomba kencang dengan jawi lainnya.

Foto : Ekspresi Joki saat mengendalikan sapinya, terkena percikan lumpur. (denni risman/swamedium)

Tetapi di arena pacuan, jawi yang berlomba dilepas satu-satu. Lho kok bisa?

Itulah keunikan Pacu Jawi di Kabupaten Tanah Datar. Dalam pacuan di sini, pemenang bukan ditentukan dari kecepatan bisa mengalahkan lawan. Tapi yang dinilai adalah bagaimana jawi itu bisa berlari lurus.

Untuk bisa berlari lurus, Sapi dikendalikan oleh seorang joki. Joki naik di atas alat pembajak sawah yan g dipasang pada dua ekor sapi. Joki berpegangan dan bertumpu pada alat pembajak sawah. Joki yang mengendalikan sapi tidak menggunakan alas kaki. Alat pembajak sawah dikaitkan pada sepasang sapi yang dikendalikan oleh seorang joki.

Foto : Joki menggit ekor sapi untuk memacu. (denni risman/swamedium)

Willy, salah seorang pemuda Galogandang, Nagari III Koto Kecamatan Rambatan menyebutkan, pacu jawi itu mempunyai nilai filosofi. Nilai filosofinya, berjalan lurus, tidak miring dan tidak melenceng kemana-mana.

”Jawi saja harus berjalan lurus apalagi manusia dan manusia yang bisa berjalan lurus tentu akan mempunyai nilai tinggi dan dapat menuntun temannya untuk berjalan lurus,” katanya.

Foto : Joki terjatuh ketika dua ekor sapi yang berpacu tidak lurus larinya, sehingga joki kehilangan keseimbangan. (denni risman/swamedium)
Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.