Selasa, 17 Mei 2022

Rembug Kebangsaan, Sebuah Keinginan Tulus Habib Rizieq

Rembug Kebangsaan, Sebuah Keinginan Tulus Habib Rizieq

Foto: Pertemuan antara Presiden RI dengan para ulama dan tokoh GNPF MUI. (ist)

Oleh: Abrar Rifai*

Banner Iklan Swamedium

Purwosari, Swamedium.com — Terkait pertemuan GNPF-MUI dengan Presiden Jokowi di Istana masih menyisakan berbagai polemik. Pro dan kontra segera muncul sesaat setelah pertemuan tersebut terjadi. Baik antara pendukung Jokowi-Ahok versus para pendukung Aksi Bela Islam, atau pun di antara pendukung Jokowi-Ahok sendiri dan juga di antara pendukung Aksi Bela Islam.

Namun tulisan ini akan membatasi pada polemik di antara pendukung Aksi Bela Islam saja. Sebab, sebagai satu di antara alumni ABI saya tidak ingin ada pertikaian di luar pengetahuan teman-teman. Tapi, setelah memperoleh pengetahuan seperti yang akan saya tuturkan berikut ini, saya kira pro dan kontra, setuju tidak setuju adalah tabiat dari suatu keputusan dan tujuan segala sesuatu.

Di antara Alumni ABI terjadi polarisasi sikap setidaknya pada tiga sikap:

1. Menolak pertemuan tersebut, dengan alasan bahwa rezim ini benar-benar sudah tidak bisa diajak bicara. Sebab Jokowi dan jajarannya sudah dianggap buta dan tuli. Mereka tidak mau lagi melihat segala kebenaran yang berasal dari para Islamis. Sebagaimana mereka juga sudah tidak mau lagi mendengar segala keterangan kebenaran dan kebaikan dari para ulama di luar lingkaran kekuasaannya. Saya pun tidak sepenuhnya menolak pendapat teman-teman yang berada pada barisan ini.

2. Menganggap bahwa GNPF-MUI sekarang sudah berhasil dijinakkan Jokowi, setelah para tokohnya banyak yang dikriminalisasi. Lebih sadis lagi kelompok ini menyebut bahwa GNPF-MUI telah dibeli dengan sekian banyak uang. Jelas ini adalah pendapat mengada-ada dan ngawur!

3. Mendukung pertemuan tersebut sebagai suatu keniscayaan demi terwujudnya persatuan Nasional untuk Bangsa dan Negara, yang mana Islam adalah bagian terbesar yang ada di dalamnya. Nah, pada barisan pendapat yang ke tiga inilah saya ikut berdiri.

Sesungguhnya, sebagaimana yang disampaikan para tokoh GNPF-MUI lebih khsusus lagi Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) dan Habib Rizieq Syihab (HRS). UBN dan HRS dalam banyak kesempatan selalu menyampaikan, bahwa semua aksi aksi bela Islam yang dilakukan sejak awal kemunculan kasus penistaan Al Qur`an oleh Ahok, sama sekali tidak pernah diniatkan untuk melawan Pemerintah. Apalagi bertujuan makar atau memecah belah persatuan Bangsa. Tidak! Semua itu sama sekali tidak pernah menjadi agenda semua aksi bela Islam. Saya kira masalah ini sebenarnya clear dari awal. Hanya saja Pemerintah seperti ketakutan sendiri, sehingga menggunakan segala jurus perlawanan untuk membendung gerakan ummat Islam. Termasuk di antaranya melakukan intimidasi dan kriminalisasi terhadap banyak simpul simpul massa Islam.

Setidaknya saya mengikuti lima kali pertemuan yang membicarakan keinginan para Ulama untuk bertemu Presiden, demi membincangkan berbagai persoalan kebangsaan. Karena sejak awal pemerintahan Jokowi berbagai potensi ancaman keutuhan Bangsa begitu mengemuka. Saling curiga, saling tuduh-tuding, berbagai provokasi dan hasutan seakan tiada henti memenuhi ruang dengar dan pandang kita.

Konyolnya, penguasa sendiri menggunakan isyu tersebut untuk terus menggebuk lawan lawan politiknya. Tanpa pernah ada upaya kongkrit yang benar-benar terukur untuk menyudahi kegaduhan. Klaim sebagai paling Pancasila, paling Indonesia, paling cinta NKRI da paling-paling lainnya, justru semakin kontradiktif untuk mewujudkan kesepahaman. Damai tak tercapai, tapi gaduh semakin riuh!

Saya bersaksi bahwa rembug kebangsaan, atau dalam istilah KH. Ma’ruf Amin, Dialog Nasional adalah keinginan Habib Rizieq sejak awal. Sebelum berbagai fitnah menjerat beliau sebagai tersangka. Jadi keinginan rembug kebangsaan ini adalah keinginan baik yang serius diinginkan dan diupayakan oleh Habib melalui berbagai saluran yang bisa mengakses Presiden.

Namun, Jokowi hanya menyerap ide tersebut tanpa pernah tulus ingin merealisasikannya. Sehingga kemudian beliau mengutus orang-orangnya untuk menggagas pertemuan Ulama, tapi minus tokoh tokoh GNPF. Ada yang terwujud, banyak juga yang gagal.

Di antara yang gagal, adalah ketika Menteri Pratikno ingin mempertemukan Presiden dengan ulama sebelum Aksi 212. Termasuk juga rencana pertemuan yang dijembatani Menteri Wiranto setelah Aksi 212. Namun, rencana rencana pertemuan tersebut gagal, karena pertemuan tersebut diniatkan tidak melibatkan para tokoh GNPF-MUI, termasuk HRS di dalamnya.

Jadi, sebelum sampai pada Rembug Kebangsaan yang dimaksud, seyogyanya memang harus ada pertemuan pertemuan permulaan antara berbagai unsur terkait. GNPF-MUI yang awalnya sebenarnya hanya menginginkan Ahok dipenjara atas kejahatannya yang telah menista Islam, akhirnya harus dihadapkan pada kenyataan yang sebenarnya lebih serius dari sekedar masalah seorang Ahok.

Ada suatu kekuatan yang taring dan kukunya telah siap mencabik persatuan kita. Taring taring dan kuku ini mirisnya ikutan diasah oleh sebagaian anak Bangsa, yang entah atas kompensasi apa, sehingga mereka tega menggadaikan bangsa dan negaranya.

Bagi sebagian orang mungkin kekuatan tersebut seperti kentut, yang tercium baunya tanpa pernah tampak wujudnya.
Kekuatan inilah yang pernah datang kepada Habib Rizieq, membawa triliunan uang yang diiming-imingkan kepada Habib asal beliau bersedia menghentikan perjuangannya.

Bukan hanya uang, Habib juga dijanjikan untuk dibersihkan dari semua fitnahan yang menusuk-nusuk beliau. Namun Habib bergeming, beliau tidak akan pernah menukar integritasnya dengan uang dan keselamatan diri sendiri, sementara Ummat dan Bangsa akan jadi mangsa.

Walau sebenarnya telah tahu bahwa kekuatan tersebut sedang memperalat penguasa saat ini untuk mewujudkan keinginan mereka, tapi HRS – GNPF-MUI tetap berupaya menyadarkan Presiden Jokowi dan orang orang yang masih bisa diajak ngomong di lingkaran Pemerintah untuk menyadari ancaman ini.

Tak kurang tokoh seperti KH. Ma’ruf Amin, Hidayat Nur Wahid, Rokhmin Dahuri dan bahkan Haryanto Taslam telah menjadi fasilitator rencana tersebut. Rokhmin dan Haryanto bahkan sudah bertemu dengan Habib Rizieq di Mega Mendung untuk membicarakan rencana pertemuan permulaan antara HRS dan Jokowi, HRS dan Megawati. Kenapa Megawati? Iya dong, sebab bagaimana pun, Jokowi dan Megawati tidak akan pernah bisa dipisahkan satu sama lain.

Berbagai kesepakatan awal sebenarnya telah disepakati. Namun semuanya bubar, sehingga terjadilah apa yang terjadi sekarang. Dialog yang dimaksud tidak terwujud. Berbagai tokoh ditangkapi. Ada yang dibidik jadi tersangka dan ada yang sudah jadi tersangka. Hukum menjadi alat kekuasaan untuk melawan musuh politik.

Tiada pilihan lain, kecuali melawan! Termasuk belum bersedianya Habib Rizieq untuk pulang, adalah sebagai bentuk perlawananan. Jadi, bukan takut. Catat! HRS tidak pernah gentar menghadapi Polisi, Kejaksaan, Pengadilan dan penjara! Beliau sudah dua kali dipenjara. Dan itu biasa saja bagi beliau. Resiko perjuangan.

Pemerintah melalui kepolisian terus melakukan upaya amputasi terhadap perjuangan ulama. Namun, Pemerintah mungkin tak pernah mengira sebelumnya, bahwa pengerdilan yang mereka lakukan akan mendapatkan perlawanan sengit.

Habib Rizieq jadi tersangka, tak jua kunjung bisa diseret ke penjara. Para pendukung Habib pun tak henti melawan, baik secara hukum dan opini. Amien Rais dibidik, para pendukung mantan Ketua MPR dan Ketum Muhammadiyah ini mengamuk.

Pengasuh Pondok Pesantren Gontor, KH. Hasan Abdullah Sahal dibidik, keluarga besar Gontor berang. Sehingga karena itulah mungkin Jokowi dan para ring satunya akhirnya mulai berpikir ulang. Maka kemudian terjadilah pertemuan Presiden dan tokoh tokoh GNPF-MUI pada 1 Syawwal yang lalu.

Semoga pertemuan tersebut tidak hanya dijadikan penguasa untuk sejenak rehat, mengatur siasat baru untuk menghabisi Islam Politis, Islam Kritis. Karena bagaimana pun, kita harus tetap bersama mewujudkan Indonesia sejahtera, beradab dan berkeadilan. (*)

*Penulis adalah Kawulo di Pondok Pesantren Babul Khairat Lawang-Purwosari, Jawa Timur

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita